
Wiwi dan anaknya sudah di nyatakan sehat, mereka sudah di perbolehkan untuk pulang. Jonas sangat bahagia, meminta pada pembantu di rumahnya untuk memasak makanan enak untuk sang istri.
Jonas juga sudah mengatur semua jadwal kerjanya. Pria ini mengurangi beberapa pekerjaan yang di luar agar bisa menemani sang istri mengurus anak mereka di rumah.
Huft,...
Wiwi menarik nafas panjang, memandang wajah mungil yang sedang terlelap tidur di depannya.
"Setelah kau benar-benar sehat, aku janji akan mengajak mu jalan-jalan keluar," ujar Jonas.
"Tidak, aku tidak mau. Aku malu dengan pemberitaan kemarin. Aku tidak ingin kau menjadi bahan gunjingan banyak orang,'' tolak Wiwi.
"Sudah ku bilang jangan di bahas. Tidak akan ada yang berani mengatai mu atau pun diri ku. Percayalah!"
"Tetap saja aku tidak ingin membuat nama baik mu rusak!"
"Berhenti bicara, aku tidak suka membahasnya!"
Wiwi menatap wajah datar suaminya, Jonas memilih duduk di sofa yang berada tak jauh dari box bayi anaknya.
Wiwi serba salah, bingung ingin berkata apa lagi.
"Jika kau masih ingin membahas masalah tersebut. Akan ku hukum kau!" ancam Jonas.
"Yang ada aku yang akan menghukum mu!" sahut Wiwi membuat dahi Jonas berkerut.
"Lah, kenapa jadi aku?"
"Ya iyalah, apa kau lupa apa kata Dokter yang melarang kita untuk berhubungan suami istri selama beberapa minggu?"
Lemas sudah tulang kaki Jonas, ini masalah yang paling berat ia hadapi sekarang di banding masalah berita.
"Ku pikir Dokter itu hanya bercanda!" celetuk Jonas lalu yang fokus pada ponselnya. Ternyata Jonas sedang mencaritahu kebenarannya lewat Google.
"Semua kau anggap bercanda!"
"Lalu bagaimana dengan nasib ku sekarang hah?" keluh Jonas langsung memeluk istrinya.
"Kocok sendiri, apa gunanya tangan mu?" gurau Wiwi lalu tertawa.
Salah satu kebahagiaan Jonas adalah melihat Wiwi tertawa meskipun kali ini harus dirinya yang akan menjadi korban.
__ADS_1
Jam menunjuk pukul tiga sore, Jonas pamit pergi sebentar pada istrinya dengan alasan pekerjaan. Tapi nyatanya Jonas pergi untuk melihat keadaan Sania.
"Apa wanita terkutuk ini masih hidup?" tanya Jonas dengan suara beratnya.
"Masih tuan. Seperti perintah tuan, kami hanya memberinya makan dan minum dua hari sekali."
"Lepaskan aku!" lirih Sania tak berdaya.
"Berkat ulah mu, istri ku tidak mau keluar rumah bahkan untuk sekedar pergi berbelanja saja dia tidak akan mau. Menurut mu, hukuman apa yang pantas kau terima hah?"
"Aku mohon lepaskan aku!" rengek Sania, "jika kau membebaskan ku, kau bebas memiliki ku. Aku janji akan melakukan apa pun yang kau mau!"
Jonas tertawa, pria ini sama sekali tidak tertarik dengan penawaran dari Sania.
"Aku tidak ingin melihat perempuan ini lagi. Buat dia cacat dan buang dia ketempat yang terpencil!" titah Jonas langsung membuat mata Sania terbelalak.
"Tidak, aku tidak mau. Lepaskan aku, Jonas kau keterlaluan!"
"Lebih keterlaluan kau. Kau hampir saja membunuh anak dan istri ku. Ini semua hukuman untuk mu!" ucap Jonas dengan mata memerah.
"Istri dan anak mu hanya hampir mati. Tapi, kau akan membuat ku cacat. Ini tidak adil...!"
"Sebegitu entengnya nyawa seseorang di mata mu. kau bilang hanya hampir,....!"
Jonas menampar bahkan menendang Sania.
"Jika aku melepaskan mu, bisa saja kau akan bertindak lebih jauh lagi," ujar Jonas yang masih kekeh dengan rencananya, "buat dia bisu dan tidak bisa berjalan!" titah Jonas dengan kejam.
