
"Sekarang aku mengerti kenapa dulu kau bersikap dingin. Tadi malam aku benar-benar berada di posisi mu dulu, Wir...!"
"Tapi kita berbeda Bay, anak dan istri mu selamat sedangkan anak dan istri ku tidak."
"Ini kah alasan mu yang selalu memanjakan Mawar?" Bayu bertanya.
"Mungkin iya, tapi kita sebagai seorang suami sudah sepatutnya memanjakan istri kita."
"Aku belajar banyak dari mu Wir, kau memang guru terbaik ku dalam segala hal!"
"Entah kenapa aku geli mendengar pujian mu ini," ucap Wira dengan mengangkat kedua bahunya.
"Bajingan satu ini, entah kapan hidup mu itu seriusnya?" Bayu kesal.
"Hidup itu jangan terlalu serius Bay, nikmati aja. Nanti pusing sendiri kalau terlalu serius!" ujar Wira lalu beranjak dari duduknya.
"Mau kemana kau?" tanya Bayu kesal.
Wira tidak jadi pergi, pria ini kembali duduk di kursi kantin rumah sakit lalu menyesap kopinya yang belum habis.
Bayu mengerutkan keningnya saat melihat wajah serius Wira.
"Kau ini kenapa hah?" tanya Bayu semakin kesal.
"Istri mu baru saja melahirkan. Selamat berpuasa!" bisik Wira membuat Bayu tidak mengerti.
"Apanya yang puasa, ini bukan bulan puasa. Kenapa aku harus berpuasa?"
"Kau memang pria bodoh!" ejek Wira, "maksud ku itu adalah selama beberapa bulan kau tidak bisa menggoyang istri mu!"
Bayu sejenak terdiam, sebagai seorang suami yang baru saja memiliki anak ia belum tidak mengerti hal beginian.
"Bukannya cuma empat puluh hari saja ya?"
"Normalnya begitu, tapi beda dengan istri-istri kita yang melahirkan secara cesar dan belum cukup bulan. Ada beberapa hal yang harus kau pelajari, mau semahal apa pun operasi yang di lakukan istri mu jika dia takut percuma saja. Kau tidak akan mendapatkan jatah!"
"Heh, kau ini serius kah?" Bayu tidak percaya.
"Aku dulu sampai tiga bulan menunggu Mawar. Hmm,...rasanya kedutan!" bohong Wira mulai mengerjai temannya ini.
"Ah masa, lama sekali?"
"Aku serius, tiga bulan pedang kita tidak asah. Kau bayangkan saja dulu sakitnya sampai ke ubun-ubun!"
"Duh, bahaya ini. Apa lagi mertua ku akan tinggal bersama kami setelah ini."
__ADS_1
"Wah, kau tahu sendiri ibu-ibu, pasti sampai beberapa bulan ke depan kau tidak bisa mengasah pedang mu."
Wira yang jahil mulai menakuti Bayu, membuat temannya itu langsung kepikiran.
"Apa kau ingat jika aku pernah mengajak Mawar pergi liburan. Itu sengaja aku lakukan, jika di rumah ada mamah ku yang selalu mengingatkan!"
"Si brengsek ini menakuti ku saja. Aku tidak percaya!"
"Jika kau tidak percaya, mari kita pergi ke Dokter kandungan istri mu," ajak Wira begitu menyakinkan.
Bayu hanya diam, ingin mengatakan jika Wira bohong tapi Wira sudah pernah mengalaminya. Jadilah Bayu percaya dengan semua ucapan Wira.
"Percaya pada ku, mertua mu pasti akan banyak mengeluarkan pantangan untuk istri mu. Selamat bersenang-senang ya Bayu...dah.....!"
Wira semakin mengejek Bayu, sambil menahan ketawanya Wira pergi menuju ruangan di mana Tia di rawat karena sang istri dan mamah ada di sana.
Bayu menghela nafas panjang, belum apa-apa pria ini sudah galau terlebih dahulu.
Mawar curiga ketika melihat wajah suami yang tersenyum lebar sedangkan wajah Bayu begitu kusut.
