Nafsu Atau Cinta

Nafsu Atau Cinta
Kafe


__ADS_3

Happy reading


Tak lama Gloria turun dengan santainya, Ia hanya memakai hoodie berwarna pink dan celana jeans berwarna hitam tak lupa tas kecil yang selalu ia bawa saat keluar.


"Udah yuk," ajak Gloria.


Arthur yang terpesona dengan penampilan sederhana gadis yang notabenya pacarnya itu tersadar.


Mereka keluar dari rumah itu tak lupa Gloria mengunci pintu rumah itu dan meletakkan kuncinya di tas. Untungnya ada dua kunci pintu rumah yang satu dibawa Ibu Riska dan satunya dibawa Gloria.


"Kenapa gak bilang kalau pakai motor?" tanya Gloria menatap motor sport itu.


"Lah kan ini tujuannya aku gak bolehin kamu pakai rok," ujar Arthur pada Gloria.


"Kamu gak akan ehem ehem di atas motor kan Ar?" tanya Gloria tiba-tiba. Berberapa hari bersama Arthur membuatnya tahu jika Arthur ada penggila se*s.


"Kalau kamu mau aku sih siap siap aja honey, apa perlu aku siapin hotel buat kamu hmm?" goda Arthur yang suka melihat wajah memerah Gloria.


"Enggak mau, katanya mau jalan-jalan ayo. Sebelum aku berubah pikiran dan gak jadi," ujar Gloria.


Arthur menggeleng, bisa kacau rencananya kalau Gloria tak jadi jalan.


"Emang kita mau kemana?" tanya Gloria pada Arthur yang sudah ada diatas motor.


"Jalan-jalan dong. Yuk naik!"


"Aku tahu tapi kemana?" tanya Gloria yang sudah berada di atas motor.


"Nanti kamu juga tahu," jawabnya.


"Dingin tahu gak sih Ar, enaknya mah tidur. Kamu malah ngajak jalan," gerutu Gloria.


"Kalau kamu mau aku bisa angetin kamu pake tubuh aku, gimana?"


"Mesum aja sih."


Arthur tersenyum dibalik helm full facenya. Ia menarik tangan Gloria agar memeluk perutnya.


"Modus... Bilang aja mau di peluk!!"


"Kalau aku bilang kamu juga gak bakal peluk aku," ujar Arthur dan dibenarkan oleh Gloria dalam hati.


Arthur menjalankan motornya keluar dari perkarangan rumah Gloria. Motor itu membelah jalan raya yang cukup lancar. Mungkin karena baru saja hujan jadi hampir semua enak tidur bareng pasangan.


Udara dingin menembus kulit mereka, Gloria yang merasakan itu merapatkan tubuhnya kebadan Arthur tak lupa pelukan itupun semakin kencang.

__ADS_1


"Dingin hmm?" tanya Arthur dan diangguki oleh Gloria yang ada di belakangnya. Arthur memasukkan tangan Gloria ke dalam saku jaket tebal yang ia pakai.


"Peluk aja dengan erat," ujar Arthur.


Sampailah mereka disebuah kafe yang tak lain adalab kafe keluarga Arthur yang sudah diserahkan ke Arthur untuk melatih tanggung jawab Arthur sebelum terjun ke perusahaan Bara dan semua itu terbukti dengan berkembangnya kafe ini di berbagai wilayah.


"Kenapa ke kafe? Kita kan udah makan tadi?" tanya Gloria menatap bingung Arthur.


"Kita cuma sebentar disini sampai cuacanya menghangat, kamu tahu cuaca disini sangat dingin," ujar Arthur membuka helm full facenya hingga terlihatlah wajah tampan Arthur.


"Berapa lama, ibu pesan gak boleh sampai larut," uhar Gloria turun dari motor itu.


"Gak lama kok yuk," ajaknya menggandeng tangan Gloria masuk ke dalam kafe itu hingga membuat para perempuan disana menatap kagum Arthur sedangkan Gloria risih bahkan sangat.


"Kamu banyak fans juga ya ternyata, bukan cuma banyak cewek," sindir Gloria. Bukannya marah Arthur malah tersenyum bangga karena itu memang benar adanya.


"Kamu harusnya bangga bisa aku gandeng gini," ucapnya menaiki tangga itu.


"Rin, antar minuman dan cemilan ke ruanganku," perintah Arthur pada salah satu pelayan disana.


