
Happy reading
Setelah seharian di Gubuk Cinta, pagi ini Gloria dan Arthur harus kembali ke vila. Arthur yang semalam dapat jatah double itu tampak menyinggungkan senyumnya.
Sedangkan Gloria yang sedari tadi melihat suaminya senyum senyum sendiri itu hanya menggelengkan kepalanya. Pasti suaminya itu memikirkan tentang doublenya jatah tadi malam entah lah Gloria tak tahu tapi ia sangat menikmati pergulatannya malam tadi.
"Ayang jangan senyum senyum gitu, nanti ada yang suka," ujar Gloria memeluk lengan suaminya.
Berangkat berjalan pulangkan harus berjalan sepertinya sampai vila mereka akan kurus.
"Gak bisa honey, lagi seneng soalnya," ujarnya dengan senyum ia mengecup kening istrinya.
"Tapi kamu aneh kalau senyum gitu," ujarnya.
"Salah siapa bikin aku seneng hmmm? Btw honey yang tadi malam itu sangat panas, nanti di vila kita lanjut lagi ya," ujarnya dengan senyum.
"Kalau aku mager yang enggak," jawabnya santai.
"Tapi kalau terong aku dah masuk?" tanya Arthur seraya menggoda istrinya.
"Ya emm gituan," jawabnya.
Tak bisa dipungkiri jika Arthur sangat pandai membuatnya melayang sampai langit ke tujuh. Tak jarang Gloria sendiri yang minta nambah pada suaminya.
"Hahahah ternyata istriku sudah tak sepotong dulu hmmm?"
"Itu semua gara-gara kamu yang udah cuci otak polosku jadi mesum seperti kamu," ujarnya dengan kesal. Ia jadi begini kan memang gara-gara suaminya.
"Gara-gara aku apa?" tanya Arthur seolah tak bersalah.
"Gara-gara kamu aku keperawanannya hilang, gara-gara kamu aku nikah muda, gara-gara kamu aku mencintaimu sedalam ini, gara-gara kamu aku menikmati setiap apa yang kamu lakukan. Dan gara-gara kamu juga semua bra milikku tak muat semua," ujarnya dengan nada rendah diakhirinya.
__ADS_1
Arthur menatap istrinya dan benar saja dada Gloria semakin besar dan juga bokong yang selalu ia remas kini semakin mont*k.
"Masa sih aku gak ngerasa tuh," ujar Arthur dengan mimik wajah yang dibuat tak percaya.
Gloria menarik tangan suaminya dan menempelkannya di dadanya yang sedikit linu.
"Nih gara-gara kamu semua," ujarnya.
Sedangkan Arthur yang merasa gunung kenyal itu mulai meremasnya.
"Iya honey, makin gede. Pintar dong ya aku maininnya?" tanya Arthur pada istrinya. Tangannya masih meremas dada istrinya untung saja tangannya masih tertutup jaket yang dipakai istrinya.
"Ihhh kamu mah, jangan disini malu lah banyak orang," bisikan menarik tangan suaminya.
"Ya sudah kalau begitu dirumah nanti ya," ujarnya dengan senyum.
"Hmmm. "
Meong meong meong
Langkah mereka terhenti karena suara itu, Gloria menoleh kearah sekitar dan ia melihat kucing berbulu putih itu kedinginan dibawah pohon teh itu.
"Ayang kucing," ujar Gloria.
"Honey, aku yang tampan gini kamu samain sama kucing sih!!"
"Bukan ayang tapi itu kucing," ujarnya menujukan kucing yang ada dibawah kaki suaminya.
Arthur menoleh kearah kucing itu dan menatap istrinya.
"Boleh ya kita bawa pulang," pintunya dengan wajah imut sangat sesuai dengan usianya yang akan menginjak 18 tahun.
__ADS_1
"Boleh kok," jawabnya. Arthur mengambil kucing itu memberikannya pada sang istri.
"Imut ay, lihat bulunya halus. Kenapa dia ada disini ya?" tanya Gloria.
Mereka kembali melanjutkan perjalanannya. Gloria yang merasa tubuh kucing itu dingin menutupi tubuh kucing itu dengan jaketnya. Alhasil Arthur melototkan matanya saat dada empuk sang istri menjadi bantal kucing itu.
"Honey, dadamu!!"
"Gak apa-apa, lagian kasihan Ay. Kamu gak lihat apa tadi dia kedinginan gitu?" tanya Gloria menatap suaminya.
"Tapi honey, dia menang banyak tahu. Kamu lihat dia sangat menikmati dadamu sebagai batalnya," ujar Arthur tak terima.
"Cuma sebentar kok ayang, nanti kamu boleh lakuin apapun saat kita sudah sampai vila. Kasihan dia kedinginan," ujarnya mengecup rahang suaminya.
Mau tak mau Arthur harus mengiyakan walau ia tak suka ada yang menikmati tubuh istrinya kecuali dirinya. Itu mutlak, mungkin akan berubah nanti jika mereka memiliki anak.
"Aku kasih nama Kucing ini Kuci ya ay," ujar Glora pada suaminya.
"Terserah kamu aja," jawabnya malas. Ia memeluk tubuh istrinya dengan posesif.
Gloria tak menghiraukan kekesalan sang suami ia masih fokus pada kucing yang ia temukan tadi. Detak jantung kucing ini sudah normal tak seperti tadi yag lemah.
Dan akhirnya mereka sampai di vila, Gloria langsung mengeluarkan kucing itu dari jaketnya dan memberikannya pada seorang pelayan agar di rawat.
Sedangkan mereka berdua berlalu menuju kamar mereka. Gloria mengejar Arthur yang berjalan dulu kekamar.
"Ayang jangan marah dong," ucap Gloria mengejar suaminya.
"Apa mereka marahan? Ini sangat bagus untukku agar bisa mendekati tuan muda," ujar seseorang dari balik pintu. (Ngapain didepan pintu neng? Cari cicak atau apa?)
Bersambung
__ADS_1