
Happy reading
Setelah ketahuan terpergok dan pemutusan tentang lamaran mereka. Kedua manusia itu masih duduk terdiam di ruang tamu, Gloria masih duduk termenung memikirkan apa yang terjadi jika ia benar menikah diusia muda.
Brug
"Eh."
"Kenapa bengong? Gak suka kalau kamu aku lamar?" tanya Arthur membaringkan kepalanya di paha Gloria.
"Bukan itu, tapi aku takut," jawabnya.
"Entah kenapa ada rasa aneh dihati ini Ar, aku takut entah ketakutan apa itu," ujarnya bingung.
"Tapi ini yang terbaik untuk kita Glo," ujarnya menatap manik mata Gloria dari bawah.
"Hmm."
Tak terasa hari sudah mulai petang, terlihat Ibu Riska belum juga keluar kamar. Arthur yang sudah pulang jam 4 tadipun tak sempat berpamitan.
Tok! Tok! Tok!
"Ibu ini Gloria," ujarnya dari luar.
"Ya."
Ceklek
Gloria membuka pintu kamar ibunya dan melihat Bu Riska sedang menangis seraya memeluk foti ayahnya.
Dengan cepat Gloria berlari dan memeluk sang ibu, ia sedih melihat ibunya seperti ini.
"Ibu maafin Gloria," ucapnya memeluk sang ibu.
"Gloria tahu Gloria salah. Ibu boleh hukum Gloria apapun itu tapi Gloria mohon ibu jangan nangis lagi."
"Ibu gak marah kok sama Gloria, tapi ibu kecewa sama kamu nak. Ibu merasa gagal mendidik kamu," jawabnya seraya menghapus air matanya ia menatap putri kesayangannya dengan senyum.
"Ibu gak gagal kok, Gloria yang salah. Jadi ibu jangan nangis lagi, Glo gak mau ibu sedih. Nanti ayah marah sama Glo," ujarnya sama seperti dulu.
__ADS_1
"Heem. Maafin ibu juga udah tegas sama kamu dan Arthur, ibu cuma gak mau kalian lebih dosa lagi," ujarnya pada sang putri.
"Glo tahu kok bu," ujarnya.
"Gloria udah masak nuat ibu, yuk makan."
"Nyogok nih ceritanya?" tanya Bu Riska.
"Hehehehe tahu aja ibu mah, aku kan gak bisa lama-lama dimarahin ibu," jawabnya dengan senyum mengembang. Gloria menggandeng tangan ibunya untuk keluar dari kamar itu.
Gloria menyiapkan piring dan mengambilkan nasi untuk ibunya tak lupa lauk kesukaan ibunya. Bu Riska yang melihat itu tersenyum setidaknya anaknya bisa memasak untuk suaminya nanti.
"Nanti Glo tidur dikamar ibu ya!" pintanya dengan nada manis.
"Iya sayang," jawabnya.
Bu Riska tahu kenapa anaknya itu minta tidur bersama. Setiap Gloria memiliki kesalahan pada ibunya ia akan selalu membujuk ibu dengan sekuat tenaga. Jika sudah di maafkan ia akan minta tidur bersama.
Mereka makan dengan lahapnya, tak bisa dipungkiri jika masakan 11 12 dengan masakannya.
Seperti biasa setelah makan malam, Bu Riska terlebih dahulu menonton televisi. Lagian tak baik habis makan langsung tidur.
"Bu."
"Glo belum mau nikah," ujarnya dengan manja. Bahkan Gloria menyembunyikan wajahnya di perut ibunya.
"Kenapa? Lagian dengan ikatan halal kamu bisa ngapain aja sepuasnya. Gak perlu sembunyi kalau mau gituan," ujarnya santai.
"Ibu apaan sih, Glo masih polos ya," sela Gloria dengan nada manjanya.
"Ya anak ibu memang polos, tapi polosnya melebihi batas."
"Glo belum siap jadi istri bu," ujarnya.
