Nafsu Sang Duda

Nafsu Sang Duda
Chapter 82


__ADS_3

Jonas mengacak rambutnya di bawah guyuran air shower. Sudah gila pria ini, bisa-bisanya dia berhubungan badan untuk pertama kalinya sebelum menikah. Mau marah tidak bisa, toh Jonas tadi juga sangat menikmatinya.


"Aku menyesal sudah menjomblo selama tiga puluh empat tahun!" ucap Jonas yang otaknya mulai kotor.


"Apa yang harus aku lakukan sekarang? masa iya menikahi perempuan yang tidak jelas asal usulnya itu?"


Klek,....


Dengan sangat hati-hati Jonas membuka pintu kamar mandi. Pria ini membuang nafas lega ketika melihat Wiwi tidur dengan lelapnya di balik selimut.


"Kalau di lihat dia ini cantik juga. Tapi, mana tahu asal usulnya!" batin Jonas mulai sibuk mengoceh.


Mata Jonas terbelelak ketika melihat seprai yang berwarna putih bersih di samping Wiwi terdapat cairan kental. Pria ini buru-buru mengambil tisu lalu membuang cairan tersebut.


"Maafkan papah mu ini nak. Kau harus berakhir di tempat sampah!" ucap Jonas dalam hati lalu membuang tisu tersebut ke tempat sampah.


Jonas berganti pakaian, pria ini memutuskan untuk duduk-duduk di ruang depan. Cukup lama Wiwi tidur, akhirnya wanita ini bangun juga.


"Sialan!" umpat Wiwi yang mendapati dirinya belum berpakaian.


Masa bodoh, Wiwi mengenakan kaos oblong dan celana pendek milik Jonas yang ada di dalam lemari.


Seperti langkah seorang pencuri, Wiwi keluar dari kamar diam-diam berharap tidak ada Jonas di luar.


"Mau kemana kau hah?" tegur Jonas membuat jantung Wiwi nyaris saja lompat dari tempatnya.


"Hehe,....!" Wiwi terkekeh, "mau pulang!"


"Wah, sudah merampas keperjakaan ku main kabur aja. Tanggungjawab gak?" ucap Jonas sambil berkacak pinggang.


"Tendang saja aku ke kantor polisi. Aku bingung ingin bertanggungjawab seperti apa?"


Jonas geram mendengar jawaban dari perempuan ini.


"Kalau begitu nikahi aku....!" seru Jonas membuat Wiwi nyaris pingsan. Baru sekarang dirinya tidur dengan laki-laki di mintai pertanggung jawaban minta di nikahi.


"Hah....! apa kau sudah gila?" celetuk Wiwi.


"Kau yang gila. Tiga puluh empat tahun aku menjaga keperjakaan ku, seenak jidat mu menodainya. Tanggung jawab cepat!"


"Aku mau tanggung jawab. Tapi, aku tidak punya uang!"


"Kau ingin membayar ku kah?"


Wiwi menggaruk kepala tak gatal, bingung ingin menyahut apa.

__ADS_1


"Wuah,....berani sekali kau mengenakan pakaian ku. Lepas gak?"


Jonas menarik baju yang di kenakan Wiwi.


"Eh, maaf. Iya, aku lepas!" ucap Wiwi mendadak bodoh.


Wiwi hendak melepas baju kaos tersebut langsung di tahan oleh Jonas.


"Tidak usah. Pakai saja!"


"Lah kenapa?" tanya Wiwi bingung.


"Tidak usah banyak tanya. Cepat tanggung jawab!"


Sekali lagi, Wiwi menggaruk kepala tak gatal.


"Iya, aku akan menikahi mu!" ucap Wiwi pasrah berharap jika Jonas hanya main-main dengan ucapannya.


Tidak, Jonas mengeluarkan ponselnya dan menghubungi seseorang. Hampir lima belas menit mereka duduk diam tanpa bicara, Jonas berdiri lalu membuka pintu kemudian masuk dan melemparkan paper bag pada Wiwi.


"Cepat ganti pakaian mu!" titah Jonas. Wiwi yang mendadak bodoh hanya menurut saja.


Kurang lebih sepuluh menit Wiwi berganti pakaian, wanita ini keluar dengan keadaan terkejut karena sudah ada beberapa orang di dalam apartemen.


