Nafsu Atau Cinta

Nafsu Atau Cinta
Membuktikan apa itu cinta


__ADS_3

Happy reading


Tak terasa malam yang pekat berganti pagi. Bu Riska yang terlebih dulu langsung tersenyum saat melihat siapa yang memeluknya pagi ini. Jika biasanya dia bangun dengan keadaan hampa, pagi ini ia bangun dengan pelukan hangat dari putrinya.


"Gorilaaaa bangun yuk udah pagi, bantuin mama bikin sarapan," ujarnya tepat ditelinga sang anak.


"Eughh, bentar Ar... Kemarin ka udah," gumamnya kembali melanjutkan tidurnya.


Bu Riska yang mendengar anaknya mengigau itu hanya menggelengkan kepalanya. Ia bangun dan membuka tirai kamarnya hingga silau keemasan itu menerpa wajah cantik Gloria.


"Eughhh."


Gloria terbangun dan menatal sisi ranjangnya ternyata ibunya sudah tak ada. Dengan langkah gontai ia berjalan menuju kamar mandi untuk mencuci mukanya.


Setelah selesai mencuci wajahnya, Gloria berlalu menuju dapur. Dan terlihat ibunya sedang memotong wortel.


"Masak apa bu?" tanya Gloria.


"Sup, mau bantu?" tanya Ibu Riska dan diangguki oleh Gloria.


Mereka memasak bersama sesekali canda terdengar dari keduanya, hingga masakan mereka matang.


"Bu, Glo ke kamar dulu ya."


Gloria berlalu menuju kamarnya karena sudah pukul 6 lebih, Gloria mandi dan bersiap untuk sekolah.


"Kenapa sih lu itu cantik banget?" tanya Gloria menatap pantulan dirinya dari cermin itu.


"Hahaha narsis bat ya gue," gumamnya mengoleskan lip blam kebibirnya.


Setelah selesai Gloria keluar dari kamar menuju ruang makan dan ternyata disana sudah ada Arthur yang stay dimeja makan.


"Kebiasaan deh, orang belum turun kamu udah nangkring disini," sindir Gloria pada Arthur yang hanya tersenyum.


"Gak apa-apa 'kan calon suami lu."


"Masih calon ya belum jadi beneran."


Tak lama perdebatan itu, Bu Riska sudah keluar dari kamar dengan pakaian rapinya. Maklumlah, Bu Riska adalah manager.


Sudah tak ada kecanggungan lagi sekarang. Arthur sudah menjelaskan semuanya kemarin dengan Bu Riska tanpa sepengetahuan Gloria.


"Tan... Nanti malam bersiap ya. Mama Papa bakal kesini," ujar Arthur dan diangguki oleh Bu Riska.


"Ibu tunggu," jawabnya.


"Sekali lagi maafin Arthur ya tan," ucapnya bersalah.


"Jangan panggil tante lagi atau kamu gak akan pernah bisa dapat restu saya," ucaonya formal.


"Iya bu."

__ADS_1


Setelah menyelesaikan sarapan mereka. Mereka menuju tujuan masing-masing, Arthur dan Gloria kesekolah sedangkan Bu Riska ke kantor.


Dalam mobil itu hanya ada keheningan, Arthurpun yang biasanya ciriwis kini diam seakan kehilangan topik pembicaraan.


"EHEM," dehem Arthur.


"Paan?"


"Pulang sekolah nanti ikut gue ya," ajaknya.


"Kemana?"


"Mall."


"Ngapain? Lu mau belanja?" tanya Gloria. Entah kenapa sejak kemarin logat lu-gue balik lagi.


"Bukan gue tapi lu," jawabnya.


"Kenapa gue? Dih gue gak suka belanja ya. Jangan mall lah, kemana gitu. Pokoknya jangan ke mall," tolaknya.


"Gak pokoknya ke mall," titahnya dan dianggukkan oleh Gloria.


Gloria yang sedang sedang termenung itu seketika ingat apa yang dikatakan ibunya tadi malam.


