
Siapa yang tidak kenal Farah, wanita ini pernah terkenal dengan drama bunuh dirinya. Kali ini nama Farah kembali menjadi perbincangan panas di media sosial ketika salah satu akun dengan nam samaran menyebar beberapa foto dan rekaman Farah yang suka bermain dengan banyak pria. Yang lebih parahnya lagi, ada satu rekaman yang menunjukkan Farah bermain dengan dua orang pria sekaligus.
Tidak, bukan hanya itu saja.Nama Yunita ikut terseret dalam masalah tersebut. Beberapa rekaman yang menunjukan Yunita mengamuk saat kalah dalam bermain judi.
Haah.......pyar.....
Farah melempar gelas yang ada di atas meja makan. Perut yang lapar berubah menjadi kenyang ketika wanita ini mengetahui namanya kembali rusak.
"Wira,....! Pasti dia yang sudah menyebarkan semua ini," ucap Farah begitu yakin.
"T-tapi, dari mana Wira mengetahui semua ini?" Yunita ikut panik karena namanya sekarang tercoreng.
"Semua gara-gara mamah!"
Teriak Farah histeris.
Plak.....
Yunita menampar wajah anaknya.
"Kenapa kau malah menyalahkan mamah hah? kau saja bodoh, anak tidak tahu di untung!"
"Ya, aku memang anak yang tidak tahu di untung. Mulai sekarang, aku tidak akan lagi memberi mamah uang. Aku akan pergi dari rumah ini," ujar Farah yang sudah tidak tahan lagi dengan sikap sang mamah.
Farah masuk ke kamarnya, membereskan semua pakaian kemudian pergi. Untung saja Bambang sudah menyediakan apartemen pribadi untuk Farah yang selama ini mereka gunakan untuk bertemu berdua.
Farah mengepalkan kedua tangannya, wanita sudah bisa menebak siapa orang yang sudah mencoreng namanya ini.
Farah melirik jam dinding, masih pukul delapan malam. Wanita ini bergegas pergi, hati yang panas dan emosi yang meluap sudah tidak tertahan lagi. Farah memutuskan untuk pergi ke rumah Wira.
Dengan sekuat tenaga Farah mendorong penjaga rumah Wira karena sang penjaga mengenali siapa yang datang.
Farah terus berteriak, memanggil nama Wira dan memintanya untuk keluar. Seisi rumah keluar karena penasaran. Melihat wajah emosi Farah, Wira langsung menyuruh Mawar untuk masuk kedalam.
"Kenapa kau membuat keributan di rumah ku hah?" tanya Wira masih pura-pura tidak tahu.
"Kau,....!" Farah menunjuk wajah Wira, "kau sudah menyebarkan aib ku. Kenapa hah?"
Mendengar pertanyaan Farah, Wira malah tertawa.
"Bukankah aku sudah memberi mu waktu? lalu kenapa kau masih tidak mendengar juga?"
"Wira, kau adalah laki-laki jahat yang pernah aku temui. Aku menunggu mu selama empat tahun namun nyatanya kau sama sekali tidak peka! wajar saja jika aku meluapkan emosi ku!"
"Heh, dasar perempuan tidak waras. Kenapa kau jadi menyalahkan anak ku hah? harusnya kau sadar diri kenapa anak ku tidak mau dengan kau?"
__ADS_1
"Wira, cepat buat klarifikasi tentang gosip yang sudah beredar!" pinta Farah yang sudah tidak waras.
"Aku meminta mu menarik semua tuduhan mu kepada perusahaan ku. Ini masih awal Farah, jika kau tidak menarik semua tuduhan yang di layangkan perusahaan pak Bambang maka aku akan bertindak lebih jauh lagi."
"Wira, aku membenci mu!" seru Farah emosi.
"Kebencian mu tak beralasan Farah. Tidak salah jika seorang berharap pada seseorang. Tapi, kau juga harus bisa menilai apa orang tersebut suka atau tidak pada mu!" tutur Asti semakin membuat Farah geram.
"Diam kau nenek tua!" umpat Farah langsung membuat mata Asti melotot tidak terima.
"Pergilah...!" usir Wira, "besok aku ingin kau menarik semua tuduhan mu dan kalian harus meminta maaf secara publik. Jika tidak, aku akan melakukan yang lebih parah lagi."
Wira memerintahkan penjaga rumah untuk menyeret Farah keluar. Farah yang seperti orang stress terus berteriak tidak terima dan kekeh jika dirinya tidak salah.
Melihat Farah sudah keluar dari gerbang rumahnya, Wira membawa mamahnya masuk ke dalam rumah.
