
Happy reading
Malam harinya, Gloria yang sudah berada dirumah itu merasa ada yang tak beres dengan perutnya.
"Duhh kek mules tapi gak mau pup, kenapa lagi ini?" tanyanya mondar mandir di depan pintu kamar mandinya.
"Ahh bodolah sama perut, gue mau tidur," ucapnya berlalu menaiki kasurnya dan menarik selimutnya.
"Ashhh gak bisa tidur, apa gara gara bakso tadi ya?" tanyanya. Gloria merungkuk dengan selimut yang sudah menutup tubuhnya.
Drrttt
"Siapasih ganggu aja!!"
"Dia lagi, dia lagi.... Kenapa gak sekali-kali Zain gitu telepon gue, apalagi video call," gerutu Gloria sedikit kesal.
"Hmm"
"Kenapa lu? Kayak lemes gitu?"
"Pwrut gue sakit," lirihnya seraya meletakkan ponselnya dibantal dan menghadap kewajahnya.
"Aku ke sana ta, kita ke rumah sakit," panik Arthur yang membuat Gloria ingin tertawa.
"Gue gak apa-apa paling gara-gara tadi makan bakso," jawabnya menatap wajah pria yang tadi mengajaknya jalan.
"Lain kali kamu gak boleh makan pedas. Apalagi sampai kayak tadi," ucap Arthur posesif pada sang pacar.
"Dih siapa lu ngatur-ngatur gue?" tanya Gloria sedikit geli saat mendengar ucapan posesif dari Arthur.
"Lu pacar gue sekarang, dan akan selalu begitu sampai gue putusin lu," jawabnya.
"Lu egois."
Deg
Apa iya dirinya egois? Apa selama ini Gloria tertekan karena menjadi pacarnya dan menjadi pemuas nafsunya.
"Maaf," lirihnya menatap manik indah itu dari layar ponselnya.
Gloria hanya mengangguk, ia berusaha ikhlas atas apa yang terjadi walau dalam hatinya sakut mengingat jika kesuciannya telah hilang.
"Gak apa-apa, aku paham. Lagian semua ini bukan sepenuhnya salah kamu kok asshh," jawab Gloria yang tiba-tiba meringis, hal itu cukup membuat Arthur khawatir.
"Aku kesana, dan kita ke rumah sakit," ucapnya yang sudah bangun dari duduknya itu.
__ADS_1
"Aku cuma mau tidur Ar, besok juga sudah mendingan," ucapnya dengan lirih.
"Yakin?" tanya Arthur dan diangguki oleh Gloria.
Mau tak mau Arthur pasrah dan hanya bisa melihat Gloria yang membelakangi layar ponsel itu.
"Semoga kamu cepat sembuh," ucapnya.
Gloria yang berusaha menahan rasa sakit diperutnya itu akhirnya tertidur dengan ponsel yang masih menyala.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sakit yang semalam terasa sangat nylekit pagi ini sudah mulai mendingan walau masih terasa kadang timbul kadang hilang. Gloria sudah rapi dengan seragam sekolahnya.
Setelah merapikan rambut cokelatnya Gloria mengambil tas sekolahnya dan turun dari kamar menuju ruang makan dan ternyata disana sudah ada Arthur yang sedang berbincang dengan Ibu Riska.
"Kok udah disini?" tanya Gloria pada Arthur.
"Sengaja!! Kamu sudah sembuh?" tanya Arthur yang dijawab anggukkan dan gelengan oleh Gloria.
"Emang kamu sakit apa nak? Kenapa ibu gak tahu?" tanya Bu Riksa pada anak semata wayangnya dengan suami tercinta itu.
"Sakit perut biasa bu, mual tapi gak muntah, mules tak gak mau buang air juga. Entahlah bingung," jawabnya.
"Hamil," batin keduanya dengan saling tatap.
"Tapi gak mungkin kalau kamu hamil, kalian gak lakuin yang enggak enggak kan?" tanya Bu Riska yang dijawab gelengan pelan oleh keduanya.