"Ar," panggil Gloria.


"Apa?"


Arthur yang mendapat pertanyaam itu seketika menghentikan mobilnya dipinggir jalan yang lumayan sepi.


"Kenapa tanya gitu?"


"Ya tanya aja, emang gak boleh?" tanya Gloria memalingkan wajahnya.


"Boleh kok. Gue cinta sama lu, bahkan tanpa gue jawab pasti lu sudah tahu. Karena gue juga sudah sering bilang ini sama lu," jawabnya.


"Apa karena lu yang pertama buka segel gue makanya lu cinta sama gue?" tanyanya tak yakin.


"Emm mungkin itu salah satunya. Uang buat gue menyukai lu itu banyak Ria, salah satunya sifat lu yang keibuan. Dan yah satu lagi cinta gak perlu alasan 'kan?"


"Heem bener sih."


"Jadi dulu kalau gue udah gak perawan lu gak bakal cinta sama gue?"


"Tergantung Honey," jawabnya dengan gemas akan pertanyaan pacarnya.


"Hah!! Tergantung gimana?"


"Tergantung aku sreg gak sama kamu, tapi sejak pertama aku lihat kamu mabuk di bar saat itu aku tertarik denganmu dan yah sekarang aku mencintaimu," jawabnya bangga.


Gloria yang mendengar itu cukup membuatnya bersemu. Jantungnya berdetak dengan kencang.

__ADS_1


"Inikah yang dinamakan cinta?" tanya Gloria dalam hati.


Gloria yang belum yakin itu mulai membuka sabuk pengamannya dan memajukan tubuhnya untuk memeluk Arthur.


"Sebentar ya Ar, aku butuh membuktikan sesuatu," ucapnya memeluk tubuh Arthur yang langsung dibalas dengan erat pelukan itu.


"Membuktikan apa hmm? Gak biasanya kamu peluk aku?"


"Cinta," jawabnya dengan lirih.


"Cinta? Kamu cinta sama aku?" tanya Arthur menatap mata pacarnya.


"Gak tahu aku belum bisa jawab sekarang," jawabnya dengan pelan ia masih ragu dengan perasaanya sendiri.


"Hufftt aku tak memaksa kamu, tapi yang pasti aku mencintaimu."


"Terima kasih."


"Udah lanjut jalan ya, nanti kamu telat lagi."


Arthur kembali melajukan mobilnya menuju sekolah Gloria. Gloria yang merasa mobil sudah bergerak itu malah menyandarkan kepalanya dipundak Arthur.


"Jangan nikah dulu ya Ar, aku belum siap," ujarnya.


"Aku terserah orang tua aja, tapi pengennya sih cepet nikah," jawabnya dengan senyum.


"Ihh aku belum siap hamil, lagian ya tunggu sku lulus dulu napa?"


"Kalau punya anak kita bisa tunda dulu, sampai kita bener-bener siap."


"Bener ya?"


"Heem sayang," jawabnya seraya mengecup kening Gloria.


Sampailah mereka disekolah Gloria. Seperti biasa Arthur selalu mengecup kening dan bibir Gloria dengan lembut dan hal itu tentu dibalas oleh Gloria.


"Sekolah yang bener. Jangan nakal. Aku cinta kamu," ujarnya dengan senyum.


"Gombal deh, aku masuk dulu ya," ujarnya memberi kiss bye untuk terakhir kalinya. Dan keluar dari mobil itu.


Arthur yang melihat itu hanya tersenyum gemas, pacarnya itu selalu bisa membuatnya semangat pagi hari.


Setelah melihat pacarnya masuk, Arthurpun menjalankan mobilnya menuju kampusnya. Keperluan untuk lamaran sudah diatur oleh orang tuanya. Jadi ia hanya menyiapkan cincin saja.


Bersambung


JANGAN LUPA LIKE DAN KOMENNYA YA!!


Menurut kalian cinta tu apa?


📌Stuck Marriage (End) Kisah Anak Gloria dan Arthur

__ADS_1


__ADS_2