Nafsu Sang Duda

Nafsu Sang Duda
Chapter 74


__ADS_3

"Itu karena aku menginginkan mas Wira. Semua perhatian mas Wira hanya untuk kak Dania. Aku juga mau di perlakukan sama!" sahut Widya tanpa merasa bersalah.


Dari arah pintu, Hartanto semakin melebarkan langkahnya lalu menampar wajah anaknya.


"Jadi, kau yang sudah membuat Dania meninggal?"


Sungguh, Hartanto tidak percaya dengan kenyataan ini.


"Pah,....!"


Widya memegang pipinya yang memerah, dua tamparan melayang di wajahnya.


Hartanto melirik ke arah Wira yang hanya duduk dengan wajah dingin penuh amarah.


"Tega sekali kau membunuh kakak dan keponakan mu hah. Apa kau lupa jika Dania sangat baik pada mu, memperlakukan mu lebih dari dirinya?"


"Aku minta maaf pah. Malam itu aku benar-benar tidak sengaja. Kak Dania jatuh sendiri...!"


"Apa maksud mu jatuh hah?" tanya Wira naik pitam, "kau mendorong Dania dari tangga kah?"


Malam itu, Dania yang sedang hamil delapan bulan hanya sendiri di rumah karena Asti seperti biasa akan sering berada di luar kota. Sedangkan Wira ada pekerjaan di kota tetangga. Entah bagaimana bisa Dania di temukan tergeletak di bawah tangga, bahkan para pembantu saja tidak ada yang mendengar suara keributan malam itu.


"Cepat mengaku Widya....!"


Hartanto menekan anaknya.


Widya hanya menangis dengan wajah tertunduk. Mau tidak mau wanita ini mengaku. Berharap sang papah mau memaafkannya dan tidak memperpanjang masalah ini.


Hartanto langsung mengusap dadanya, pria paruh baya ini terduduk lemas. Begitu juga dengan Wira dan Asti.


Wira, hati lelaki ini kembali patah. Dirinya tidak pernah menyangka jika akhir hidup sang istri dan anaknya berada di tangan adik ipar sendiri.


Sebagai seorang ayah, Hartanto tentu saja merasa terpukul dan hancur. Dirinya telah kehilangan seorang anak dan sekarang harus menerima kenyataan jika anak kandungnya kehilangan nyawa di tangan anak yang sudah di akuinya sebagai anak kandung.


"Aku mohon, hukum dia seberat-beratnya pak," pinta Hartanto dengan suara pelan membuat Widya syok tidak percaya dengan ucapan papahnya.

__ADS_1


Widya bersimpuh di bawah kaki pak Har, "pah, Widya tidak mau di penjara. Maafkan Widya, mas Wira aku gak mau di penjara. Maafkan aku!" ucapnya memohon.


"Kau sudah menghilang nyawa anak dan istri ku. Kau harus di hukum!" ucap Wira tak ingin menatap wajah Widya.


Asti hanya terduduk lemas, kenyataan macam apa yang dia dapatkan hari ini.


"Pah, Widya mohon...!"


sekali lagi Widya memohon di bawah kaki pak Har. Tanpa menatap wajah Widya, pria ini menendang Widya.


"Kau, selama ini aku sudah menganggap mu sebagai anak kandung ku tanpa membedakan kau dan almarhum Dania. Tapi, rasa sayang ku pada mu kini telah sirna. Widya, kau hanya anak tiri ku....!" ucap pak Hartanto dengan mata melotot membuat semua orang terkejut termasuk Wira.


"Pah,....!" sampai sekarang Wira masih memanggil pak Har dengan sebutan papah, "apa maksud papah?" tanya Wira tidak mengerti.


"Widya bukan anak kandung ku. Dia anak tiri ku, aku menikah dengan mamahnya di saat Widya masih bayi. Dania tahu jika Widya bukan adik kandungnya tapi dia tetap memperlakukannya layaknya saudara. Tapi ini balasannya!" tutur pak Har penuh emosi.


Widya tidak terkejut akan hal tersebut karena dirinya sudah tahu sejak lama. Sebelum mamahnya meninggal, Widya sudah di beri tahu secara diam-diam.


Wira kembali terduduk lemas, bingung ingin bersikap seperti apa. Ingin menghajar Widya, itu sangat tidak mungkin.