"Maaf tuan, sebelum kami mengeksekusinya. Apa kami boleh menyentuhnya?" tanya salah seorang anak buah Jonas.
"Terserah kalian, asal jalan kan saja perintah ku!"
"Baik tuan!"
Sania tidak bisa berkata-kata lagi, ulu hatinya terasa sakit akibat di tendang Jonas.Dengan senyum sinis penuh kemarahan Jonas meninggalkan Sania sang mantan sekretaris di mangsa dengan beberapa anak buahnya.
Secuil cerita tentang Mawar dan Wira, sudah lama rasanya Mawar tidak berziarah ke makam kedua orangtua dan adiknya. Dengan senang hati Wira mengantar sang istri, sedangkan kedua anaknya di jaga oleh Asti.
Menyusuri jalan yang tak begitu lebar, Wira terus menggenggam tangan Mawar menuju parkiran karena mereka sudah selesai berziarah.
Tiba-tiba saja hujan turun sangat deras, membuat Wira dan Mawar harus berteduh di saung kecil yang berada di luar pemakaman karena tempat parkir mobil sedikit jauh dari gerbang pemakaman.
__ADS_1
"Sayang, kau pasti sangat kedinginan. Mas bilang juga apa tadi, pakai jaket."
"Gak kok mas, ini bajunya juga tebal."
"Tapi mas gak mau kamu sakit..!"
"Heleh, perkara dingin aja di bahas di sini. Dasar kurang bahagia!" celetuk suara pria yang sejak tadi berada di belakang Wira dan Mawar.
Sontak saja Wira dan Mawar menoleh ke belakang mencari ke arah sumber suara.
"Loh, pak Agus....!" ujar Mawar yang masih ingat dengan wajah pak Agus.
Masam sekali wajah pak Agus, hatinya panas dan cemburu melihat Mawar dekat dengan Wira.
"Pak ngapain di sini?" tanya Wira sengaja.
"Dugem, ya ziarah lah. Mata mu butakah?" ucapan pak Agus sangat kasar.
"Loh, ziarah siapa pak?" tanya Mawar Penasaran.
"Ya istri ku lah siapa lagi...!"
"Wah, kasihan. Gak ada yang menghangatkan lagi dong!" cibir Wira malah membuat pak Agus tertawa.
"Enak saja tidak ada yang menghangatkan. Di rumah aku masih punya dua. Minggu depan aku akan menikah lagi, mana masih muda, cantik lagi. Mawar aja lewat!" ujar Pak Agus membanggakan diri, "beda dengan kau, muka saja yang tampan. Punya istri kok satu, dasar lemah!" pak Agus balik mengejek Wira, membuat hati Wira panas.
"Mas, udah gak usah di balas lagi," bisik Mawar.
"Ya satu dunia akhirat lebih bagus pak. Cinta itu dari hati pak, bukan karena nafsu!" sahut Wira.
"Halah, dasar munafik. Perempuan seperti Mawar ini kalau di madu juga mau. Asal semua tercukupi, kalau kamu mau nambah istri, aku bisa mencarikan!"
"Wah, mulut pak Agus ini kotor sekali ya!" sahut Mawar yang sudah tidak tahan, "punya istri banyak kok bangga. Aku lebih baik menjanda dari pada harus di madu, enak saja. Lelaki mau menang sendiri."
"Lagian siapa juga yang mau cari istri lagi. Mawar aja bisa bikin aku lemas tak berdaya di ranjang," ucap Wira dengan sengaja, "lihat Mawar, meskipun dia sudah melahirkan dua anak. Huh, aduhai. sungguh menggoda ku. Sayang, malam ini sepuluh ronde ya...!" ujar Wira sambil mengedipkan mata.
"Jangankan sepuluh ronde mas, dua puluh ronde saja aku siap membuat mu lemas," sahut Mawar yang paham maksud suaminya.
Telinga pak Agus panas, tidak tahan lagi mendengarnya. Dibawah hujan deras, pria paruh baya ini memutuskan untuk pergi.
Melihat pak Agus yang pergi, Mawar dan Wira tertawa geli.
__ADS_1
"Jangankan sepuluh ronde, mau ngeces setengah ronde aja harus nunggu tiga bulan lagi...!" celetuk Wira semakin membuat Mawar tertawa.