Nafsu Sang Duda

Nafsu Sang Duda
Chapter 66


__ADS_3

"Apa kau tidak merasa curiga pada mantan adik ipar mu itu hah?"


Pertanyaan Tia membuat Wira bingung.


"Maksudnya bagaimana?" tanya Wira tidak mengerti, "curiga apa yang di curigai?"


"Dia datang menemui ku hanya untuk menjelekkan almarhum Dania dan Mawar. Kalau Mawar gak ada hubungannya, tapi kalau Dania aku heran aja!"


"Kenapa harus mengingat masa lalu hah?" Wira tidak suka.


"Bukan begitu maksud ku Wir, di saat Dania pendarahan di rumah tidak ada siapapun. Entah kenapa tiba-tiba sekarang aku memiliki feeling jika Widya sedang menyembunyikan sesuatu!"


"Sayang, kau ini bicara apa sih?"


Bayu mencubit lengan istrinya.


"Tidak, bukan maksud ku untuk membuka luka lama mu Wira. Tapi, kenapa selama ini kita tidak pernah terpikir akan satu hal."


"Satu hal maksud mu apa, bicara yang jelas!"


"Baru satu minggu Dania meninggal tiba-tiba saja Widya memutuskan pindah ke Singapore. Padahal kita paham betul sikap dia."


Kening Wira berkerut, pria ini menggigit jarinya mulai penasaran dengan semua yang di ucapkan Tia.


"Jangan bilang jika Widya tega mencelakai Dania. Jika semua itu benar aku akan menuntut dia habis-habisan!" ucap Wira dengan wajah serius.


"Apa yang akan kau lakukan sekarang?" tanya Bayu membuat Wira terdiam.


Jika pemikiran mereka benar, tidak ada bukti yang bisa menguatkan. Kejadian lima tahun lalu, kembali membuat Wira penasaran. Jika di ingat, pada saat Wira pergi ke luar kota saat itu usia kandungan Dania baru delapan bulan.


Wira pulang, menemui Mawar lalu menceritakan apa yang baru saja ia obrolkan bersama Bayu dan Tia.


Mawar sebenarnya bingung ingin menanggapi seperti apa. Namun, jika di lihat dari wajah suaminya, Wira sangat ingin sekali mencari tahu sebab kematian Dania. Bukannya apa-apa, pada saat itu Dokter menyatakan jika Dania pendarahan hebat hingga Dania dan anaknya di nyatakan meninggal dunia.


"Kenapa kau tidak mendekati adik ipar mu itu mas?"


"Mendekati bagaimana?" tanya Wira tidak mengerti.


"Ya mendekati, kau pura-pura suka padanya!"


"Gila...! aku gak mau!" ucap Wira menolak saran dari istrinya.


"Lah hanya pura-pura, biasanya orang seperti itu mudah di dekati dan dia pasti akan berkata jujur nanti."


"Aduh, kamu gak ada saran lain apa? masa iya kamu rela melihat suami mu seperti itu?"


"Ya gak ada, emangnya mas Wira punya gambaran seperti apa kejadian di masa lalu?"

__ADS_1


Huft,....


Wira menarik nafas panjang.


"Sejak dulu mas sangat risih sama Widya. Masa iya kamu menyuruh mas dekat sama dia?"


"Hanya pura-pura. Tapi, jika mas beneran kecantol sama dia awas aja!"


"Mas gak mau ah!"


Sekali lagi Wira menolak.


"Ya udah, kalau begitu sekarang gak usah bahas masalah meninggalnya almarhum mbak Dania...!"


Wira terdiam, bingung sendiri ingin melakukan apa. Sebenarnya saran dari Mawar ada bagusnya juga, mengingat Widya jika bicara selalu ceplas ceplos.


"Di pikirkan nanti saja. Mas mau mandi, mau jemput mamah!"


"Mandi yang bersih ya...!" seru Mawar.


"Bersih pun gak juga kamu servis...!" sahut Wira.


Tidak jadi masuk ke kamar mandi, Wira malah balik lagi menghampiri istrinya.


"Sayang, sudah satu bulan lebih nih. Kapan dong kita kikuk lagi?"


"Mas benar-benar layu. Layu banget, kurang asupan!"


"Udah ah, sana mandi...!''