"Pak, saya menyerahkan semua masalah ini pada pihak kepolisian. Hukum seberatnya!" ucap Wira lalu mengajak mamahnya untuk pulang. Wira tidak bisa mengeluarkan isi hatinya sekarang.


Widya berusaha mengejar Wira namun segera di tahan polisi.


Hartanto, lelaki paruh baya ini hanya bisa bersabar menerima kenyataan dan kebenaran yang ada. Hatinya sungguh kecewa mana kala mengetahui jika anak kandungnya di bunuh oleh anak tirinya.


Duka lama hadir kembali dalam benak mereka termasuk Wira. Dirinya sangat mencintai Dania, namun kebersamaan mereka tidak begitu lama.


Wira pulang dengan wajah lesu, ingin sekali mengamuk dan menangis namun hatinya kembali kuat ketika melihat Mawar dan Al.


"Anak papah, sudah mandi belum sayang?"


Wira menggendong anaknya, Al penghiburnya sekarang.


"Em, mas. Aku siapin pakaian mu dulu," ujar Mawar yang bingung ingin bersikap seperti apa. Mawar paham betul bagaimana perasaan suaminya sekarang.

__ADS_1


Wira tersenyum lalu berkata, "terimakasih sayang!"


Untuk beberapa saat Wira mengajak anaknya bermain. Biasanya akan terdengar suara tawa dan canda yang menggelikan telinga namun sore ini hanya ada keheningan hampa.


"Mandi dulu mas...!" ujar Mawar.


Wira langsung pergi ke kamar mandi tanpa candaan yang biasa ia lontarkan pada Mawar. Sungguh, membuat hati Mawar merasa beku dan asing.


Cukup lama Wira di kamar mandi, jujur saja lelaki ini menangis di sana. Mengingat bagaimana rasa sakit yang di alami almarhum Dania tanpa dirinya di samping sang istri.


Mata sembab, Mawar tahu jika suaminya habis menangis. Baru sekarang Mawar melihat suaminya sesedih ini selain kejadian dirinya beberapa bulan yang lalu.


"Di mana Al?" tanya Wira tidak mendapati anaknya di kamar.


"Di ambil mamah, katanya mamah kesepian!" jawab Mawar yang tidak ingin bertanya perihal apa pun.


Wira langsung memeluk Mawar, erat sekali seperti orang yang takut kehilangan.


"Sayang, aku sedang bersedih hari ini," ucap Wira dengan nada pelan.


"Aku mengerti mas. Maaf jika aku tidak bisa berbuat apa-apa untuk mu."


"Duka itu kembali lagi, di tambah aku mengingat bagaimana perjuangan mu saat melahirkan Al. Kenapa hal seperti ini terjadi pada ku?"


Bingung ingin menjawab apa, Mawar hanya bisa menguatkan suaminya. Mawar tidak pernah kenal dengan almarhum Dania, dirinya hanya mengenal lewat cerita Wira.


"Semoga saja dengan terbukanya kebenaran, mbak Dania bisa beristirahat dengan tenang," ucap Mawar.


"Peluk aku, aku hanya ingin kau ada di samping ku sekarang dan selamanya."


"Aku tidak akan pernah meninggalkan mu mas!"


"Berani meninggalkan ku, akan ku cincang kaki mu!"


Meskipun terdengar lucu, namun Mawar tidak ingin tertawa. Biar bagaimana pun, Mawar hanya ingin menjaga perasaan suaminya.

__ADS_1


Sementara itu, Widya hanya bisa menangis tidak percaya dengan akhir hidupnya. Pertemuannya dengan Wira hanya membawa petaka bagi dirinya. Melihat lajur-lajur jeruji besi ini, Widya mulai merasakan kebencian terhadap Wira.


Wanita ini kekeh, tidak ingin di salahkan. Keras kepala dan ingin menang sendiri. Sumpah serapahnya terus keluar dari mulut Widya. Dua orang yang bisa mengeluarkannya dari penjara hanya Wira dan Hartanto. Tapi, bagaimana mungkin Widya bisa mengemis kepada dua orang tersebut. Sungguh, Widya hanya bisa menangisi kebodohannya sekarang.


__ADS_2