Nafsu Atau Cinta

Nafsu Atau Cinta
Kelahiran


__ADS_3

Happy reading


"Ahh ayang berhenti dulu," ringis Gloria saat merasa perutnya sedikit sakit itu.


Arthur yang masih berada di atas Gloria itu menghentikan acuannya dan melihat dan istri yang mengeluarkan keringat dari pelipisnya itu.


Arthur bingung apa ia terlalu kuat melakukannya hingga sang istri meringis kesakitan seperti ini.


Walau kepuasannya belum terpenuhi Arthur tetap melepaskan terongnya dari milik sang istri.


"Ayang sakit hiks hiks," tangis nya dengan pilu. Gloria memegang perutnya.


"Honey kamu mau melahirkan? Sebentar aku ambil daster kamu dulu," ujarnya dengan tergesa.


Arthur langsung memakai boxer dan celananya, ia juga mengambil daster sang istri karena ia tak mau memperlihatkan tubuh sang istri begitu saja pada orang lain.


Setelah semua siap Arthur membawa sang istri ke rumah sakit. Ia sudah menitipkan pesan pada sang pembantunya jika Gloria ingin melahirkan. Karena jam segini pasti Mama dan Papanya sudah tidur.


"Hiks hiks Ay anakmu mau keluar ahh sakit," ringis nya dengan mengelus perut besarnya.


"Honey yang tenang, kita hampir sampai kok."


"Anak Papi kalau mau keluar jangan nyusahin Mami ya, nanti susu kamu Papi ambil loh, jadi jangan buat Mami sakit," ujarnya seraya mengelus perut besar itu dengan lembut.


Gloria yang mendengar itu tersenyum geli tapi ia juga meringis sakit di perutnya. Bisa bisanya disaat seperti ini Arthur memikirkan susunya. Astaga semoga anaknya nanti tak semesum Papi nya.


Arthur menatap istrinya dan mengecup kening Gloria dengan lembut.

__ADS_1


Akhirnya setelah beberapa menit dalam perjalanan yang membuat was was Arthur, mereka sampai rumah sakit.


Para perawat langsung menyiapkan brangkat untuk tuan mudanya. Gloria langsung dibawa keriangan bersalin oleh mereka.


"Masih pembukaan 9 ya bu, jadi tunggu sampai pembukaan penuh," ujar sang dokter memeriksa jalan keluar sang bayi.


"Tapi ini sakit dok, saya gak kuat," teriaknya.


Arthur yang mendengar itu langsung mengecup kening dan bibir itu bergantian. Agar istrinya bisa tenang. Perawat dan dokter disana yang melihat apa yang dilakukan tuannya itu tersenyum geli tapi juga iri akan ini.


Arthur diusianya yang menginjak 21 tahun, kini harus dihadapkan dengan istrinya yang berjuang ingin mengeluarkan bayinya dari dalam perut. Arthur melihat istrinya yang berteriak sakit itu jadi teringat ibunya.


"Mama maafin Arthur jika selama ini selalu menyusahkan Mama, bahkan Arthur pernah berprasangka buruk dengan Mama dan Papa," batinnya seraya mengelus perut besar itu.


"Pembukaan lengkap, ikuti aba aba saya ya bu," ujar sang dokter.


Gloria mengangguk dan mengikuti apa yang diarahkan sang dokter. Mulai dari menarik nafas dan mengejan tanpa henti.


Oekk


"Huh."


Akhirnya bayi laki-laki itu lahir tanpa cacat, dokter langsung meletakkan bayi merah itu diatas dada Gloria.


"Anak kita Ay," ucapnya lirih.


"Iya honey, anak kita."

__ADS_1


Gloria tersenyum benar apa yang dikatakan ibunya, rasa sakit yang ia terima akan hilang setelah melihat wajah anaknya lahir.


Tak berbeda jauh dari Gloria yang bahagia dengan adanya bayi ini. Arthur pun merasakan demikian, ia menatap wajah putranya yang hampir mirip dengan dirinya itu dengan senyum.


"Anak Papi udah lihat dunia hmm."


Arthur mengusap air matanya dan mengelus pipi yang masih merah itu.


Setelah itu dokter mengambil kembali putra mereka untuk dibersihkan. Sedangkan sang dokter membersihkan sisa sisa yang masih tertinggal di dalam rahim Gloria.


"Selamat atas kelahiran putra pertamanya ya tuan, nyonya."


"Terima kasih dok," ujar mereka berdua dan diangguki oleh sang dokter.


Gloria dipindahkan ke ruang rawat bersama bayinya, pukul dua malam putra mereka lahir dan Gloria tak bisa lepas melihat putranya itu.


"Dia sangat tampan, aku tak menyangka diusiaku yang baru 19 tahun akan memiliki bayi setampan ini."


"Aku juga tak menyangka jika kita sudah menjadi orang tua," balas sang suami.


Cups


"Terima kasih sudah mau berjuang untuk anak kita. Aku mencintaimu honey," ujarnya dengan lembut.


"Kita juga sayang Papi," balas Gloria dengan senyum.


"Papi juga mencintaimu nak," ujar Arthur mengecup kening putranya yang tertidur.

__ADS_1


Sang putra yang tidurnya terganggu itu mengeliat dengan menggerakkan bibirnya hingga membuat mereka gemas.


Bersambung


__ADS_2