"Sayang....!" rengek Wira, "Mawar ku,....goyang mas mu ini dong...!"


"Apa kamu gak malu sama anak mas?"


"Ya gak, kan dia belum mengerti apa-apa!"


"Mas,....!"


Mawar melepas sandalnya, Wira yang melihat hal tersebut langsung lari masuk ke kamar mandi.


Apa kabar Farah? wanita ini sudah menjalani kehidupan yang cukup baik meskipun di pikiran masih teringat dengan Yunita.


Untung saja Farah memiliki pengalaman kerja yang cukup bagus. Wanita ini sekarang bekerja sebagai Sekretaris pribadi Joni yang ternyata pria ini adalah anak orang kaya di luar negeri. Sedangkan Wiwi, wanita ini bekerja sebagai office girl karena dirinya tidak memiliki pendidikan atau pun pengalaman kerja apa pun selain di bar.


"Si brengsek ini, orang kaya tapi kenapa dia menjual ku dulu?"


Sejak tahu latar belakang Joni, Farah masih menyimpan kekesalan pada pria tersebut.

__ADS_1


"Sebenarnya aku tidak suka menjalankan bisnis seperti ini. Kakak ku yang sialan itu terus memaksa ku untuk pulang ke tempat ini."


"Itu tidak ada hubungannya dengan ku. Yang membuat ku heran kenapa kau membuka lowongan pekerjaan yang ingin mencari sugar daddy hah?"


"Karena duitnya lumayan!" jawab Joni dengan santainya.


"Pemain handal!" seru Wiwi.


Ingin sekali Farah menendang kepala Joni. Bertahun-tahun berteman dengan Joni bahkan mereka pernah satu sekolah Farah tidak pernah tahu jika bajingan ini lahir dari keluarga kaya.


"Wah, aku memberi kalian pekerjaan untuk bekerja. Bukan untuk nongkrong di restoran seperti ini," ucap suara yang sangat di kenali Joni. Siapa lagi kalau bukan kakak laki-lakinya yang bernama Jonas.


Farah dan Wiwi langsung membuang wajah tidak enak.


"Aku mau membantu mu bekerja saja seharusnya kau bersyukur. Semena-mena kalau berucap!" sahut Joni.


"Bukan kau, tapi kedua teman mu ini. Pulang bukannya bawa calon istri malah bawa beban!"


Jleb,....


Farah dan Wiwi menelan saliva mereka. Sudah biasa kedua wanita ini mendapatkan omongan yang kurang enak di dengar namun hanya di tanggapi santai saja.


"Ini kan hari sabtu bos. Perasaan perusahaan bekerja hanya senin sampai jum'at saja."


Dengan beraninya Wiwi mengeluarkan suara.


Jonas memicingkan matanya, tidak suka ketika Wiwi berani menyahut omongannya.


"Dasar tidak sopan!" ucap Jonas.


"Kau yang tidak sopan. Wiwi benar, kenapa kau ini suka marah-marah. Sana pulang, ngapain kau di sini...?"


Joni mendorong kakaknya agar pergi dari tempat itu.


"Bajingan ini...!" umpat Jonas yang kesal. Jonas kemudian pergi, tidak lupa dengan tatapan tajam tertuju ke arah Wiwi.


Mereka bertiga tidak peduli dan kembali melanjutkan makan siang mereka. Sejauh ini, biaya hidup dan tempat tinggal Farah dan Wiwi di tanggung oleh Joni.


"Farah kenapa?" tanya Wiwi yang merasa heran karena sejak tadi Farah diam saja.


"Mami Ger memasang foto kita berdua. Dia sedang mencari kita!" ujar Farah memberitahu.


"Sudah, biarkan saja. Germo itu tidak akan bisa menemukan kalian berdua," kata Joni.


"Tidak, dia memfitnah kami berdua. Mengatakan jika aku dan Wiwi adalah penipu yang sudah membawa kabur hartanya. Sialan!"


"Aku jadi takut!" ucap Wiwi dengan wajah khawatir.

__ADS_1


"Itu kan hanya alasan agar dia bisa menemukan kalian. Tidak mungkin dia menuliskan kata-kata yang akan membuat dia susah nanti. Abaikan, aku akan mengurusnya nanti...!" ucap Joni menenangkan kedua wanita tersebut.


__ADS_2