
Happy reading
Akhirnya waktu yang ditunggu pun tiba. Setelah mengantar Gloria pulang tadi, Arthur juga langsung pulang menuju mansion orang tuanya.
"Anakmu Pah yang mau lamar pujaan hatinya. Udah siap sedia dari tadi," ujar Mama Kiran setelah masuk kedalam kamar.
Tadi saat melewati ruang tamu ia melihat anaknya sudah rapi dengan baju yang sudah ia pesan kemarin.
"Dia juga anakmu Ma," elak Papa Emanuel yang tak mau disalahkan sendiri.
"Gak kerasa sudah mau punya mantu."
Ucap Mama Kirana seraya mengancingkan baju suaminya. Sedangkan Papa Emanuel menarik pinggang istrinya agar semakin mendekat kearahnya.
"Kita bisa wujudin cita-cita kita setelah ini," ujar Papa Emanuel.
"Cita-cita itu bisa kapan saja Papa sayang. Arthur masih 19 tahun, tunggulah dia sampai siap dan apa Papa gak merasa selama ini dia kekurangan kasih sayang kita?"
"Papa tahu tapi gimana lagi. Papa gak mau kehilangan Mama. 2 hari lagi Mama harus terapi lagi kan? Jadi jangan banyak pikiran ya," ujarnya pada sang istri yang hanya mengangguk.
"Kalau Mama lama sembuhnya gimana Pah?" tanya Mama Kirana pada sang suami.
"Ya Papa akan tunggu hingga waktu itu tiba dan mewujudkan segala cita-cita kita," balasnya seraya mengecup kening istrinya lembut.
Ceklek
"Mama sakit apa?" tanya Arthur yang tiba-tiba masuk ke kamar orang tuanya.
Mama Kirana dan Papa Emanuel menatap Arthur yang tiba-tiba masuk ke kamar itu.
"Eh kamu kok naik ke kamar Mama sih nak, bentar lagi kita juga bakal berangkat kok. Semua barang juga sudah siap, bentr mau tebelin lipstick dulu," ujarnya mengambil lipstick dari tasnya.
"Jawab pertanyaan Arthur, Mama sakit apa?" tanya Arthur mencekal tangan Mamanya.
"Biasalah penyakit tua sayang, jangan khawatir ya."
Dengan lembut Mama Kirana dengan mengelus pipi putranya. Putra yang selama ini tak ia pantau perkembangannya. Putra yang selama ini ia abaikan keberadaannya bahkan untuk berbicara saja mereka jarang.
"Mama bohongi Arthur kan! Arthur bukan anak 7 tahun lagi mah, bisa dengan mudahnya mempercayai ucapan Mama. Arthur sudah besar bisa membedakan mana yang bohong dan enggak dan Mama sedang berbohong!"
__ADS_1
"Hei mau lamaran kok emosi gini hmm? Mama cuma sakit biasa kamu bisa tanya Papa kamu," ujarnya melirik suaminya.
"Mama bohong! Arthur dengar Mama mau terapi, terapi apa maksudnya ma?" tanya Arthur mendesak ibunya.
"Mama gak apa-apa, ini hari bahagia kamu kan? Mama sama Papa cuma mau yang terbaik buat kamu," ujarnya dehgan lembut.
"Jawab jujur Ma," desaknya pada sang Mama.
"Jawab Pa," desak Arthur lagi pada Papanya.
Papa Emanuel menatap istrinya yang menggeleng pelan pertanda tidak boleh.
"Mungkin ini saatnya Arthur tahu mah," ujar Papa Emanuel.
"Mama gak apa-apa sayang, Papa bohong kok."
Raut wajah Mama Kirana membuat Arthur semakin yakin jika Mamanya juga Papanya.
"Jawab jujur, atau Arthur akan benci dengan kalian," ucapnya dingin.
Sudah cukup selama ini ia tak mendapat kasih sayang orang tuanya. Sekarang tak bisa.
