
Happy reading
Pagi harinya kedua perawat dibuat mesem oleh pasangan muda ini. Apalagi Gloria yang memeluk Arthur dengan posesif membuat jiwa jomblo mereka meronta.
"Gak salah sih kalau tuan muda menikahi nona muda, karena mereka memang sangat serasi lihatlah mereka bukankan sangat membuat iri?" ujar suster A.
"Kau benar aku berharap bisa menemukan pasangan yanv seperti mereka, sungguh sweet sekali."
Tiba tiba dari arah belakang seorang dokter mengangetkan mereka.
"Kenapa disini?"
Suster itu memperlihatkan apa yang ada di dalam. Seketika dokter itu mengulas senyumnya.
"Tak apa, biarkan mereka tidur dulu. Jika sudah bangun nanti kita ke sini lagi," ucap dokter Arya.
Dokter Arya pergi diikuti oleh kedua suster ini. Meninggalkan pasangan itu di dalam dengan kondisi sama-sama terlelap.
Tak lama dari itu Arthur terbangun saat kaki istrinya menyentuh kakinya yang di gips.
"Honey bangun."
"Kenpa ay? Masih malam loh yuk tidur lagi."
"Ini sudah pagi honey, sayangky, cintaku."
"Eughh."
Dengan perlahan Gloria m4mbuka matanya dan menatap suaminya.
"Pagi," lirihnya dengan senyum dibibirnya.
Pagi yang beda bagi mereka berdua, dimana biasanya bangun berada di kamar tapi ini beda mereka ada di kamar rawat.
Gloria bangun dari tidurnya dan membuka tirai itu agar cahaya matahari dapat masuk.
Tok! Tok! Tok!
Pintu dibuka oleh kedua orang tuanya, Mama Kirana sydah sembuh walau masih pucat.
"Sayang ini pakaian kalian, dan ibu sarapan untuk kamu," ucap Mama Kirana menyerahlan tas dan sarapan untuk menantunya.
"Sarapanku mana ma?"
"Kamu gak boleh makan yang begini dulu, bubur rumah sakit itu yang cocok buat kamu," jawabnya dengan senyum.
Gloria mengucapkan terima kasih dan berlalu menuju kamar mandi.
"Bagaimana kamu bisa masuk rumah sakit lagi?" tanya Papa Emanuel.
__ADS_1
"Biasalah pah, kecelakaan karena Arthur ngebut."
"Lain kali jangan ngebut ya sayang, kalau kamu kenapa-napa gimana? Kamu masih punya istri, emang kamu mau istri kamu cari yang baru hmm?" tanya Mama Kirana pada sang putra.
"Glo gak akan tinggalin Arthur kok mah, Arthur jamin itu," jawab Arthur dengan percaya dirinya.
Tak lama Gloria keluar dari kamar mandi, bersamaan dengan dokter Arya yang masuk dengan suster yang membawa lap untuk Arthur.
"Permisi tuan, nyonya."
Seakan tahu apa yang akan dilakuka sang dokter mereka membri jalan untuk dokter Arya.
"Perkembangan cukup bagus, tulang kakinya hanya retak. Mungkin betub beberapa waktu untuk pulih lagi."
"Terima kasih dok."
"Sudah menjadi tugas kami tuan, nyonya."
Setelah berbincang sedikir dokter Arya pamit dan keluar dari kamar itu.
"Biar saya saja sus," ujar Gloria saat suster ingin membuka baju Arthur. Dengan senyum suster itu mengangguk.
Papa Emanuel mengajak sang istri untuk pulang. Tak enak juga mengganggu anak dan menantunya lagipula istrinya belum sepenuhnya sembuh.
"Sayang cepat sembuh ya, Mama harus pulang dulu. Nanti mama bakal balik kesini," ujar Mama Kirana dan dianggukkan oleh keduanya.
Kini hanya tinggal Arthur dan Gloria di kamar itu. Dengan cekatan Gloria melepas baju pasien itu.
"Apa ay? Kamu gak mau aku lap? Kamu maunya suster tadi?" tanya Gloria menatap sang suami.
"Bukan, aku hanya takut kamu tergoda. Aku belum bisa main kuda kudaan sekarang."
Bengek sekali Arthur ini, dengan beginikan Gloria jadi malu. Memang Gloria mengagumi tubuh suaminya bahkan setelah pelajaran Biologi kemarin.
"Gak kok," jawabnya.
Gloria mulai mengelap tubuh atas Arthur dengan lembut. Arthur manut aja apa yanv akan dilakukan istri cantiknya ini.
"Honey yang bawah belum," ujarnya.
Gloria yang tahu ini hanya akal akalan Gloria itu hanya mengangguk. Selagi itu untuk kebersihan ia akan melakukannya.
"Kenapa gak bereaksi?" tanya Gloria seraya mrngelus terong suaminya.
"Honey jangan dimainin dong," rengeknya.
"Ihhhh jangan-jangan udah gak berfungsi ya?"
"Sembarangan kalau ngomong, aky lagi nahan ini. Cepat selesaiin, aku gak mau dia berdiri dan kamu membantunya untuk muntah."
__ADS_1
"Kenapa?"
"Gak enak honey, aku juga harus bekerja, tapi kalau kakiku begini gimana?" tanyanya dengan kesal.
Gloria hanya mengangguk, wanita itu dengan cepat membersihkan tubuh bagian bawah suaminya.
Cups
Gloria menecup perut kotak kotak itu dan kembali memakaikan baju suaminya.
Tok! Tok! Tok!
"Maaf tuan nyonya, ini sarapannya," ujar salah seorang oerawat membawa nampan yang berisi bubur dengan air putih.
"Terima kasih sus," ucap Gloria dengan ramah.
Gloria mengambil bubur itu dan mulai menyendoknya.
"Buka mulutnya," Arthur menggeleng.
"Kenapa? Ini enak loh," ujarnya.
"Hambar honey."
"Terus kamu maunya apa?" tanya Gloria.
Arthur menunjuk bungkusan yang dibawa mamanya tadi.
"Kita makan bareng ya," pintanya.
Gloria mengambil bungkusan itu dan terlihat nasi dengan lauk pauk yang cukup mengandung minyak. Apa suaminya boleh memakan makanan berminyak.
"Jangan dulu ya ay, ini banyak minyaknya. kamu belum bisa makan inu, nanti kalau kamu udah sembuh nanti aku buatin," ucap Gloria.
Akhirnya dengan pasrah Arthur mrnerima suapan bubur hambar khas rumah sakit itu.
"Pintar deh, suami sapa sih ini hmm?"
Arthur herhasil menghabiskan satu mangkuk bubur itu.
"Suami kamu."
Arthur mengambil air putih itu dengan tangan kirinya dan meminumnya.
Sekarang giliran Gloria yang memakan sarapannya. Rasa lapar itu kini menyerangnya setelah pagi yang beda ini terlalui.
Bersambung
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMENNYA YA!!
__ADS_1
📌Stuck Marriage (End) Kisah Anak Gloria dan Arthur