
Happy reading
Berbeda dengan Gloria yang sedang beradu dengan otaknya, di rumah sakit Arthur harus beradu dengan kesalnya saat melihat ada dua orang bermesraan tak tahu tempat ini.
Bagaimana tidak sedari tadi Nathan dan Nabila tambah henti berciuman yang membuat Arthur kesal adalah istrinya masih ada di sekolah tak mungkin ia menyuruh Gloria untuk kembali ke rumah sakit.
"Kalian bisa sewa hotel aja gak, sepet mata gue lihat kalian," ujar Arthur yang membuat kedua orang ini tersenyum santai.
"Iri lu?"
"Dih, gue bahkan lebih daripada lu ya," jawab Arthur.
Nabila menghentikan apa yang akan dilakukan Nathan. Hubungannya sudah semakin jauh dengan pria yang statusnya keponakan ini.
"Bil..."
"Lanjut nanti, kasihan si kulkas gak ada pawang," ucap Nabila dengan lembut.
Arthur yang melihat itu tersenyum ternyata masih punya hati juga sahabatnya ini. Tak ingin coblos mencoblos di ruangan ini.
"Bagus mending kalian pulang, gue lebih baik sendiri daripada sama kalian yang berbuat mesum dimana mana," usir Arthur pada kedua orang ini.
"Astaga kau ini, begitu saja marah. Kita di tugaskan untuk menemanimu sampai istrimu pulang. Lagian kalau bukan karena permintaan Gloria mungkin tadi kita sudah ngamar," jawab Natal absurd.
"Ya ya ya, aku bisa mengatakan itu pada Gloria nanti. Daripada darah tinggiku naik gara gara kalian," ujarnya dengan ketus. Arthur mengambil ponselnya.
Ia ingin menghubungi Gloria tapi selama ujian tak boleh membawa ponsel. Sedih hati Arthur, ia merindukan istri cantiknya. Baru 4 jam mereka berpisah hingga membuat pria 19 tahun ini seperti tak punya kekuatan untuk hidup.
Tak terasa jam sudah menunjukkan pukul 2 siang, Nathan dan Nabila sudah pulang jam 11 tadi karena ada tugas mendadak. Arthur yang bosan meminta suster untuk membawanya ke taman rumah sakit.
"Kau boleh tinggalkan aku," usir Arthur pada perawat itu.
"Baik tuan, kalau ada apa apa anda boleh memanggil saya," ucapnya dengan senyum.
"Andai belum punya bini, udah gue sikat deh lu. Cewek mana yang gak demen sama lu bang, astaga. Tapi gue juga sadar diri, istrinya cantik dan seksi bat walau masih SMA," batin perawat itu meninggalkan Arthur disana.
Kini tinggallah Arthur dan beberapa anak kecil yang sedang bermain disana.
Grep
__ADS_1
"Lagi apa disini?" tanya Gloria yang memeluk suaminya dari belakang.
"Udah pulang hmmm?"
"Nih buktinya aku sudah ada di rumah sakit, sama kamu," jawabnya dengan senyum.
"Sini duduk," ujarnya.
Gloria mengangguk dan duduk dikursi itu, Gloria memegang tangan Arthur dan memijatnya pelan . Entahlah ia suka sekali dengan tangan ini.
"Gimana ujiannya?" tanya Arthur pada Gloria.
"Biasa aja, ya kayak ujian pada umumnya gak ada yang serius gak sepenuhnya jujur. Emm mungkin yang jujur hanya Adel."
"Siapa Adel?"
"Teman sekelas juga, tapi dia anak-anak pintar. Selalu ikut olimpiade dan disayang guru guru. Aku mah apa, seujung kukunya pun aku gak ada hahahaha."
"Stttt jangan ngomong gitu, kamu istimewa. Jangan samakan kamu dengan orang lain. Karena setiap orang itu memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing," ujar Arthur menarik tangan sang istri dan mengecupnya.
Arthur gak suka istrinya merendah seperti itu, baginya Gloria adalah wanita paling istimewa. Ia tak mau istrinya merendahkan diri dan juga ia tak mau istrinya di rendahkan oleh orang lain.
"Iya ayang, makasih udah mau terima aku apa adanya. Walaupun pertemuan kita sangat tidak baik dan tidak memiliki kesan tersendiri," ujar Gloria.
Kini orang yang merenggut keperawanannya sudah menjadi suaminya yang sangat menyayanginya.
"Hei honey, kenapa bengong hmm?" tanya Arthur menyentil kening Gloria yang sedang melamun.
"Hehehe enggak kok, panas nih yuk ke kamar lagi."
Arthur mengangguk dengan senyum ia yakin istrinya pasti membayangkan saat pertama mereka bertemu. Karena baru saja Gloria mengatakan jika pertemuan mereka sangat tak berkesan.
Gloria mendorong kursi roda itu menuju kamar rawat Arthur lagi, Arthur naik ke kasur.
"Honey."
"Ya ay kenapa? Kamu laper atau haus?"
"Aku mau pulang!!"
__ADS_1
"Lah kenapa? Kamu belum sembuh loh. Kaki kamu aja masih dalam tahap pemulihan."
"Tapi aku bosen disini Honey, kalau dirumah kan aku bisa santai. Lagian kakiku sudah mendingan."
"Nanti kalau gipsnya mau di ganti atau dilepas kita bisa panggil dokter kan?"
"Iya sih tapi aku gak bisa sepenuhnya jaga kamu ayang, gimana?"
"Di rumah kan banyak pelayan mama juga dirumah."
Belum juga menjawab, pintu kamar itu diketuk dan ternyata itu adalah Bu Riska yang datang membawa buah buahan segar itu.
Gloria mencium punggung tangan ibunya begitu juga Arthur.
"Gimana keadaan kamu nak?" tanya Bu Riska pada menantunya.
"Sudah mendingan bu, cuma nunggu kakinya pulih. Mantu ibu kan strong," jawabnya dengan senyum mengembang bak adonan kelebihan fernipan.
"Syukurlah kalau begitu, ibu dengar kamu sakit aja dari mama kamu. Istri kamu gak bilang kalau kamu dirawat disini."
"Aku yang nyuruh bu, aku takut ibu cemas karena ibu kan sayang banget sama aku," ujar Arthur dengan percaya diri.
"Terserah kamu deh, aku bagai anak tiri disini," sedih Gloria duduk di sofa itu. Yah, setelah menikah dengan Arthur ibu lebih perhatian pada mantunya daripada anaknya.
"Sebenarnya anak ibu itu siapa sih?" tanya Gloria dengan cemberut.
"Anak ibu sama ayah dong, emang kamu mau anaknya gelandang hmm? Kan kamu udah mendapat kasih sayang ibu dari kecil sekarang gantian dengan Arthur," ujar ibu Riska dengan senyum.
"Ibu mah gitu. Gak sayang anak."
Hahahahahah
Tawa keduanya pecah saat melihat sang putri merujuk seperti ini, Arthur yang melihat itu tak bisa menghentikan tawanya.
"Dasar ya, aku ngambek nih."
"Udah ya sayang jangan kayak anak kecil, sini sini. Kita main bareng," ajak ibu membawa anaknya agar duduk diranjang.
"Gloria tetap anak ibu, ibu sayang sama Gloria. Jangan ngambek gitu ih gak pantes sayang," ujar Ibu Riska mengecup kening putrinya.
__ADS_1
Akhirnya Gloria kembali tersenyum sebenarnya ia hanya bercanda tadi tapi malah kebawa perasaan hingga air matanya menetes.
Bersambung