Nafsu Sang Duda

Nafsu Sang Duda
Chapter 54


__ADS_3

"Mas, sejak hari itu mereka jadi suka main ke sini ya."


"Iya, lucu juga!"


"Mamah ampe bingung sendiri loh."


"Lah kok bingung. Kenapa?" tanya Wira heran.


"Mbak Tia datang ke sini tadi bawa makanan banyak banget."


"Menyogok lewat perut," ujar Wira membuat kening Mawar berkerut.


"Maksudnya mas?"


"Lah iya, mas baru tahu jika Bayu tidak bisa memuaskan istrinya. Setelah mereka bisa merasakannya, jadi mereka menganggap kita sebagai guru lalu menyogok lewat perut."


"Kenapa aku jadi geli sendiri ya mas?"


"Ngapain geli?" tanya Wira, "suami istri itu wajar saja, jika salah satu dari kita tidak puas ada baiknya saling ngobrol biar pasangan kita tahu. Bukan cuma laki-laki, perempuan juga ingin merasakan kepuasan. Ya kan,...?"


"Udah ah mas, bahas gituan mulu. Otak ku jadi somplak nih...!"


"Ah, kamu ini kalau di ajak bahas ginian gak mau. Tapi, kalau praktek agresif. Uh,...Mawar ku menggemaskan!"


Wira mencubit pipi istrinya.


"Udah, ayo tidur. Besok acara kita, kau tidak boleh kelelahan!"


Sebelum tidur Wira mengatur posisi tidur istrinya terlebih dahulu agar merasa nyaman. Tidak lupa selalu mengelus perut gendut istrinya sambil merasakan gerakan dari dalam perut sana.


Malam telah berganti pagi,seisi rumah sedang sibuk-sibuknya karena hari ini adalah acara tujuh bulanan Mawar. Untuk beberapa saat, Wira tak berkedip ketika melihat istrinya tampil cantik dengan balutan baju khas tujuh bulanan.


Satu persatu serangkaian acara telah di mulai. Lihatlah Tia yang menjadi salah satu tamu undangan mereka nampak sedih ketika melihat Mawar yang sedang melakukan siraman.


"Sayang, sabar!" Bayu merangkul pundak istrinya.


"Aku terharu melihatnya, Mawar adalah salah satu perempuan yang paling beruntung. Baru saja menikah sudah hamil, sedangkan aku?"


Tia mengeluh sedih.


"Apa pun itu, jangan bandingkan dirimu dengan orang lain. Setiap orang memiliki keberuntungannya sendiri. Jika tidak bisa sekarang, mungkin nanti. Lebih baik kita belajar untuk memantaskan diri lagi sebagai calon orangtua,"


Bayu terus menguatkan istrinya.


Beberapa acara telah selesai, Mawar dan Wira juga sudah berganti pakaian lalu bergabung dengan para tamu lainnya. Acara makan-makan adalah yang paling di tunggu, Mawar yang melihat banyak ragam jenis makanan merasa girang.


"Mawar,....!"


Tia menghampiri Mawar lalu memberikan ucapan selamat pada mantan karyawannya itu.

__ADS_1


"Aduh, aku terharu banget lihat acara kamu. Semoga aku cepat hamil, biar aku bisa merasakannya juga."


"Amin, aku doakan mbak Tia segara hamil," ucap Mawar lalu mengusap perut Tia.


Mereka kemudian mengobrol bersama, Asti juga sibuk menyapa para tamu begitu juga dengan Wira.


Setelah acara selesai, Wira langsung mengajak istrinya istirahat di kamar. Sebagai suami yang baik, Wira memijat kaki istrinya.


"Gerak terus ya...?" tanya Wira lalu mengusap perut Mawar.


"Aku sudah tidak sabar melihat anak kita."


"Iya, mas juga udah gak sabar. Sayang, jangan lupa ya setelah lahiran kita pergi bulan madu!"


"Ya ampun mas, masih aja bahas bulan madu!"


"Kamu pilih bulan madu atau kamu mau di madu?" Gurau Wira memberikan dua pilihan.


"Hais,....kamu aja yang aku madu, mau gak?" Mawar balik bertanya.


"Ya gak lah. Enak aja!"


"Makanya, jadi lelaki jangan mau enaknya sendiri. Egois kok mau di makan sendiri...!" gerutu Mawar.


Wira mengalah, hanya mengiyakan ucapan istrinya.


Farah mendengus kesal, wanita ini menendang kaki salah satu penjaga rumah itu.


"Aku hanya ingin melihat mamah ku. Biarkan aku pergi...!!" ucap Farah dengan nada tinggi.


