
Happy reading
"Aku pulang ya," ucap Gloria pada Arthur yang tak mau ditinggal. Bahkan Gloria sudah kembali seperti saat berangkat sekolah tadi.
"Gak mau nginep, Honey?"
"Gak bisa Ar, kapan-kapan ya," ucapnya mengelus rambut Arthur yang sedari tadi tak mau melepaskannya itu.
"Yakin mau pulang? Terus kalau aku butuh apa-apa gimana?" tanyanya dengan nada merengek sungguh Arthur tak mau ditinggal. Fixs ini bukan sifatnya.
"Semua udah aku siapin kok Ar, makan malam udah tinggal panasin, salad buah tadi masih. Air dikamar juga udah aku isi."
"Kalau aku butuh pelukan dan elusan gimana?" tanya Arthur dengan manja.
"Besokkan bisa, nanti aku elus rambut kamu sampai puas," ucapnya yang tak boleh terbawa emosi.
"Oke, aku jemput kamu ya."
"Heem. Yang penting kamu sehat dulu," ucapnya.
"Makasih mau rawat aku sampai sembuh beginu. bahkan kamu rela bolos demi aku," ucapnya tulus.
Gloria hanya mengangguk. Setelah itu Gloria pamit dan pergi dari apartemen mewah itu menuju ojek yang sudah menunggunya di bawah.
"Apa aku minta bantuan Zain aja ya, buat Gloria nyataina cintanya ke aku?" batinnya masih duduk di sofa empuk itu tak lupa salad buah itu masih ia makan.
Anda
Bisa ketemu?
+62822.....
Siapa?
Anda
Arthur
+62822.....
Oalah yang jadi lawan gue itu.
Anda
Hmm
+62822.....
Dimana?
Anda
Cafetaria
+62822.....
__ADS_1
Oke.
Arthur berlalu menuju kamarnya, ia hanya memakai kaos dan celana saja tanpa memakai jaket atau apalah itu.
Sekilas Arthur mengecek suhu badannya, sekilas ia tersenyum bagaimana perlakuan Gloria tadi padanya. Terlihat wanita itu khawatir padanya. Andai bisa mengulang Arthur menginginkan Gloris yang mengelus rambutnya tadi.
Arthur mengambil kunci motornya dan berlalu meninggalkan apart.
"Nunggu siapa sih emang?" tanya seorang gadis pada pria disampingnya.
"Temen, cuma bentar kok terus kita bisa jalan-jalan," ucapnya mengecup pipi gadis itu.
Dialah Delta dengan Mariana, rencananya mereka akan jalan setelah Zain menyatakan cintanya tadi tapi malah mendapat pesan dari Arthur.
"Janji gak lama."
"Heem."
Mariana paling tidak suka yang namanya menunggu kalau tidak terlalu penting.
Tak lama Arthur sampai di Cafetaria, dengan langkah tegas Arthur masuk dan menghampiri Zain.
"Maaf menunggu lama," ucap Arthur tanpa beban.
"Sangat lama," ketus Mariana.
"Sayang gak boleh gitu!"
"Gak apa-apa, kenapa nyuruh gue kesini?" tanya Zain.
"Dia siapa?" tanya Arthur menatap Mariana.
"Bocil?"
"Hei kak tua, aku udah bukan bocil ya umurku aja hampir 16 tahu, salahkan saja Kak Zain kenapa mau sama aku. Padahal aku belum cukup umur," ucapnya tak terima.
"Karenss kamu yang bisa bikin jantungku berdetak dengan abnormal," jawabnya seraya mengecup tangan pacarnya itu.
"Udah berapa bulan pacaran?" tanya Arthur.
"Belum juga 3 jam," jawabnya dengan tenang.
"Kenapa ngajak gue ketemu? Lu gak lagi ada masalah sama Glo kan?" tanya Zain pada Arthur yang sudah dianggaonya teman itu.
"Glo siapa?" tanya Mariana.
"Nanti aku ceritain," jawab Zain mengelus pipi merah pacarnya.