"Mau gimana lagi, kamu juga yang mancing ibu buat menerima perjodohan ini. Sebelumnya orang tua Arthur berkata ingin menjodohkan kalian tapi ibu masih mikir kamu masih SMA masa harus nikah? Ibu pikir untuk mrnundanta sampai kamu lukus SMA. Tapi, ibu malah lihat kamu nyusui Arthur tadi siang eh sore."
"Maafin Glo gmyang gak bisa nolak," ujarnya.
"Huffttt laki-laki itu nafsunya besar sayang, sekuat apapun imannya jika ia tergoda akan yang namanya perempuan hilang sudah iman yang terkumpul."
__ADS_1
"Memang kamu sudah beneran cinta sama Arthur?" tanya Ibu Riska.
Bukan apa-apa karena Arthur adalah lelaki pertama yang mengaku menjadi pacar anaknya selama ini.
"Cinta itu gimana sih bu?" tanya Gloria pada sang ibu.
"Apa yang kamu rasakan jika kamu bersama Arthur?" tanya balik ibunya.
"Nyaman," jawabnya singkat.
"Ada rasa aneh selain nyaman?" tanya Ibu memancing anaknya.
"Emm kalau jauh tuh rasanya kangen gitu, apalagi jantung Glo sering berdetak gak normal saat ada Arthur. Glo ingin selalu ada saat Arthur sakit dan merawatnya, Glo gak tahu itu cinta atau bukan tapi Glo memang gak bisa jauh dari Arthur," jawabnya malu. Yah itulah yang ia rasakan berberapa minggu ini.
"Itu tandanya kamu mulai menyukai kehadirannya dan mencintainya. Ibu yakin kalian akan bahagia dengan pernikahan ini," jawab Bu Riska seraya mengelus rambut cokelat anaknya entah gen dari siapa Gloria memiliki rambut yang berbeda darinya dan suaminya.
"Apa iya aku mencintainya bu? Kita belum lama kenal."
"Kalau belum lama kenapa kalian pacaran?" tanya Bu Riska.
"Itu gara-gara sebuah insiden yang membuat Gloria harus menerima Arthur sebagai pacar Glo," jawabnya jujur.
"Oh tapi kelihatannya Arthur sayang banget sama kamu, bahkan pernah ibu melihat Arthur sangat perhatian saat kakimu keseleo kemarin," ujarnya mengingat dimana ia berprasangka buruk pada Gloria dan Arthur.
Gloria mengingat kembali sejak pertemuan pertama ia dengan Arthur hingga membuat kesucianya hilang karena mabuk. Dan disitu pula mereka harus terikat dengan yang namanya pacaran.
Memang awal-awal Arthur memang sangat mesum dan tukang paksa, tapi lama kelamaan ia juga merasa nyaman akan sikap dan sifat Arthur.
"Benar juga, tapi aku dulu sangat mencintai salah satu temanku bu. Kenapa hilang begitu saja? Bahkan aku tak apa-apa saat dia mengandeng cewek lain."
"Mungkin kamu hanya obsesi dengannya bukan cinta, obsesi itu datangnya dari otak seakan ingin memiliki tapi itu bukan miliknya. Sedangkan cinta itu berasal dari hati, tulus tanpa memaksakan kehendak," ujar Ibu dengan senyum ternyata putrinya sudah besar.
"Apa aku mencintainya bu?" tanya Gloria lagi.
"Hmmm. Tanyakan pada hatimu," jawabnya mencubit pipi anaknya.
Gloria mengangguk ia harus membuktikannya besok. Seelah perbincangan itu kedua wanita beda umur itu berlalu menuju kamar dan tidur.
Bersambung
__ADS_1
JANGAN LUPA LIKE, KOMEN, VOTE, RATE, KASIH HADIAH SEIKHLASNYA AJA. FAVORITKAN JUGA YA.
📌Stuck Marriage (End) Kisah Anak Gloria dan Arthur