"Eh, kalian kok di sini? nguping ya....?"
Wira dan Asti melihat Mawar, bi Jum dan bi Nami sedang menguping. Kedua pembantu itu langsung melarikan diri kebelakang. Tinggallah Mawar yang gugup mencari alasan.
"Udah ah, mamah pergi ke kamar dulu!" ujar Asti yang sudah pusing.
Wira juga mengajak istrinya masuk kedalam kamar.
"Dia bukan kakak mu. Jadi, jangan panggil dia mbak...!"
"Apa sih mah? dia kan seumuran mas Wira!"
"Udah ah, jangan bahas dia. Bahas yang lain aja," ujar Wira langsung menghempaskan tubuhnya di atas tempat tidur.
"Jawab dulu, mas Wira sama dia ada masalah apa?"
"Gak ada, cuma masalah kantor aja. Kamu tahu sendiri Farah kek mana orangnya. Udah ah, sini. Gak usah bahas dia!"
Wira tidak menjelaskan apa pun pada istrinya karena bagi Wira semua masalah yang terjadi tidak ada hubungannya dengan Mawar.
Sementara itu, Farah yang bertemu dengan Bambang hanya bisa memohon di bawah kaki pria tua itu untuk mencabut semua tuduhan yang di layangkan pada perusahaan Wira.
"Om, aku mohon om...!" rengek Farah.
"Enak saja, kau sudah memakan banyak uang ku. Itu resiko mu dan bukan urusan ku. Tugas mu hanya melayani ku, tidak lebih."
"Jika Wira bertindak yang lebih dari ini bagaimana?" Farah khawatir.
"Biarkan saja, bocah ingusan itu berbeda dari papahnya yang licik. Lagian, sebelum ini kau juga sudah biasa di permalukan, kenapa kau harus protes sekarang?"
__ADS_1
Farah mendengus kesal, tidak mudah untuk membujuk pria tua ini. Dalam hati Farah selalu menyumpahi Bambang.
"Om,....!!" Farah masih merengek.
Bambang yang geram dengan Farah langsung merobek gaun wanita itu lalu menariknya kasar menuju tempat tidur.
"Mulut mu ini kalau tidak di sumpal dengan terong tidak akan berhenti diam!" ujar Bambang yang hampir setiap malam melakukan hubungan suami istri bersama Farah.
Kembali pasrah, Farah hanya bisa melayani Bambang seperti biasanya. Apa pun yang di lakukan Bambang pada Farah, semua itu tidak gratis. Pasti ada imbalan yang di berikan Bambang setelah puas bermain dengan Farah.
Malam berganti pagi, kembali ke kehidupan rumah tangga Wira yang kebanyakan drama menggelikan di buat Wira.
"Sayang, mas ngidam nih," ucap Wira dengan suara manjanya.
Masih pukul lima pagi, pasangan suami istri ini belum berniat untuk beranjak dari atas tempat tidur.
"Mas Wira ngidam apa? nanti biar di masakin?"
"Bukan ngidam makanan!" seru Wira membuat Mawar merasa curiga pada suaminya.
"Lantas apa?"
"Anu,...itu sayang. Anu,......!" Wira tidak menjawab, pria ini menarik tangan istrinya lalu mengarahkannya ke arah pedang yang sudah tegak berdiri.
Mawar yang paham maksud suaminya langsung menarik tangannya.
"Mas....!"
"Butuh di kocok nih...!" ujar Wira benar-benar membuat istrinya hanya bisa bergeleng kepala.
Tidak menunggu persetujuan istrinya lagi, tangan nakal Wira mulai melepas satu persatu pakaian milik istrinya.
Sebelum memasukan pedangnya, Wira mengusap perut Mawar lalu berkata.
"Sayang, pagi ini kamu papah beri pupuk ya. Biar subur!"
Mawar hanya bisa tertawa mendengar ucapan suaminya.
Sejak hamil, meskipun Wira dan Mawar suka melakukan hubungan suami istri sejauh ini kondisi kandungan Mawar baik-baik saja. Permainan Wira juga tidak seagresif dulu sebelum sang istri hamil.
Hanya satu kali ****, yang penting ada asupan tenaga untuk Wira hari ini.
"Sekarang hanya bisa satu kali ****, itu pun di luar. Setelah kamu melahirkan, mas mau sepuluh kali ****!" ucap Wira penuh semangat.
Mawar tidak menanggapi, dirinya langsung pergi ke kamar mandi untuk mandi sedangkan Wira kembali melanjutkan tidurnya sebentar.
__ADS_1