
Hup,.....
Jonas yang sudah tidak tahan langsung menancapkan pedangnya. Dalam sekali hingga membuat Wiwi merasa sedikit kesakitan.
Dengan bertumpu pada dinding, untuk pertama kalinya Wiwi membuat kamar mandi pribadi milik Jonas bergoyang. Tanda merah ada di mana-mana, sambil bergoyang Wiwi terus membuat tanda merah di leher dan dada suaminya.
Jonas gila, baru sekarang pria ini merasakan nikmatnya bermain di kamar mandi. Bukan Jonas melainkan Wiwi, wanita ini mengarahkan beberapa gerakan. Jonas yang polos begitu bodohnya mau mengikuti permainan Wiwi.
"Aku hampir keluar...!" bisik Jonas yang sudah tidak tahan.
Lelaki ini semakin mempercepat gerakannya, bunyi gesekan kulit dan percikan air menjadi satu alunan nada.
Plok....plok....plok...ser...ser...
Aaaaaaaaah.......tubuh Jonas menegang, dengan sekuat tenaga di tancapkannya lebih dalam pedang yang masih tumpul tersebut kedalam goa Wiwi.
Setelah selesai, Jonas melepaskan tubuh Wiwi. Lelaki ini langsung me balikan tubuhnya malu karena mereka sama-sama tidak menggunakan pakaian sehelai benang pun.
Masa bodoh, Wiwi tertawa puas dalam hatinya. Wanita ini dengan santainya melanjutkan mandi, setelah Wiwi keluar dari kamar mandi barulah Jonas mandi.
Sudah rapi dan wangi, Jonas mengajak Wiwi turun makan malam. Di rumah ini Jonas hanya tinggal dengan beberapa pembantunya.
Saat melayani majikannya makan malam, dua orang pembantu perempuan tersebut merasa malu ketika melihat leher Jonas dan Wiwi di penuhi tanda merah.
Selesai makan malam, mereka kembali ke kamar dengan keadaan kembali canggung. Wiwi masa bodoh, wanita ini hanya berbalas chat dengan Farah.
Jonas malu sendiri ketika berkaca, "perempuan ini benar-benar liar!" ucap Jonas kedengaran Wiwi.
"Kau yang liar atau aku hah?"
Jonas memicingkan matanya, "tentu saja kau...!" seru Jonas kesal.
"Kau begitu menikmatinya wahai suami ku. Jangan munafik, jika tubuh mu menolak tidak mungkin burung mu bangun!"
"Tidak bisakah gaya bicara mu itu di takar hah?"
"Berisik!" sentak Wiwi, "aku mau tidur!" ucapnya lalu merebahkan diri di sofa karena Jonas tidak mengizinkan Wiwi untuk tidur di ranjangnya.
Lima, sepuluh, lima belas menit berlalu. Wiwi sudah berlayar ke pulau mimpi. Tinggallah Jonas sendiri yang merasa aneh sekarang.
Pria ini mondar mandir di kamar sambil memperhatikan istrinya yang tidur begitu pulsanya.
"Sialan!" umpat Jonas, "kenapa bukitnya begitu besar. Kenapa aku mendadak gila yang ingin mengisapnya?"
__ADS_1
Jonas terus bertarung dengan hatinya. Tidak kuat melihat Wiwi tidur, tubuh wanita ini sungguh menggoda hasratnya.
"Ah, kenapa kau tiba-tiba menegang?"
Jonas memegang burungnya sendiri. Untuk beberapa menit Jonas masih bisa menahan, tapi di menit berikutnya tidak bisa.
Darahnya mengalir sampai ubun-ubun, sang adik tercinta minta di kembali di goyang. Tiba-tiba saja Jonas sudah ada di atas tubuh Wiwi. Wiwi yang merasa nafasnya sesak terbangun.
"Mau apa kau hah?" tanya Wiwi begitu terkejut ketika melihat suaminya sudah duduk di atas perutnya tanpa mengenakan pakaian.
Jonas tidak menjawab, pria ini seketika mencium bibir istrinya. Memagut dengan begitu mesra, Wiwi yang mendapatkan serangan tiba-tiba tidak bisa berbuat apa-apa.
Sudah tidak tahan untuk meremas, tangan Jonas merayap masuk kedalam pakaian istrinya.
Krek.....
