Nafsu Sang Duda

Nafsu Sang Duda
Chapter 69


__ADS_3

Cerah sekali wajah Wira pagi ini, namun tidak dengan Mawar yang merasa sangat sedih harus meninggalkan anaknya.


Untuk satu minggu ke depan, Wira dan Mawar akan pergi liburan sesuai dengan rencana yang sudah di siapkan dari jauh hari.


Mawar yang sedih, Asti yang senang. Asti bisa dengan bebas bersama dengan cucunya tanpa ada Wira yang selalu mengganggunya.


"Mah, kami pergi dulu. Titip Al ya...!" ucap Wira sambil menciumi pipi anaknya.


"Tanpa kau minta sekali pun, mamah akan menjaga dia!"


"Kaki ku berat sekali untuk meninggal Al. Maafkan mamah mu ini ya sayang!" ucap Mawar dengan sedih.


"Udah gak usah drama sedih segala. Cepat pergi dan buatkan adik untuk Al," ujar Asti membuat Wira dan Mawar saling pandang.


"Baru juga brojol, udah minta cucu lagi...!" celetuk Wira.


"Lah kenapa?" tanya Asti, "mamah bosan lihat kamu. Kalau ada banyak cucu di rumah, mamah gak usah lihat wajah kamu!"


"Ya ampun, jahat banget sama anak. Udah ah, ayo kita berangkat sayang. Nanti kita ketinggalan pesawat," ajak Wira pada istrinya.


"Semoga ketinggalan pesawat deh!" seru Mawar langsung mendapatkan lirikan tajam dari suaminya.


Hampir beberapa waktu dengan dramanya, mau tidak mau Mawar ikut pergi bersama Wira. Senyum Asti lebar, tangannya terus melambai ketika anak dan menantunya pergi.


"Bi, kalau ada tamu gak penting. Bilang aja yang punya rumah gak ada. Sedang liburan!" pesan Asti kepada pembantunya.


"Baik bu...!"


Asti membawa cucunya masuk, sekian lama ingin mengurus bayi seorang diri akhirnya kesampaian juga.


Naik pesawat, ini adalah kali pertama Mawar pergi menggunakan pesawat berpergian keluar kota. Wira terus menggenggam tangan istrinya, menyakinkan jika anak mereka akan baik-baik saja.


Tidak pergi jauh-jauh, hanya ke kota B yang cukup terkenal di seluruh dunia. Beberapa waktu berada di pesawat, akhirnya mereka tiba.


"Dulu, aku hanya bermimpi untuk pergi ke luar kota apa lagi kota B. Terimakasih mas, sudah mengajak ku ke tempat ini," ucap Mawar yang merasa senang.


"Kalau ada waktu lagi, mas akan ajak kamu ke tempat yang terkenal lainnya."


Kurang lebih setengah jam perjalanan menuju hotel. Mawar melongo ketika melihat pemandangan dari kamar hotel mereka. Kamar yang mewah, menghadap langsung ke lautan.


"Mas, kita beneran nginap di sini?" tanya Mawar tidak percaya.


"Iya,...!" jawab Wira singkat.


"Satu minggu kita di sini?" sekali lagi Mawar bertanya masih tidak percaya.


"Iya, kenapa memangnya?"


Wira bertanya balik.

__ADS_1


"Ini pasti sangat mahal. Kalau satu minggu menginap, mas pasti akan mengeluarkan banyak uang."


Mawar merasa tidak enak hati.


"Masalah uang jangan di pikirkan. Asal kamu senang dan bahagia, tidak peduli berapa banyak yang akan mas keluarkan.Mas kerja buat kamu dan Al, rezeki mas berkat doa kamu sayang."


Mawar terharu, beruntung sekali dirinya mendapatkan suami seperti Wira yang tidak pernah memandang statusnya.


Wife memeluk Mawar, meresapi angin yang berhembus sedikit kencang.


"Mawar ku, jangan lupa malam ini ya. Suami mu ini mau buka puasa!" bisik Wira membuat Mawar langsung mendorong tubuh suaminya.


"Merusak suasana saja!"


Mawar kesal, "aku mau nelpon mamah ah!"


"Ingat, jangan lupa. Kalau kamu banyak alasan, akan mas lempar kamu ke laut sana!" ucap Wira sedikit berteriak namun tidak di tanggapi istrinya yang berjalan masuk ke dalam.


