
Happy reading
Gloria yang sudah selesai cuci muka itu keluar dari kamar mandi, ia melihat Arthur sedang bermain ponsel dengan senyum itu.
"Lihat apa sih? Kayak seneng gitu?" tanya Gloria pada Arthur.
"Gak ada," jawabnya menutup ponselnya.
Gloria mengangguk, "Aku ke bawah dulu," ucapnya pada Arthur.
"Kamu tinggalin sku disini sendiri?" tanya Arthur.
"Kan cuma kebawah jangan manja deh," balasnya yang sudah menutup pintu kamar itu.
Arthur berlalu menuju kamar mandi dan membasuh wajah tampannya agar terlihat segar.
Sedangkan Gloria yang sudah sampai di dapur itu tersenyum melihat ibu cantiknya sedang membuat adonan kue itu.
"Ibu," manja Gloria memeluk perut ibunya dari belakang.
"Eh udah bangun anak ibu, gimana tidurnya tadi? Nyenyak?" tanya Bu Riska pada anaknya ini.
"Hehehe maaf ya bu, aku juga gak tahu kalau Arthur ikut tidur dikasur aku," ucap Gloria.
"Ibu juga pernah muda sayang, ibu juga tahu kalau kalian sudah pernah kissing. Karena ibu dan ayah dulu juga gitu," ucap Bu Riska dengan senyum jika mengingat masa mukanya dulu dengan sang suami ia merasa malu sendiri.
"Ceritain masa muda ibu sama ayah dong, Ria mau dengar," pinta Gloria pada sang ibu.
"Kapan-kapan ibu cerita sekarang bantuin ibu buat kue."
"Kata Arthur tadi kamu kena asam lambung hmm?"
"Iya bu, tapi udah gak apa-apa kok. Anak ibu kan storng," jawabnya.
"Iya gorilanya ibu memang kuat," ucap ibu.
"Gloria ibu bykan gorila," cebiknya dengan kesal.
__ADS_1
Bu Riska hanya tertawa melihat wajah cemberut sang putri.
"Lain kali makan yang benar ya sayang, ibu gak mau kamu sakit begini," ujar ibu dan diangguki oleh Gloria.
"Iya bu."
Setelah berapa lama berkutat di dapur hingga wajah Gloria penuh dengan tepung itu akhirnya kue bolu buatan Bu Riska dan Gloria itu jadi.
"Tumben ibu bikinnya banyak? Buat siapa?" tanya Gloria mencomot kur yang sudah diiris ibunya tadi.
"Kebiasaan deh."
"Buat Arthur, sebagai ucapan terima kasih karena dia sudah mau temani dan antar kamu ke rumah sakit," jawabnya meletakkan kue bolu itu ke wadah.
"Ooo."
"Kamu panggil Arthur gih, buat makan siang," ujar ibu pada Gloria.
"Iya."
Gloria meninggalkan dapur itu menuju kamarnya. Sampai di dalam kamar Gloria melihat Arthur sedang berada di belajarnya itu.
"Kenapa lu tanya begitu?" tanya Gloria pada Arthur.
Arthur berbalik dan memperlihatkan buku diary milik Gloria yang sudah ia baca mulai dari awal itu.
"Gak sopan banget sih," ujar Gloria merebut buku diary itu.
"Jawab dulu apa yang lu suka dari Zain?" tanya Arthur, entah kenapa setelah membaca buku diary Gloria membuat amarahnya naik.
"Kenapa sih? Apa hubungannya juga sama lu!"
"Karena lu pacar gue, gue gak mau selagi kita masih status pacaran lu main dengan pria lain," tegas Arthur.
"Lu gak ada hak buat larang gue Ar," ucap Ariana yang tersulut emosi.
"Orang lain tahu kita pacaran tapi nyatanya enggak Ar. Gue cuma pemuas nafsu lua aja. Jadi berhenti larang gue untuk mencintai Zain. Cowok yang gue cinta!!" serunya dengan mata yang mengembun.
__ADS_1
Arthur terdiam, semua itu benar. Awalnya Arthur hanya menjadikan Gloria sebagai pemuas nafsunya tapi seringnya mereka bersama dan sifat-sifat Gloria membuat Arthur memiliki rasa lain pada wanita ini.
"Maaf," lirih Arthur.
Gloria mengusap air matanya dan merebut buku diary dari tangan Arthur.
"Gue mohon, beri waktu gue empat bulan untuk membuat lu jadi pacar gue seutuhnya dan bisa mencintai gue," pinta Arthur menatap Gloria.
"Hahaha habis gue cinta sama lu dan lu campakin gue begitu aja?"
"Enggak!"
"Enggak itu sekarang Ar, karena lu masih butuh gue. Coba nanti, lu bakal bosen sama gue."
Grep
Arthur memeluk Gloria dari belakang, ia dapat mendengar isak tangis dari Gloria.
"Gue bukan cewek sempurna lagi Ar. Hal yang seharusnya gue banggain sudah hilang," ujarnya dengan tangis yang tak kunjung mereda.
"Gue gak akan tinggalin lu kok Ria, gue udah terlanjur nyaman sama lu. Gue gak suka lu ceritain cowok lain dibuku lu, gue mau lu cuma nulis nama gue dibuku lu. Hanya itu," ucap Arthur pada Gloria tak lupa kecupan dipucuk kepala itu..
Gloria hanya mengangguk untuk sekarang, tidak tahu siatu saat jika Arthur mencampakkannya begitu saja.
"Ibu nyuruh kita buat makan," ucap Gloria menghapus air matanya.
"Iya. Sekarang hapus air mata kamu, aku gak mau tanye mikir yang enggak-enggak," ucap Arthur menghapus sisa sisa air mata Gloria.
"Maafin gue untuk semuanya," ucap Arthur seraya menggandeng tangan Gloria.
"Aku juga minta maaf, tapi aku belum bisa hapus nama Zain di hatiku," balas Gloria mengatakan yang sejujurnya.
"Aku harap kamu cepat membuat rasa itu untuk Zain, Ria," batin Arthur berharap.
Bersambung
📌Stuck Marriage (On going) Kisah Anak Gloria dan Arthur.
__ADS_1
Jangan lupa like + komen + vote dan masukkan ke daftar favorit kalian ya. Share juga novel ini ya. Makasih😊😊😊
Mohon maaf jika banyak PUEBI yang salah dan banyak typo. Author masih belajar soalnya.🙏🙏