Syok, Wiwi tidak percaya jika malam ini dia akan menikah secepat ini. Mereka menikah sesuai aturan agama. Wiwi dan Jonas sekarang sudah sah menjadi suami istri di mata agama namun tidak di negara.


Apartemen kembali sepi, Wiwi hanya terduduk lemas tidak percaya dengan apa yang baru saja dia alami beberapa waktu yang lalu.


"Kenapa?" tanya Jonas dengan ketus ketika Wiwi melirik ke arahnya.


"Ah,...tidak!"


Sumpah serapah dalam hatinya terus dia lontarkan pada dirinya sendiri. Kesialan macam apa yang menimpa Wiwi hari ini.


"Aku sudah bertanggung jawab menikahi mu. Ada baiknya sekarang kau menceraikan ku. Lagian, kita menikah secara agama kok!"


Pletek,....


Jonas menjitak kepala Wiwi.


"Enak aja. Kau pikir pernikahan itu mainan apa?"


Mati lah Wiwi, jika didengar Jonas ini serius. Ingin rasanya Wiwi berguling-guling di lantai dengan kebodohannya hari ini.


Sementara itu, Wira sedang bergadang semalam untuk menyiapkan satu kejutan untuk istrinya. Entah apa yang di kerjakan, Wira sibuk mengatur sesuatu yang tertulis di selembar kertas.

__ADS_1


Woaahaam.....


"Tidur dulu ah, ngantuk!"


Wira keluar dari ruang kerjanya dan langsung masuk kamar. Melihat anak istrinya tidur dengan pulas, ada kedamaian di hati Wira yang tidak bisa dia jelaskan.


"Kamu, pindah ke box aja. Hanya papah yang boleh peluk mamah kamu!" ucap Wira pelan sambil memindahkan anaknya ke box bayi yang berukuran cukup besar itu.


Wira naik keatas tempat tidur, sedikit membenarkan posisi tidur istrinya.


"Sayang, aku datang ke dalam mimpi mu. Tunggu aku ya...!" ucap Wira lalu mengecup kening Mawar sebelum tidur.


Tidak butuh waktu lama akhir Wira berhasil juga menyusul istrinya ke pulau mimpi.


Malam semakin larut, tak terasa pagi pun tiba. Tidak seperti biasanya Mawar yang baru saja bangun sudah mendapati suaminya tidak ada di kamar. Di tanya sama mamah mertuanya juga bilang katanya Wira sudah pergi sejak pagi.


"Awas saja nanti. Masuk kamar terlambat, pergi gak bilang. Maunya apa coba!" Mawar geram sendiri, dirinya merasa di acuhkan sang suami.


Hampir setengah hari Wira tidak pulang, di telpon juga tidak aktif. Hati Mawar dongkolnya setengah mati, ini bukan Wira seperti biasanya.


"Maaf mbak Mawar, bapak di suruh mengantar mbak Mawar ke tempat mas Wira," ucap pak Norman memberitahu.


"Memangnya mas Wira di mana pak?"


"Gak tahu juga mbak. Nanti setelah jalan baru di kasih tahu katanya."


"Udah Mawar, pergi aja. Biar Al mamah yang jagain...!" kata Asti membuat Mawar curiga jika mertuanya ini sedang menyembunyikan sesuatu.


Mawar tidak ingin bertanya, percuma saja pasti Asti hanya mengatakan tidak tahu. Mau tidak mau Mawar ikut pergi bersama pak Norman.


Tiga puluh menit perjalan, cukup melelahkan bagi Mawar. Apa lagi pak Norman tidak memberitahu kemana mereka akan pergi.


"Mbak, tutup matanya sama ini ya sebelum turun...!" kata Pak Norman memberikan selembar kain penutup mata pada Mawar.


"Ah, gak mau pak. Ini pasti aku di kerjain lagi sama Mas Wira."


Tiba-tiba saja Wira membuka pintu mobil, membuat Mawar terkejut.


"Sayang, bunga hati belahan jantung ku....!!''


"Mas, kemana aja kamu hah?"


"Udah, marahnya di tunda dulu. Sekarang tutup matanya ya...!"


Wira terus membujuk Mawar, meskipun menolak akhirnya Mawar menurut juga. Dengan cepat Wira menutup mata istrinya dengan selembar kain atau sapu tangan. Tidak lupa juga telinga Wira pedas mendengar ocehan istrinya ini.

__ADS_1


__ADS_2