Nafsu Atau Cinta

Nafsu Atau Cinta
Satu Langkah Lagi


__ADS_3

Happy reading


"Bu mereka belum datang ya?" tanya Gloria yang swdari tadi cemas bukan main. Pasalnya ia masih saja takut jika Arthur hanya membohonginya.


"Sabar dong sayang, mungkin mereka kejebak macet," ucapnya menangkan sang putri yang dari tadi terus gelisah.


"Aku takut mereka membatalkannya bu, aku takut," ucapnya dengan lirih.


"Nah kamu mulai takut kehilangan hmm? Kemarin aja sok sok an nolak sekarang apa hmm!" goda Bu Riska pada putrinya.


"Ibu mah jangan gitu," cemberut Gloria saat digoda ibunya.


"Hahaha lain di mulut, lain juga di hati," ujarnya pada dengan tawa.


"IBU....."


"Udah ya kamu disini aja dulu, ibu mau keluar siapa tahu, keluarga Arthur sudah datang," ujarnya dan diangguki olrh Gloria.


Setelah ibunya keluar dari kamarnya ia mengambil ponselnya dan menghubungi Arthur. Berapa kali sudah ia menghubungi nomor pacarnya tapi bukannya diangkat oleh Arthur malah mbak mbak operator yang jawab.


"Kemana sih Ar, udah jam 8 kamu belum juga sampai sini," gumamnya bangun dari duduknya menuju jendela kamar itu, berharap mobil Arthur terlihat tapi nihil tak ada apapun disana.


"Aku akan dangat membencimu jika kau tak menepati janjimu Ar," ujarnya dengan sendu. Arthur berjanji jam setengah delapan semua sudah disana tapi ini bekum juga ada.


Tin! Tin! Tin!


Deg


"Itu mobilnya?" tanya Gloria dengan raut senang.


Tak lama Bu Riska kembali masuk dan memberitahukan jika Arthur dan keluarganya sudah sampai. Bu Riska mengajak Gloria untuk keluar.


Arthur yang melihat pacarnya itu tersenyum manis itu kembali menggetarkan hatinya. Gloria nampak lebih cantik sekarang, apalagi baju yang mereka kenakan memiliki warna yang sama.


"Calon mantu kita Pa," bisik Mama Kirana pada suaminya yang mengangguk.


"Papa harap dia memang jodoh Arthur ya mah," balas papa.


Bu Riska mengenalkan anaknya pada Mama Kirana dan Papa Emanuel. Dan diluar dugaan Gloria yang overthinking akan keluarga Arthur yang tak bisa menerimanya, Mama Kirana sangat wellcome pada Gloria.


"Oke seperti niat awal saya dan keluarga kemari ingin melamar anak Ibu Riska untuk anak saya Arthur, apakah dari pihak nak Gloria menerima niat baik kami?"

__ADS_1


"Semua saya serahkan pada Gloria, anak saya."


Gloria yang ditatap semua orang itu malu dan menundukkan kepalanya. Arthur yang melihat wajah malu-malu Gloria itu tersenyum gemas, andai tidak ada banyak orang mungkin sudah ia bawa ke kamar pacarnya ini.


"Bagaimana nak Gloria?"


Gloria menatap ibunya dan mengangguk.


"Glo terima lamarannya om," jawabnya.


Semua yang ada di sana tersenyum bahagia saat Gloria menerima lamaran mereka.


Setelah itu keduanya memakaikan cincin yang tadi siang dijari mereka masing-masing. Sangat cantik, tapi Gloria sedikit risih akan cincin ini.


"Terima kasih."


"Sama-sama," jawab Arthur.


"Kalian suah resmi bertunangan, walau tak banyak yang tahu tapi Papa akan usahakan yang terbaik buat kalian."


"Maaf om, tapi Glo masih sekolah. Gloria gak mau anak anak tahu soal ini dulu," ujarnya pada Papa Emanuel.


"Sayang no Om dan Tante. Kamu harus panggil kami Papa dan Mama ya," ujar Mama Kirana pada Gloria.


"Bagaimana Ar?"


"Aku apa kata kalian aja, mau di publis atau enggak yang penting Gloria jadi milik Arthur," jawabnya.


"Oke baiklah jika itu kemauan kamu nak Gloria, dan Papa juga sudah menentukan kapan kalian menikah," ujarnya dengan senyum.


"Kapan pa?"


"Tiga minggu lagi," jawabnya.


Mereka semua menerimanya walau sempat Gloria menyela untuk menunda sampai ia lulus kelas 2 tapi semua itu dibantah oleh kedua orang tua Arthur.


Setelah memutuskan itu Bu Riska mengajak mereka semua untuk makan malam, walau rasanya sudah tak malam lagi.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Kamu suka?" tanya Arthur pada Gloria yang sedari tadi memandang cincin yang baru terselip di jarinya itu.

__ADS_1


"Suka tapi risih, gimana kalau anak anak lihat cincin ini?" tanyanya menatap Arthur.


"Oh bentar deh honey."


Arthur teringat sesuatu, ia mengambil kotak yang berisi kalung itu.


"Aku lepas bentar ya," ujarnya melepas cincin di jari pacarnya dan menjadikan bandul kalung itu.


Gloria hanya melihat apa yang dilakukan pacarnya, setelah selesai Arthur memasang kalung itu ke leher Gloria.


"Dah sekarang gak ada yang tahu lagi," ujarnya. Gloria memegang kalung itu dan tersenyum, kalung dan cincin ini sangat indah baginya.


"Makasih Ar, muach," Gloria mengecup rahang pacarnya dan kembali memandang kalungnya.


Yah mereka sedang berada diteras depan rumah, di dalam mama papanya masih ngobrol dengan Bu riska yang merupakan adik panti mamanya itu.


Arthur menatap pacar eh tunangan ya. Arthur menatap tunangannya itu dengan senyum tak terasa kurang satu langkah lagi ia untuk memiliki Gloria seutuhnya.


"Besok sekolah?"


"Iya dong, besok ada ulangan harian Ar. Dan aku belum belajar," jawabnya.


"Hmm padahal aku mau ngajak kamu ngamar lagi," gumamnya dan masih didengar oleh Gloria. Sontak saja wanita itu memukul paha Arthur.


Plak


"Ashh sakit honey, enakan juga dielus atau enggak terongku kamu elus juga aku ikhlas," ringis Arthur mengelus pahanya.


"Mesum banget kalau ada yang denger gimana?"


"Ya gak apa-apa biar kita langsung dinikahin," jawabnya dengan bangga.


Gloria hanya menggelengkan kepalanya pelan, tak habis pikir dengan jalan pikian Arthur yang tak ada takut-takutnya jika ada yang mendengar.


Bersambung


JANGAN LUPA LIKE DAN KOMENNYA YA!!


📌Stuck Marriage (End) Kisah Anak Gloria dan Arthur


Mampir ke novel temen uthor juga ya!

__ADS_1



__ADS_2