"Kamu makan apa semalam?" tanya Bu Riska pada Gloria.
"Bakso beranak bu," jawabnya.
"Pedas?" tanyanya lagi dan dianggukkan oleh Gloria.
"Mungkin karena itu kamu sakit perut, banyak banyak minum air putih bisa menetralisir sakit perut kamu."
Bu Riska menuangkan air putih kegelas Gloria dan langsung diminum oleh Gloria.
Mereka melanjutkan sarapan mereka, hingga jam menunjukkan pukul 6.25. Bu Riska harus bekerja sedangkan Gloria juga harus sekolah.
"Ibu hati-hati ya!!" Gloria dan Arthur mencium tangan Bu Riska.
"Iya sayang, kalian juga hati-hati ya. Belajar yabg bener, banggain orang tua," pesan Bu Riska pada anak dan pacar anaknya.
Bu Riska tak melarang putrinya untuk berpacaran selagi Gloria bisa menjaga sikap karena Gloria sudah dewasa usia 17 tahun bukan lagi umur untuk bermain-main. Gloria sudah bisa memeilih mana yang baik dan mana yang buruk.
__ADS_1
"Siap bu/ tan," jawab keduanya.
Bu Riska masuk kedalam mobilnya begitupun dengan Gloria yang masuk kedalam mobil Arthur. Mereka bersama menjalankan mobilnya menuju tempat masing.
Arthur maupun Gloria sama-sama diam di dalam mobil itu,mereka masih memikirkan jika benar Gloria hamil apa yang akan terjadi.
Gloria memegang perut ratanya. Apa mungkin di dalam sana ada janin seperti yang diucapkan ibunya tadi.
"Semua akan baik-baik aja Ria, jangan khawatir oke," ujar Arthur menggenggam tangan Gloria.
"Aku takut jika benar aku hamil Ar. Bagaimana nasib anak kita nanti? Kalau iya kamu mau tanggung jawab kalau enggak?"
"Gak kok sayang percaya samaaku kamu belum hamil untuk sekarang," jujur dalam hati ia juga resah. Bagaimana jika Gloria hamil dan kedua orang tuanya tahu.
"Kalau aku benar hamil gimana?" tanya Gloria menatap Arthur.
"Aku akan nikahi kamu," jawabnya mantap.
"Tapi aku masih sekolah Ar," ujarnya.
"Terus kamu mau aborsi anak yang tak berdosa ini? Kamu akan menjadi ibu paling jahat jika sampai itu terjadi," ujar Arthur sedikit kesal. Sebrengsek-brengseknya dia tak ada kepikiran untuk membunuh darah dagingnya sendiri.
Gloria terdiam ia hanya bisa berdo'a supaya ia tak hamil untuk sekarang, usianya masih muda ia belum siap untuk mengurus bayi.
Tiba-tiba sakit diperutnya kembali muncul, Gloria memegabg perutnya seraya meringis menahan sakit. Arthur yang melihat itu ikut khawatir.
"Ar... Sakit," lirihnya dengan perlahan kesadaran Gloria menghilang.
"Honey..." Arthur mengambil minyak kayu putih dan mengucapkannya sedikit ke hidung Gloria tapi Gloria tak kunjung bangun.
Arthur memposisikan tubuh Gloria agar nyaman, ia menjalankan kembali mobilnya menuju rumah sakit dengan kecepatan penuh.
Tangannya terulur keperut Gloria, ia mengusap sebentar perut itu dan berkata.
"Jika benar kamu ada di dalam sana tolong jangan buat ibumu menderita."
"Maaf jika kehadiranmu berawal dari kesalahan."
Bersambung
📌Stuck Marriage (On going) Kisah Anak Gloria dan Arthur.
Jangan lupa like + komen + vote dan masukkan ke daftar favorit kalian ya. Share juga novel ini ya. Makasih😊😊😊
Mohon maaf jika banyak PUEBI yang salah dan banyak typo. Author masih belajar soalnya.🙏🙏
__ADS_1