Jonas yang gila merobek pakaian Wiwi, melepas pengait bra lalu membuangnya sembarang. Jonas menenggelamkan wajahnya di antara sekat perbukitan.
Aaaaaaaaw........
Wiwi menjerit kesakitan ketika Jonas tiba-tiba mengisap put*ngnya dalam-dalam. Pria ini seakan rakus, belum pernah dia merasakan nikmatnya permainan seperti ini.
"Jonas, kau gila....!"
Jleb,.....
Tanpa permisi lagi Jonas main tancap saja. Tidak, kurang nikmat bermain di atas Sofa, Jonas menggendong istrinya pindah ke atas ranjang.
"Akan ku hajar kau malam ini," ucap Jonas yang geram.
Jonas kembali memasukan burungnya lalu membuat gerakan naik turun. Keras juga tenaga Jonas, membuat Wiwi merintih. Semakin Wiwi merintih, semakin cepat pula gerakannya.
Cepak....cepak...cepak....
Jonas keluar tanpa memperdulikan kepuasan istrinya. Tidak, belum puas. Jonas meminta Wiwi kembali mengulum pedangnya agar kembali bangun.
"Terus, terus lakukan. Yang dalam, sampai ujung...!" ucap Jonas yang sudah kecanduan.
Kembali melakukan hubungan suami istri, sungguh Wiwi kewalahan malam ini.
"Si brengsek ini ternyata kuat juga!" batin Wiwi mulai kesal.
Malam ini, entah berapa ronde permainan yang mereka lakukan. Wiwi tidak habis pikir, lelaki yang di kiranya polos ternyata bisa seliar ini. Bukan hanya Wiwi dan Jonas, jauh di apartemen sana Farah dan Joni sedang mabuk kepayang saling memuaskan.
__ADS_1
Beda lagi dengan Wira, lelaki ini tidak bisa minta jatah karena sampai detik ini anaknya tidak mau tidur. Entah apa yang membuat mata Al terang benderang sampai tengah malam seperti ini. Kalau tahu saja seperti ini, Wira tadi mengizinkan mamahnya untuk tidur bersama Al.
"Mas, aku tidur duluan ya...!" kata Mawar yang sudah tidak kuat lagi menahan kantuknya.
"Sebentar lagi sayang, aku akan menindurkan Al."
"Besok malam saja mas, aku benar-benar tidak tahan lagi."
"Berani kau tidur akan ku congkel bola mata mu!" ancam Wira malah membuat Al tertawa, "kau, kenapa tertawa hah? cepat tidur, papah ingin absen malam ini."
Ngek...ngek.....plak......
Tanpa sengaja Al malah memukul wajah papahnya.
"Aduh, kenapa memukul papah?"
"Mas, kamu ini sama anak aja kok ribut!"
"Anak kamu ini nakal. Masa wajah papahnya di geplak!"
Mawar kesal, jika seperti ini anaknya tidak akan tidur. Mau tidak mau Mawar membawa Al pergi ke kamar Asti. Tanpa sungkan Mawar membangunkan mertuanya.
"Ada apa Mawar, Al kenapa?" tanya Asti setengah mengantuk.
"Al gak mau tidur mah, mungkin karena dia sudah terbiasa tidur di kamar mamah!" jawab Mawar sambil menggendong anaknya.
"Mamah bilang juga apa, biar tidur sama mamah. Suami mu itu ngeyelan!"
Asti langsung menggendong cucunya, merebahkannya di tempat tidur lalu memberikan sebotol susu. Tidak sampai lima menit, Al akhirnya tidur.
"Astaga, kenapa gampang sekali tidurnya?" Mawar menghembuskan nafas lelah.
"Bagaimana sayang, apa Al sudah tidur?" tanya Wira yang baru saja masuk ke kamar mamahnya.
"Kamu itu, ngeyelan!" celetuk Asti kesal.
"Ya ampun, dasar ikan buntal. Giliran tidur sama mamah dan papahnya gak mau malah milih tidur sama nenek-nenek!"
Plak,....
Asti memukul lengan anaknya, "kamu kalau ngomong asal mangap saja. Sudah, sana keluar!" usir Asti pada anak dan menantunya.
Wira dan Mawar kembali ke kamar. Tentu saja mata Wira semakin cerah, lelaki ini langsung mengeksekusi sang istri. Mawar hanya menurut, membiarkan suaminya bermain sendiri karena dirinya benar-benar sudah mengantuk.
__ADS_1