"Siap pak."


Gloria hanya terbengong dengan tingkah Arthur yang seenak udel nyuruh orang, dan sekarang ia jadi bingung kenapa pelayan tadi menurut saja.


"Kenapa suruh-suruh orang?" tanya Gloria pada Arthur.


Dan sampailah mereka disebuah ruangan yang cukup besar menurut Gloria.


"Ini ruangan siapa?" tanya Gloria pada Arthur.


"Punyakulah, kenapa terpesona ya?" tanya Arthur yang duduk di kursi kebesarannya sebagai pimpinan.


"Sombong."


Tok! Tok! Tok!


"Permisi pak, ini minumannya di taruh mana?" tanya pelayan tadi.


"Di meja itu aja," jawabnya santai.


"Mari bu, pak."


"What!! Ibu?" batin Gloria. Masa diusianya yang masih 17 tahun di panggil ibu.


"Ibu Ria tolong bawain cemilan itu pada bapak dong," ledek Arthur saat melihat wajah suram Gloria.

__ADS_1


"Aku bukan ibu-ibu!! Umurku masih 17 tahun! Kenapa dipanggil ibu coba," gerutu Gloria mengambil jus dan meletakkannya dimeja Arthur.


"Hahaha sudah jangan gitu mukanya. Mereka panggil kamu ibu karena kamu ke sininya sama pemilik kafe, otomatis mereka memanggil kamu ibu," ujar Arthur menarik Gloria hingga gadis itu duduk dipangkuannya.


"Aku gak suka dipanggil ibu," cemberutnya.


Arthur menatap wajah cantik Gloria dan memutar kursinya hingga posisi mereka membelakangi pintu.


"Sangat indah!! Kenapa ada danaunya disana?" tanya Gloria menunjuk danau buatan yang sengaja Arthur rancang karena dulu disana hanya ladang kosong saja.


"Ternyata mengembalikan moodmu sangat mudah," batinnya memeluk tubuh Gloria dari belakang.


"Jawab dong Ar," desak Gloria yang ingin bangkit tapi ditahan oleh Arthur yang sudah mendekatkan tubuh mereka dengan kaca itu.


"Apa yang harus aku jawab?" tanya Arthur seraya mengecup tengkuk leher Gloria dengan tangan yang sudah masuk kedalam hoodie yang dipakai Gloria.


"Kenapa emmmm ada danau?" tanyanya menahan tangan Arthur yang sudah sampai di dadanya.


"Karena dibuatlah, nanti kita ke sana," ucapnya menikmati wajah Gloria yang memerah.


"Ar.. jangan," lirih Gloria saat merasa pengait bra itu sudah terlepas.


"Emmhh," gelihat Gloria yang tak tahan akan rem asan tangan Arthur di dada indahnya.


Arthur semakin mer emas kuat dada sintal yang masih alami belum terjamah akan obat apapun itu. Karena selama ini ia sering mendapati wanita yang sudah bekas apalagi dadanya hanya buatan manusia agar terlihat besar tapi Arthur tak menyukai itu. Entah kenapa ia hanya mau pada tubuh Gloria yang masih ori dan sudah menjadu candunya sejak malam pertama itu.


Arthur membalik tubuh Gloria hingga mereka saling berhadapan dan Arthur mendudukkan Gloria dipangkuannya. Arthur bisa melihat wajah malu dan merah Gloria jika begini.


"Aku mau Honey!!" suara serak Arthur membuat Gloria bergidik.


"Tapi kata kamu mau jalan tadi," ujar Gloria yang sedikit kecewa.


"Ini juga jalan-jalan honey, mendaki gunung, menuruni lembah dan memasuki gua," jawab Arthur kembali membungkam bibir Gloria yang hendak menjawab.


"Ar emmm."


Arthur tak memberi kesempatan Gloria untuk menjawab, ia terus mencium ganas bibir itu dan mengekspor mulut sang pacar.


Hingga pintu dibuka oleh seseorang dari luar.


Ceklek


"Sayang...


Bersambung

__ADS_1


Jangan lupa like + komen + vote dan masukkan ke daftar favorit kalian ya. Share juga novel ini ya. Makasih😊😊😊


Mohon maaf jika banyak PUEBI yang salah dan banyak typo. Author masih belajar soalnya.🙏🙏


__ADS_2