"Enggak, cuma gue belum yakin sama perasaan dia sama gue. Dia masih cinta sama lu walau kita udah pacaran. Jadi gue boleh minta tolong, buat dia mengakui perasaannya sama gue."
"Caranya?"
"Entahlah yang penting dia mengakui perasaanya buat gue, karena tatapannya dari awal kita bertemu dan sekarang itu udah bed," ujarnya.
"Kita bakal usahain, kakak tua tenang aja."
__ADS_1
"Hmm."
"Tapi kita gak janji kapan."
"Hmm."
Seelah berbincang ringan Arthur memutuskan untuk pulang sedangkan pasangan baru itu baru saja selesai makan.
"Jalan yuk," ajaknya.
"Gak mau, sebelum kamu jelaskan siapa Glo itu?"
"Gloria, dia salah satu cewek yang ngejar aku disekolah. Maklumlah aku ganteng jadi siapa saja pasti naksir sama aku," sombongnya yang membuat Mariana mencebikkan bibirnya.
"Kamu juga naksir sama dia?" tanya Mariana.
"Enggak Ana. Bahkan aku udah banyak kali tolak dia. Hingga akhirnya aku tahu kemarin dia udah pacaran sama kak Arthur," jawabnya.
"Owh.... Pulang aja yuk aku udah ngantuk," ajak Mariana.
"Nanti kamu tidur dikamar aku ya," pinta Zain pada Mariana.
"Ogah. Mending aku tidur sama tante," tolaknya terlalu menuju motor Zain.
"Sayang," teriaknya tapi tak dihiraukan oleh Mariana. Zain membayar makanannya dan berlalu menuju motor.
"Cepat gue ngantuk," bentaknya yang sudah duduk dijok belakang motor itu.
"Astaga cewek gue, padahal gak ada yang pernah nyuruh gue kek gini sebelumnya kalau gak cinta udah gue mutilasi ni anak," batin Zain naik motornya.
Zain menjalankan motor menuju mansion keluarga Delta. Sejak diperjalanan tadi Mariana terus saja mengoceh karena Zain menjalankan motornya dengan pelan padahal ia sudah ngantuk sedari tadi.
"Lain kali kalau mau ngajak jalan siang aja," ucapnya memeluk erat Zain. Zain sendiri bingung kenapa ia bisa menyukai bocil ini.
Sampailah mereka di mansion, Zain dan Mariana keluar turun dari motor. Mariana menyapa Mama Karina dan Papa Ryan yang ada diruang keluarga.
Sedangkan Zain mengikutinya dari belakang. Sedikit tentang Mariana, dia anak dari sahabat Mama Kiran, karena mama papanya harus melakukan perjalanan bisnis. Mereka menitipkan Mariana dirumah Zain dan baru juga satu minggu Zain menyukai gadis yang usianya terpaut dua tahun darinya itu.
"Kakak," pekik Mariana saat keluar dari kamar mandi ia melihat Zain sudah tertidur diatas kasurnya.
"Aku tidur sini," ucapnya seenak udel.
"Gak boleh, aku bilangin om sama tante nih," ancam Mariana tapi tangannya ditahan oleh Zain hingga gadis itu terjatuh ke kasur.
Zain memeluk tubuh Mariana dengan erat tak lupa juga tangannya mengelus punggung gadis itu agar tenang. Dan benar saja batu berberapa menit mengancam Mariana sudah tidur dengan nyenyaknya.
Bersambung
📌Stuck Marriage (On going) Kisah Anak Gloria dan Arthur.
Jangan lupa like + komen + vote dan masukkan ke daftar favorit kalian ya. Share juga novel ini ya. Makasih😊😊😊
Mohon maaf jika banyak PUEBI yang salah dan banyak typo. Author masih belajar soalnya.🙏🙏
Curhat boleh gak sih.
__ADS_1
Sedih tahu uthor ni, jadi maaf nih kalau eps eps awalnya hilang ya karena dihapus dari pihak sananya. Bahkan aku revisi dan kurangi adegan dewasa yang terlalu detail. Emang iya ya?? Kalau begitu uthor minta maaf.