Wira mengajak Mawar dan mamahnya pulang. Di perjalanan pulang Mawar kembali ingat dengan wajah kusut Bayu, Mawar yakin jika suaminya ini sudah bicara yang bukan-bukan.
"Mas, kamu pasti mengerjai Bayu kan?" tebak Mawar.
"Buat hiburan, apa salahnya?"
"Aku kan hanya bicara kenyataan, kalau istri melahirkan pak suami harus siap berpuasa. Apa aku salah?"
"Kamu memang tidak salah mas, pasti kamu melebihkan omongan. Biasanya juga seperti itu...!"
"Ya biarin aja, siapa suruh dia percaya sama aku!"
Ingin sekali Asti menggeplak kepala anaknya ini yang sangat suka mengerjai orang lain.
"Kamu juga nanti puasa lagi Wira....!" celetuk Asti, "ingat ya, Mawar kemarin melahirkan dengan operasi. Seharusnya kalian memberi jarak pada kehamilan tapi nyatanya bobol juga. Kamu itu yang harus waspada!"
Mawar dan Wira langsung terdiam.
"Semua gara-gara kamu mas!" kesal Mawar.
"Iya,...iya,....semua salah mas!''
Mawar termasuk wanita yang paling kuat. Hamil yang sekarang tidak terlalu rewel tapi suasana hatinya saja yang terkadang suka berubah.
Setibanya di rumah, Wira langsung menghubungi Dokter kandungan istrinya. Sebenarnya, Dokter kandungan Mawar ini sangat kesal pada Wira dan Mawar yang tidak sabaran untuk memiliki anak lagi tapi mau bagaimana lagi semuanya kebobolan.
__ADS_1
"Entah kenapa aku takut dengan resiko yang pernah aku dengar," batin Wira mulai merasa takut.
Melihat Mawar yang baru saja masuk kedalam kamar, Wira langsung memeluknya.
"Loh mas, kamu kenapa?" tanya Mawar heran.
"Gak kenapa-kenapa, hanya ingin memeluk mu saja. Sayang,...!''
"Iya mas, ada apa?"
"Jangan pernah tinggalkan mas ya?"
"Aku tidak akan meninggalkan mu mas. Kita akan menua bersama-sama dengan bahagia!"
Wira lega mendengarnya, pernah merasa kehilangan membuat Wira tiba-tiba saja memiliki ketakutan yang amat besar.
Lain lagi dengan cerita kehamilan Farah, pasangan suami istri ini saling pandang lalu tertawa terbahak-bahak.
"Aku tidak percaya jika bajingan seperti ku ini sebentar lagi akan di panggil ayah!" ucap Joni seolah geli sendiri.
"Jangankan kau, aku saja masih tidak percaya jika sekarang aku hamil. Dulu banyak laki-laki yang tidur dengan ku, tapi kenapa hanya ****** mu yang sangkut hah?"
"Aku juga banyak tidur dengan banyak wanita. Menurut mu, adakah satu dari mereka yang hamil?" Joni bertanya balik.
"Tidak tahu, ku rasa tidak. Punya mu lebih berkedut di milik ku saja. Aku pawangnya!" ujar Farah membuat mereka berdua kembali tertawa.
"Istri ku, menurut mu ya. Jika anak kita lahir akan mirip siapa nantinya?" tanya Joni dengan penasaran.
"Tentu saja mirip dengan ku, aku yang melahirkannya!"
"Tapikan bibitnya dari aku, biasanya wajah anak akan mirip dengan papahnya. Aku yakin anak mu itu hanya numpang tinggal saja di dalam perut mu!"
"Sialan...!" umpat Farah kesal, "kau ini sangat menyebalkan!"
"Kau ini ku beri tahu kok tidak percaya!"
Joni kembali tertawa sambil mengusap perut istrinya yang masih datar itu.
"Berhenti tertawa, kau membuat ku mual!"
"Seperti ini aja kau berkata mual. Tapi, kalau ku sodorkan tongkol ku, kau malah keenakan!"
"Ada baiknya kau kembali ke kantor. Nanti kau di pecat Jonas!"
"Berani memecat ku akan ku bakar kantor itu...!"
__ADS_1
"Sombong!"
"Sombong itu wajar, asal jangan berlebihan!"