
Happy reading
"Ayang jangan ganggu dong," ujar Gloria saat belajarnya diganggu oleh sang suami.
"Masih lama ya honey?" tanya Arthur seraya meletakkan kepalanya di paha Gloria.
Tubuh Arthur sudah lebih baik daripada kemarin. Bahkan, tangannya sudah lincah karena pijatan dari sang istri setiap malam sebelum tidur.
"Gak kok, cuma berberapa poin lagi aku selesai belajar, kamu yang tenang jangan ganggu," ucapnya menatap sang suami yang mendusel duselkan wajahnya di perutnya.
Arthur menarik tangan Gloria agar mengelus rambutnya. Tangan Gloria pun menuruti apa yang diperintahkan Arthur.
Gloria kembali melanjutkan belajar kebut semalamnya di rumah sakit.
Tak lama Gloria menyelesaikan membacanya dengan menutup bukunya. Ia merasa suaminya ini sudah terlelap karena nafasnya sudah teratur.
Gloria meletakkan bukunya di nafas dan membenarkan posisi suaminya. Seperti malam-malam sebelumnya. Gloria akan memijat dulu tangan dan bahu Arthur.
"Honey," panggil Arthur yang mulai terbangun dari tidurnya.
"Kenapa kurang kenceng mijatnya?" tanya Gloria pada sang suami.
"Enggak kok honey, udah pas. Kamu istirahat aja, besok kamu ujian kan? Jadi gak boleh capek, aku gak mau kamu ngantuk pas ujian," ujarnya dengan senyum.
"Aku gak capek kok lagian cuma bentar."
Arthur membiarkan apa yang dilakukan sang istri, setelah berberapa menit Gloria selesai memijit tangan dan bahu Arthur.
"Udah kan sekarang tidur ya," ajak Arthur mengelus punggung Gloria.
Tanpa menjawab Gloria langsung memposisikan dirinya dan menghadap suaminya. Mata mereka beradu hingga senyum itu tercipta. Entahlah mereka bagai pasangan yang baru merasakan jatuh cinta. Rasa tersipu itu masih ada dalam diri Gloria.
"Kenapa natapnya gitu banget?"
"Kangen kamu," jawabnya dengan senyum.
"Aku kan tiap hari disini ayang, kenapa kamu bilang kangen?" tanya Gloria.
"Kangen di nen sama kamu juga hotel," jawabnya dengan sendu.
__ADS_1
Sudah 2 hari ini Arthur tak bisa merasakan tubuh istrinya karena sakitnya. Bahkan ia harus menahan dahaganya selama 2 hari.
"Oh, suamiku ini ingin nen hmmm?"
Gloria membuka kancing bajunya memberikan satu buah dadanya pada Arthur. Setidaknya ia bisa memberikan kepuasan tersendiri pada suami mesumnya ini.
"Kamu sangat pengertian honey," ujar Arthur meraup dada sang istri dengan lembut.
Jarang sekali Arthur memperlakukan istrinya itu kasar hanya saja pernah berberapa kali saat ia sedang cemburu dengan istrinya itu sebagai hukuman.
"Kamu sudah seperti bayi besar saja hmmm? Sama seperti Mama yang memiliki bayi besar seperti papa," ujar Gloria menyegarkan rambut Arthur hingga wajah tampan Arthur terlihat jelas.
"Yah, aku memang bayi besaran," jawab Arthur kembali menyusu.
Gloria mengelus rambut Arthur seraya menahan agar suaranya tidak jelas terdengar.
"Keluarkan saja honey," ujar Arthur yang merasa sang istri menahan sesuatu itu.
"Emmmm pelan-pelan aja, aku mau tidur. Kalau sudah selesai nanti balikkan ketempatnya ya."
"Hmmm."
Berberapa menit Arthur selesai menyusu pada istrinya, ia mengecup dada itu dan mengembalikan dada itu ketempatnya.
Terlihat raut lelah sang istri selama ia sakit, bahkan Gloria tak mengeluh untuk mengurusnya. Gloria selalu menyempatkan waktu untuk menyenangkannya.
"Kamu wanita hebat, aku bahagia memilikimu honey," ucap Arthur memeluk tubuh sang istri dan ikut berlabuh menuju alam mimpi.
Jarum jam berjalan semakin cepat hingga tak terasa sudah menunjukkan pukul setengah 6 pagi. Gloria yang sudah terbangun itu menyempatkan untuk mengecup bibir Arthur dan berlalu menuju kamar mandi.
Gloria menyelesaikan mandinya dengan cepat, ia tak yang tak bisa diantar sang suami itu akan diantar Pak Sam supir yang mengantarkannya ke rumah sakit kemarin.
"Honey," panggil Arthur saat sang istri sudah keluar dari kamar mandi.
"Butuh apa ay?"
"Maaf tak bisa mengantarkan sekolah, tapi aku janji akan mengantarkanmu saat aku sudah sembuh," ucap Arthur dengan sedih.
Mengantar istrinya sudah menjadi kebiasaannya jadi jika ia tak bisa mengantarkan istrinya ada rasa beda dihatinya.
__ADS_1
"Iya ayang, makanya cepat sembuh biar kamu bisa antar aku lagi. Nanti kalau kamu udah sembuh aku kabulkan permintaan kamu."
"Oke."
"Nanti setelah pulang sekolah aku akan kesini kami gak apa-apa kan aku tinggal? Nanti Mama sama Papa juga bakal datang kok, kak Nathan dan kak Nabila juga bakal kesini nanti," ujarnya dan dianggukkan oleh Arthur.
"Iya Honey, aku gak apa-apa. Banyak perawat juga, kamu semangat ujiannya," pesan Arthur.
Gloria mengangguk, dia memakai bedak dan lipblam agar bibirnya tak terlalu pucat.
Setelah beberapa menit, Gloria pamit dengan sang suami. Tak lupa kecupan dikening dan bibirnya.
"Jalan pak."
"Siap non."
Pak Sam melajukan mobilnya menuju sekolahan Gloria untung ia sudah tahu mana sekolah majikannya itu.
Sampailah mereka di sekolah bertingkat itu. Gloria mengeluarkan dua lembar uang untuk supirnya.
"Ini buat bapak, bapak pasti belum sarapan kan?" tanyanya.
"Makasih non tapi uang saya masih kok," jawab Pak sam.
"Rezeki jangan ditolak pak, dah ya Gloria mau masuk ke kelas dulu."
Gloria keluar dari mobil menuju gerbang dan masuk, sedangkan pak Sam menatap majikannya yang baik itu dengan senyum.
"Pantes si tuan muda suka sama Nona, orangnya baik dan juga sangat menghormati. Beda sekali dengan anak anak diluar sana," gunanya seraya menjelaskan mobilnya kembali.
Sedangkan Gloria yang sudah sampai didalam kelas itu mengambil roti yang tadi ia beli. Ia tak sempat sarapan karena terburu buru tadi.
Tak lama masuklah guru yang menjadi pengawas mereka. Gloria yang sudah siap akan ujian kali ini terlihat santai.
Ia menatap kertas soal dan jawaban itu bergantian. Susah? Medium? Mudah? Tak ada semua ada susah dan ada mudahnya masing masing.
Mereka serius mengerjakan soal ujian, tapi ada juga yang saling lempar kertas, modus pinjam tipe X padahal mau nyontek dan ada juga yang tak peduli dengan soal yang diberikan.
Setelah 90 menit mengerjakan soal ujiannya, mereka mengumpulkan lembar jawaban dan soalnya.
__ADS_1
Bersambung