Huftttt.
"Kamu sudah besar ya sampai ngancam mama seperti itu hmm? Arthur udah gak sayang sama mama?"
Papa Emanuel hanya bisa terdiam sekarang, ia yakin istrinya lebih berhak memberitahukan yang sebenarnya pada anak mereka.
"Jawab yang jujur ma!"
"Oke mama jawab! Mama memiliki penyakit leukimia stadium 2," jawabnya yang mulai tak betah akan desakan sang putra.
"Leukimia Mah?"
Arthur syok akan jawaban ibunya yang sangat menyakitkan ini.
"Sejak kapan?" tanya Arthur tak sadar meneteskan air matanya.
"Saat kamu masih 5 tahun Ar, awalnya Mama kamu menyepelekannya begitu saja hingga saat dimana kamu ulang tahun ke 6 tahun dia harus dilarikan ke rumah sakit? Karena kangkernya sudah mulai menyebar. Mulai saat itu kamu kami titipkan ke nenek kamu karena Papa sedang mengurus pengobatan Mama kamu. Pernah sekali Mama kamu anfal hingga membuat Papamu ini mati berdiri dan syukurlah Tuhan masih memberi kesempatan untuk kita menemanimu sampai kamu menikah," jelas Papa Emanuel yang sukses membuat Arthur menagis dalam pelukan ibunya.
__ADS_1
"Kenapa kalian tak memberi tahu Arthur? Apa Arthur sangat tidak penting untuk kalian?" tanya Arthur.
"Siapa bilang hmm? Kamu tetap Arthur kebanggaan Mama dan Papa. Mama cuma gak mau kamu khawatir, biarlah kamu berfikir Mama adalah Mama yang tak pengertian. Tapi Mama sangat bersyukur karena masih bisa melihat kamu," ujarnya.
"Mama ibu yang baik buat Arthur."
"Dan sampai sekarang Mama masih dalam menjalani pengobatan?"
"Heem, seminggu sekali Mama harus ke Singapura untuk melakukan terapi, jadi maklumin ya kalau kita jarang ada waktu buat kamu," ujar Papa Emanuel pada sang anak.
"Anak Mama gak boleh nangis dong, nanti Gloria cari yang lain loh," goda Mama Kirana menghapus air mata anaknya.
"Maafin Arthur sempat berfikir buruk sama Mama dan Papa," ujarnya pada mama dan papanya.
"Mama sama Papa juga minta maaf sama kamu, karena jarang memperhatikan kamu. Tapi yakinlah bahwa kamu juga sangat menyayangi kamu lebih dari apapun," ucap Mama Kirana dan dianggukkan oleh Papa Emanuel.
"Kamu kebanggaan Kami, belajar yang baik dan gantikan Papa diperusahaan."
"Iya pah," jawabnya.
"Hmmmm memang apa cita-cita kalian? Tadi Arthur dengar kalian memiliki cita-cita?"
HAHAHAHAHA
"Kamu memikirkan cita-cita kami hmm?"
"Ya."
"Cita-cita kami sederhana kok sayang, kami cuma mau santai dan mengelilingi dunia ini berdua, tapi untuk saat ini belum bisa karena kondisi Mama kamu," jawab Papa Emanuel mengelus pundak anaknya.
"Benar, bahkan kita sudah memiliki list untuk kemana saja," tambah Mama Kirana.
"Hanya itu?"
"Walaupun sederhana tapi itu sangat sulit kita dilakukan, mungkin penyakit mama ini menjadi ujiannya sebelum cita-cita itu terwujud," jawab Mama Kirana.
Setelah perbincangan yang cukup panjang Arthur dan keluarga dengan cepat bersiap menuju rumah Gloria atau Bu Riska.
Bersambung
__ADS_1
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMENNYA YA!!
📌Stuck Marriage (End) Kisah Anak Gloria dan Arthur