Nafsu Atau Cinta

Nafsu Atau Cinta
Kebun Teh


__ADS_3

Happy reading


"Ayang ayo," ajak Gloria yang sudah siap untuk jalan jalan menelusuri kebun teh yang sangat menggoda imannya.


"Bentar honey, jaket kamu mana? Jangan bilang kamu gak mau bawa jaket," ujar Arthur mengambil jaket istrinya agar hangat


"Ishh nanti kamu kan bisa peluk aku Ay, biar romantis," ujarnya dengan cemberut suaminya ini memang tak peka jadi orang.


"Mau pelukpun akan tetap dingin Honey, hawa disini dingin beda dengan di kota," ujarnya memakaikan jaket berbahan tebal itu pada sang istri.


Mau tak mau Gloria harus memakai jaket berwarna cream itu dengan cemberut. Ia maunya dipeluk Arthur saat kedinginan tapi apa realitanya Arthur memakaikannya jaket yang bahkan sangat tebal.


Arthur yang melihat itu mengulum senyumnya gemas melihat sang istrinya yang tampak cemberut.


Cups


"Sengaja mau aku cium hmmm?"


Gloria yang mendapat ciuman singkat itu semakin cemberut.


"Kenapa singkat banget?"


Arthur menaikkan alisnya bingung, tapi setelah itu ia paham apa maksud sang istri.


Arthur menarik tangan Gloria dan memeluk pinggang wanitanya dengan lembut. Arthur menarik tengkuk leher Gloria dan mencium bibir istrinya dengan lama.


Gloria menerima ciuman itu dengan senang hati, tangannya ia kalungkan di leher suaminya dan membalas ciuman itu dengan lembut.


Plup


"Udah kan? Kamu minta ciuman lebih lama sekarang udah. Jadi ke kebun gak? Kalau enggak, aku bisa ajak kamu berlayar ke lautan kenikmatan honey," ujarnya dengan senyum, tangannya mere mas dada sinyal Gloria.


"Asshhh jangan dong. Tuk, aku udah siap!"

__ADS_1


"Kaki kamu udah baik kan dibuat jalan kalau belum kita bisa tunda," ujarnya menatap kaki suaminya.


"Udah honey, aku juga harus melatih otot kakiku agar lebih baik lagi dan kuat tentunya," ujarnya dengan senyum. Gloria mengangguk.


Mereka keluar dari kamar itu dan berlalu menuju ruang makan. Disana sudah banyak makanan yang tersedia.


Gloria mengisi piring suaminya dengan nasi dan lauk yang terlihat enak itu.


"Gimana rasanya? Kenapa gak dimakan?" tanya Gloria saat suaminya tak kunjung memakan lauknya.


"Gak enak, enakan masakan kamu," ujarnya dengan senyum.


Pelayan yang mendengar itu menahan senyumnya bagaimana bisa tuan mudanya yang sangat angkuh itu bisa segitu bucinnya dengan nona mudanya sekarang.


Gloria yang mendengar jawaban tak iya dari Arthur itu mulai menyuapkan nasi ke mulut suaminya. Arthur yang mendapat suapan itu tersenyum dengan menerimanya.


"Enak."


"Bilang aja mau disuapi," ujarnya dengan Gloria yang hanya dibalas senyuman oleh Arthur.


"Huhh sejuk," gumamnya saat angin pagi itu menyapanya.


"Bukan sejuk honey, tapi dingin," ujarnya mengecup tangan Gloria yang ada di genggamannya.


Mereka menelusuri kebun teh itu dari lahan ke lahan, Gloria bingung kebun milik siapa ini? Kenapa luas sekali dan kenapa banyak yang menghormati mereka.


"Ini kebun siapa sih Ay? Kok mereka pada sopan banget sama kita yang baru di sini?" tanya Gloria.


"Coba tebak!"


"Ih aku kan tanya bukan mau main tebak tebakan," jawabnya dengan cemberut.


"Hahahaha ini kebun keluarga kita honey, dan kebun ini sudah atas namamu," jawabnya yang membuat Gloria syok. Bagaimana bisa kebun seluas ini miliknya.

__ADS_1


"Kenapa harus aku? Ini terlalu banyak."


"Papa dan Mama sudah tak bisa memiliki anak lagi, tapi mereka sangat menginginkan anak perempuan jadi tak ayal jika mereka memberikan separuh asetnya untuk menantunya," jawabnya dengan senyum.


"Aku tak butuh semua itu, kalaupun iya kan bisa untuk anak anak kita nanti. Aku tak mau dibilang cewek matree karena memanfaatkan keluarga suamiku."


"Siapa yang bilang kamu matre minta di tampol emang tu orang ya," ujar Arthur dengan marah.


"Enggak ada yang bilang, tapi aku gak mau ada yang berprasangka gitu. Aku ini anak yang sudah tak memiliki seorang ayah, jadi aku takut saja," ujar Gloria.


Arthur yang mendengar itu langsung memeluk tubuh istrinya, entah kenapa ia menangkap kesedihan dari ucapan istrinya itu.


Arthur membiarkan pandangan pemetik daun teh yang ada disana. Tapi Gloria yang malu akan apa yang dilakukan sang suami itu langsung menyembunyikan wajahnya di dada sang suami.


Tapi bagi orang orang disana apa yang dilakukan tuan mudanya itu sangatlah manis begitupun dengan nona mudanya.


"Tak ada yang boleh mengatakan kamu cuma memanfaatkan aku honey. Jika pun kamu matree itu wajar karena kamu seorang wanita, uang keluarga kita tak akan habis walau kamu gunakan untuk membeli mall terbesar di kota ini," ujar Arthur mengecup kening istrinya.


"Oh ya, oke aku akan menjadi matree seperti yang kau bilang," ujarnya dengan berani tapi belum mau menampakkan wajahnya karena masih malu.


"Silahkan saja, lagian selama ini aku belum pernah lihat kamu shopping jika bukan karena Mama yang maksa waktu itu," ujarnya dengan senyum. Ia menyelipkan anak rambut Gloria di belakang telinganya.


"Udah jangan ngomongin uang, katanya mau keliling kebun? Tapi belum sampai gubuknya saja kamu udah terdiam," ujarnya menggandeng tangan istrinya untuk melanjutkan perjalanannya.


Bersambung


Hai kak mampir ke novel senior aku ya!!!


Judul : Dendam


Karya : nazwa talita


Setelah disiksa, dikhianati, dan dibuang di suatu tempat dalam keadaan tak bernyawa, Gendis bertekad mengubah takdir demi membalas dendam pada Arga Demian, pria tampan berhati iblis yang pernah menjadi kekasih rahasianya.

__ADS_1


Akankah Gendis berhasil membalaskan dendam dan sakit hati pada pria yang selama ini terus bersemayam di hatinya? Ataukah dia justru kembali terjebak dan terjerat pada pesona Arga Demian dan kembali menjatuhkan hatinya pada pria itu?



__ADS_2