
Happy reading
Tak terasa hari sudah mulai sore, jam sudah menunukkan pukul setengah tiga sore. Tapi kedua anak manusia itu belum juga bangun siapa lagi kalau bukan Gloria dan Arthur bahkan pria itu masih menyusu di dada Gloria.
Ceklek
Pintu kamar dibuka oleh Bu Riska. Wanita 36 tahun itu terlihat kecewa dengan apa yang ia lihat, ternyata benar apa yang diucapkan Kakaknya.
"Ayah maafkan ibu," batinnya menangis merasa tak becus menjaga anaknya.
Dengan cepat Bu Riska membangunkan keduanya, dengan raut yang tak bisa dijelaskan.
"Bangun kalian berdua," ujarnya membangunkan paksa kedua orang ini.
Gloria yang sudah bangun terlebih dahulu itu kaget meluhat ibunya ada didepannya dengan raut wajah yang tak biasa. Ia bisa melihat wajah ibunya sama seperti saat kehilangan ayahnya dulu.
"Ibu, ini tak seperti yang ibu lihat."
Ucap Gloria menarik tubuhnya dari Arthur tapi ditahan oleh Arthur yang nampaknya tak mau kenyamanannya hilang.
"Bangunkan Arthur, dan temui ibu diruang tamu," ujarnya dengan tegas. Ia berlalu begitu saja keluar dari kamar anaknya.
Gloria menatap kepergian ibunya dengan sendu, tak bisa dibayangkan betapa hancurnya hati ibu saat melihat anaknya seperti ini.
"Ar bangun, ibu sudah pulang," ujarnya membangunkan Arthur yang masih memeluknya.
"Emhh."
"Hiks bangun Ar, ibu tadi melihat kita," isak Gloria mulai terdengar.
Arthur yang mendengar sayup isak tangis itu mulai membuka matanya dan betapa terkejutnya saat tahu yang menangis itu adalah Gloria.
"Kamu kenapa nangis lagi?" tanya Arthur memeluk tubuh pacarnya.
"Hiks Ar, ibu tadi kesini dan hiks hiks huaaaa."
__ADS_1
"Iya ibu kesini terus?" tanya Arthur.
"Ibu pergoki kita Ar, aku hiks takut ibu marah," ujarnya dengan isak dan air mata yang mengalir.
"Udah ya kamu tenan, kita hadapi ini bareng-bareng ya. Jangan nangis lagi ya honey, aku minta maaf soal tadi," ucapnya dengan senyum. Walau alam hatinya sedikit ragu untuk mengatakan baik-baik saja.
Gloria memakai kembali bajunya dan mencuci wajahnya agar kelihatan segar. Begitupun dengan Arthur.
Mereka keluar dari kamar menuju ruang tamu dimana Bu Riska sudah disana dengan mata memerah.
"Duduk!" titahnya dan diangguki keduanya.
"Ibu kecewa pada kalian," ucapnya.
"Maaf tant semua ini salah saya," ujar Arthur dengan lantang.
"Yah ibu lebih kecewa lagi denganmu, ibu pikir kamubisa menjaga putri ibu dengan baik. Tapi apa, ibu tak habis pikir dengan kamu."
Air mata bu riska tak bisa ditahan, ia gagal menjaga putrinya. Gloria yang melihat ibunya menangis itu memeluk ibunya, ibu yang sudah melahirkan, merawat dan membesarkannya.
"Ibu maafin Glo yang salah gak bisa menolak, jangan menangis Bu. Aku mohon maafin Glo dan Arthur," ujarnya memeluk erat ibunya.
"Ibu gak salah, ibu gak gagal. Glo yang salah disini," ujar Gloria menyalahkan dirinya.
"Ajak orang tuamu untuk datang kerumah ini, lamar Glo dengan baik-baik. Bilang Ibu menerima perjodohan kalian," tegas Bu Riska pada Arthur.
"APA!! Perjodohan? Lamar? Ibu aku masuh SMA, 2 bulan lagi aku masuk kelas 3," ujar Gloria menolak.
"Apa kamu akan terus menerus berbuat dosa dengan Arthur? Ibu gak akan membiarkan itu terjadi," ujarnya dengan nada tak bisa dibantah.
"Siap tan. Besok malam Arthur akan bawa Mama dan Papa kesini. Arthur akan lamar Glo nanti malam," tegas Arthur dengan senyum mengembang.
"Gak Gloria gak setuju. Kenapa malah lamaran sih bu? Arthur dan Gloria tidak melakukan apapun kecuali tadi, Glo masih kecil kenapa disuruh nikah?"
"Bukan menikah tapu lamaran dulu. Ibu gak mau sampai terjadi apa-apa setelah ini."
__ADS_1
"Oke lamaran, tapi nikahnya Glo belum siap!"
"Itu tergantung kedua belah pihak Glo. Kamu tak bisa menentukannya," tegasnya.
"Tapi...."
"Terima aja honey, gak ada salahnya juga kita nikah. Aku bisa menghidupi kamu dengan uangku sendiri," ujar Arthur pada Gloria.
"Tapi aku tak mau terikat Ar, tolong pahamilah aku."
"Aku belum bisa bu," lanjutnya.
Bu Riska seakan tuli akan penolakan anaknya, ia meninggalkan kedua manusia itu begitu saja.
"Ar .."
"Hmmm?"
"Aku belum mau menikah!"
"Kita bisa memulainya Glo, ibu benar kita sudah terlalu jauh berbuat dosa terlebih aku," ujarnya yang membuat Gloria terdiam.
"Lagian saat kita sudah nikah, kita bebas mau ngapain aja termasuk ehem ehem. Tanpa khawatir ketahuan orang tua kita," lanjutnya.
"Tapi aku takut Ar, aku gak bisa jadi istri yang baik. Aku tak mengenal keluargamu. Apa mereka akan menerimaku? Atau akan memusuhiku nanti."
"Kenapa pikiranmu jauh sekali hmm? Kamu jadi istri aku Glo bukan pembantu, kamu cukup layani aku. Aku tak memintamu untuk membersihkan rumah. Dan untuk Mama Papa mereka setuju jika aku menikahimu," ujarnya pada Gloria.
"Kok bisa?"
"Bisa lah."
Gloria hanya terdiam dan mencernanucapan demi ucapan Arthur tadi. Entahlah ia tak bisa menggambarkan isi hatinya saat ini. Ia tak mencintai Arthur dan ia belum lulus sekolah, bagaimana jika nanti dikeluarkan?
Bersambung
__ADS_1
JANGAN LUPA LIKE, KOMEN, VOTE, RATE, KASIH HADIAH SEIKHLASNYA AJA. FAVORITKAN JUGA YA.
📌Stuck Marriage (On going) Kisah Anak Gloria dan Arthur