"Masuk sana, mami tidak mengizinkan mu untuk keluar dari rumah ini selain melayani para tamu!"


"Brengsek!" umpat Farah, "apa kalian tidak memiliki ibu?"


"Biarkan dia keluar, dia ingin menjenguk mamahnya di penjara!" teriak Joni yang sudah menunggu di luar pagar.


"Pergi kau sana!" salah seorang penjaga mengusir Joni.


"Biarkan Farah keluar, dia hanya ingin bertemu mamahnya." Sekali lagi Joni meminta.


"Jika kau tidak pergi, akan ku hajar kau!"


"Jon, sudahlah. Kau pergi saja!" ucap Farah yang sudah pasrah. Joni merasa menyesal telah memasukan Farah ke dalam tempat ini.


"Cepat pergi,....!!"


"Brengsek kalian!" umpat Farah benar-benar kesal.


"Diam kau!" bentak salah satu penjaga, "masuk atau mau ku seret!" ancamnya.

__ADS_1


Farah kembali mendengus kesal, dengan menghentakkan kaki wanita ini terpaksa kembali masuk. Farah melempar tasnya sembarang.


"Brengsek!" umpat Farah, "kenapa hidup ku menjadi seperti ini? aku tidak pernah mau hidup seperti ini...!"


Wanita ini mengusap wajahnya, membiarkan air matanya mengalir begitu saja.


"Mah, pah. Kalian bukan orangtua yang baik untuk ku. Kenapa aku di lahirkan seperti ini?"


Isak tangis wanita ini begitu pilu, tiga puluh tahun hidup Farah tidak pernah merasakan bagaimana rasanya kehangatan sebuah keluarga.


"Farah, sudahlah. Jangan nangis lagi,...!" salah seorang teman kamar Farah menenangkannya.


"Aku ingin keluar dari tempat ini Wi,...!!"


"Aku juga ingin keluar dan pergi dari tempat ini. Tapi, gak bakalan bisa!"


"Aku tidak pernah minta di lahirkan dengan posisi seperti ini. Orangtua ku jahat!"


"Jika kau tidak mendapatkan kehangatan dari sebuah keluarga dan kasih sayang di dalamnya. Seharusnya kau bisa menciptakan itu semua sendiri. Bangun keluarga mu sendiri, aku tahu kau orang baik. Ayo semangat!"


"Orangtua ku hanya menuntut tentang uang dan uang. Selalu mengingatkan kewajiban seorang anak sedangkan mereka sendiri lupa bagaimana kewajiban mereka sebagai orangtua. Aku lelah Wi, aku lelah hidup di dunia seperti ini...!"


"Aku juga lelah, aku masuk kesini juga di jual oleh kakak tiri ku. Farah, ada baiknya kita bekerjasama sekarang. Jika kau mengharapkan teman laki-laki mu itu, aku yakin itu tidak akan mungkin apa lagi mami Ger sudah tahu rencana mu untuk keluar dari tempat ini."


"Apa rencana mu?" tanya Farah sambil mengusap air matanya.


"Kunci pintunya!" ujar Wiwi lalu kedua wanita itu sedang merencanakan sesuatu untuk kabur.


Kedua wanita ini mulai membicarakan rencana mereka secara berbisik. Karena dia luar kamar sudah pasti akan ada yang berjaga.


"Jika kau keluar dari tempat ini, memangnya kau mau kemana Wi?" tanya Farah langsung membuat Wiwi terdiam. Sekian bulan tinggal di neraka ini, hanya Wiwi yang mau berteman dengan Farah.


"Aku juga tidak tahu, kakak tiri dan ibu tiri ku pasti akan menyeret ku kembali ke tempat ini. Ayah ku pasti menurut saja, karena mereka hanya ingin uang dan uang."


"Lebih baik kau ikut bersama ku. Aku akan pergi Malaysia bersama teman laki-laki ku. Jika kita masih berkeliaran di sini, aku yakin mami Ger pasti akan menemukan kita."


"Oh Farah, aku juga ingin menikah dan memiliki keluarga!" ucap Wiwi lalu memeluk Farah.


"Aku juga....! lelaki yang ku tunggu selama empat tahun sudah menikah. Aku patah hati,...!"


"Ayo kita berburu calon suami setelah keluar dari tempat ini," ujar Wiwi lalu mereka berdua tertawa bersama.


***


Hallo, terimakasih udah ngintilin otor sampai ke bab ini😁 terimakasih atas dukungan kalian semua, mohon maaf jika ada kata-kata yang salah😁


Mohon maaf juga untuk komentar yang tidak terbalas, tapi otor akan tetap m-like komentar kalian kok😁😁


#Salam satu goyang💃🏻

__ADS_1


__ADS_2