
Happy reading
Keesokan harinya.
Seperti biasa Gloria sudah siap dengan seragam sekolahnya. Tapi pikirannya terus mengatah pada laki-laki yang notabenya adalah pacarnya. Gloria khawatir karena Arthur tak biasanya tak membalas pesan dan juga tak meneleponnya. Karena biasanya Arthur tak akan pernah lupa untuk meneleponnya. Bahkan, pernah Arthur sampai puluhan kali meneleponnya gara-gara Gloria ketiduran.
"Bu, Gloria pamit berangkat ya," ucap Gloria mencium tangan ibunya.
"Iya sayang, gak sama ibu aja? Arthur juga belum sampai sini!"
"Arthur gak jemput aku bu, sibuk dia," jawab Gloria dengan bohong.
"Oh bener nih gak mau bareng ibu aja?" tanya Bu Riska pada anaknya yang lebih memilik ojek agar cepat sampai ke sekolahan.
"Kalau begitu ibu duluan," ucap Ibu Riska mencium kening putrinya dan masuk kedalam mobil.
Tak lama setelah mobil ibunya tak terlihat, ojeknya datang tanpa basa basi Gloria langsung naik ke motor itu.
"Ke jalan XXX ya pak," ujar Gloria pada pak ojek.
"Loh bukannya ke sekolah ya neng?" tanya Bapak itu.
"Enggak pak, gak papa kan?" tanya Gloria.
"Gak apa-apa neng, tapi disana bukannya wilayah apartemen elit ya non. Ngapain non mau kesana?" tanya bapak itu kepo.
"Jenguk temen pak," jawabnya bohong.
Hingga sampainya ojek itu didepan apartemen elit dengan lantai 13 itu. Bapak ojek yang melihat apartemen itu hanya menggelengkan kepalanya. Mewah banget ini apartemen yak begitulah isi kepala bapak itu.
"Makasih ya pak," ucap Gloria seraya memberikan ongkos untuk pak ojek.
"Sama-sama neng," jawabnya.
Gloria berlalu menuju apartemen itu dan tujuan utamanya adalah kamar prianya. Yang sudah membuatnya khawatir dari kemarin. Apalagi Arthur pernah jatuh saat balapan.
Ceklek.
Gloria membuka pintu apartemen itu dan melihat ruang tamu yang terasa dingin seperti tak berpenghuni.
Dengan cepat Gloria berlari menuju kamar Arthur yang dulu pernah mereka gunakan untuk ehemm.
"Arthur," pekiknya.
__ADS_1
Saat Gloria melihat tubuh Arthur mengigil diatas kasur. Bibir yang selalu menciumnya itu kini membiru apalagi AC yang masih menyala.
"Ria," lirihnya menatap wanitanya.
"Kamu kenapa sih hah, kalau sakit itu bilang. Di chat gak dibalas. Dan kamu ini AC dihidupin terus," cerocos Gloria mematikan AC kamar itu.
Arthur yang melihat itu hanya tersenyum tipis, ternyata Gloria mengkhawatirkannya sampai begini walau ia cewek yang bodo amat dengan apa yang terjadi.
"Aku gak apa-apa!"
"Gak apa-apa gimana? Kamu sakit gini, lihat bibir kamu sampai biru gitu, apalagi badan kamu. Arhhh kenapa kamu gak bilang!"
Gloria ingin keluar mengambil kompres itu ditahan oleh Arthur, "Aku masih kesel sama kamu," jawabnya.
"Isshhhh kesel sama aku tapi kalau begini gimana hah. Kamu tuh."
Geram Gloria berlalu menuju dapur dan mengambil air hangat dan sapu tangan yang ada disana. Tak lama Gloria kembali ke kamar itu.
"Dari kapan kamu kayak gini?" tanya Gloria.
"Malam setelah anterin kamu," jawabnya lemas.
"Jadi saat itu kamu udah sakit? Kenapa gak bilang sama aku sih. Kamu udah gak anggap aku pacar kamu hah."
Dengan air mata yang sudah mengalir itu Gloria mencelupkan kebaskom yang berisi air hangat itu.
"Aku cuma kelilipan," jawabnya ketus seraya mengompres kening Arthur yang masih panas itu.
"Kamu juga belum makan kan?"
"Udah kemarin tuh."
Arthur menujuk bekas mie yang tak habis itu hal itu membuat Gloria sedih kenapa Arthur tak memberitahukan kalau dia sakit.
"Lain kali jangan begini," ucap Gloria dan dianggukkan oleh Arthur.
Arthur mengangguk dan mengusap air mata pacarnya. Setelah beberapa saat air yang ada dibaksom itu dingin.
"Kamu mau kemana?" tanya Arthur pada Gloria yang bangkit dari duduknya itu.
"Kedapur buat bubur," jawabnya yang sudah tenang dan tak sengegas tadi.
"Jangan lama."
__ADS_1
"Hmm. Tunggu ya," lembut Gloria mengelus rambut Arthur yang acak-acakan itu.
Gloria berlalu menuju dapur dan mrmbuat bubur untuk Arthur yang sedang sakit itu. Entah kenapa melihat Arthur terbaring lemah dikasur membuatnya sakit.
"Bu maafin Gloria karena udah bolos sekolah," gumamnya.
Sedangkan Arthur yang ada di dalam kamar itu tersenyum senang, bahkan saat ini hatinya berbunga-bunga.
"Aaa kau membuatku gila Ria. Oh, astaga!!"
Tak sampai 25 menit Gloria sudah kembali dengan semangkuk bubur dan air putih hangat untuk Arthur.
"Makan dulu ya," ujarnya dan diangguki oleh Arthur yang sudah duduk itu.
Suapan demi suapan Arthur terima dari Gloria, rasanya senang sekali diperhatikan begini. Bahkan ibunya terakhir merawatnya begini saat ia masih kelas 2 SMP. Seolah mendapat kasih sayangnya lagi Arthur tak akan menyia-nyiakan Gloria begitu saja.
"Enak," ucapnya setelah menghabiskan satu mangkuk bubur itu.
"Enak dong buatan calon is.." sontak Gloria menutup mulutnya.
"Emang kamu mau jadi istri aku?" tanya Arthur.
"Gak tahu," jawabnya cepat.
Arthur tersenyum geli melihat wajah memerah Gloria, ia mengambil air hangat dan meminumnya.
"Kamu gak sekolah?" tanya Arthur. Sontak Gloria melihat jam diatas nakas itu.
"Udah jam setengah delapan juga, pasti disuruh pulang sama pak satpam," jawabnya.
"Ini juga gara-gara kamu tahu, aku jadi gak masuk," lanjut Gloria menempelkan punggung tangannya kedahi Arthur.
"Masih panas ya, kita kedokter aja yuk."
"Udah mendingan kok. Tolong bantuin buka baju aku ya," pintanya dan diangguki oleh Gloria.
"Dingin loh Ar."
"Enggak kok," jawabnya dengan senyum ingin sekali ia bilang ingin dipeluk oleh gadis ini tapi gengsinya lebih dari apapun.
Bersambung
📌Stuck Marriage (On going) Kisah Anak Gloria dan Arthur.
__ADS_1
Jangan lupa like + komen + vote dan masukkan ke daftar favorit kalian ya. Share juga novel ini ya. Makasih😊😊😊
Mohon maaf jika banyak PUEBI yang salah dan banyak typo. Author masih belajar soalnya.🙏🙏