Wira bersandar di pagar balkon, menatap pemandangan yang sangat memanjakan mata.


Huft,.....


"Apakah istri ku bahagia sekarang?" batin Wira bertanya, seolah pria ini takut jika dirinya tidak bisa membahagiakan Mawar.


"Mas,....!" panggil Mawar dengan suara lesu membuat Wira heran.


"Ada apa Mawar ku?" tanya Wira dengan suara lembutnya.


"Mamah gak angkat telponnya. Mamah hanya mengirim pesan untuk tidak menelponnya. Semua ini pembalasan karena waktu itu kita pernah melakukan hal yang sama pada mamah!" adu Mawar pada suaminya, "semua gara-gara kamu mas...!"


Buk,....


Mawar yang kesal meninju perut suaminya.


Auuuu.....


"Kenapa marahnya sama mas sih?" tanya Wira sambil menahan sakit di perutnya.


"Mamah membalas semua yang kamu lakukan padanya. Gara-gara kamu sekarang aku gak bisa lihat Al selama satu minggu!"


"Wah, nenek tua itu mau membalas dendam rupanya!"


"Kamu yang ngerjain aku yang kena imbasnya!"


Mawar benar-benar kesal, ingin sekali menghajar suaminya yang suka mengerjai orang.


Bingung ingin melakukan apa, Mawar hanya duduk di balkon sambil melihat video anaknya. Baru juga sehari, rindunya pada Al sudah tidak tertahan lagi.


"Sayang, kita kan lagi liburan. Jangan cemberut ah,"

__ADS_1


"Kamu tuh mas, sebel aku!" rajuk Mawar.


"Ya udah, kalau begitu sekarang kamu mandi dulu. Kita pergi jalan-jalan!"


Huft,....


Dari pada bosan, Mawar hanya menurut dengan ucapan suaminya.


"Siapa yang memberi mu izin mengenakan pakaian seperti itu hah!" tanya Wira tidak suka ketika melihat istrinya mengenakan gaun tanpa lengan berwarna merah maroon.


"Lah, kenapa memangnya?" Mawar bertanya balik, "gaun ini kan mas juga yang pilih kan!"


"Gak ada, buang aja. Mulai sekarang kamu gak boleh mengenakan pakaian seperti ini."


"Alasannya?"


"Karena setelah melahirkan kau bukanya jelek malah semakin cantik. Mas yakin jika di luar sana banyak mata liar menanti mu. Cepat ganti...!"


Mawar mendengus kesal, suaminya ini mau menang sendiri.


Mau tidak mau Mawar menggantikan pakaian yang di pilihkan suaminya. Celana jeans dan kemeja, itu menjadi pilihan Wira. Sempat di protes karena kecantikan Mawar malah semakin bertambah ketika mengenakan pakaian seperti itu.


"Ya udah, gak usah pergi aja. Ribet! udah, gini aja." Kesal Mawar yang saat ini hanya mengenakan bra dan celana jaring penutup kebunnya.


"Eh, jangan. Ya udah, kenakan lagi bajunya!"


Mawar memutar bola matanya malas, sungguh geram sekali di buat suaminya ini. Hampir satu jam berdebat masalah baju, akhirnya mereka pergi juga.


Kembali ceria lagi, Mawar kagum melihat pemandangan di kota ini. Wira mengajak istrinya berjalan-jalan tak jauh dari hotel.


"Mas, besok ajakin ke pantai ya. Aku mau main air...!"


"Bagaimana jika kita main air di kamar mandi saja?"


"Mas, aku serius!"


"Hehe, iya sayang."


Tiba-tiba saja mata Wira tertuju pada salah satu toko di pinggir jalan yang menjual pakaian dinas malam. Mulailah ide licik Wira keluar.


"Sayang, kamu tunggu mas di cafe sana ya."


"Loh, mas mau kemana?" tanya Mawar heran.


"Ada sesuatu yang mau mas beli...!"


"Apa?"


"Ada deh, rahasia!" ucap Wira dengan senyum lebarnya.

__ADS_1


Jika di lihat dari ekspresi suaminya, Mawar mulai curiga. Wira mengantar istrinya terlebih dahulu ke cafe setelah itu dirinya pergi ke toko yang menjual pakaian dalam wanita.


__ADS_2