
Setibanya di rumah, Wira yang sudah tidak tahan lagi dengan hasrat yang memanas sampai ke ubun-ubun langsung memangsa Mawar.
Hanya sekali permainan, tidak lebih. Karena Wira ingat jika istrinya sedang hamil sekarang. Apa lagi tubuh Mawar sekarang sangat berisi membuat body tubuhnya semakin aduhai.
Plak,....
Wira menepuk bokong istrinya.
"Mas, ih. Kenapa?"
"Gemas, lihat kamu jalan itu lucu. Seperti bebek!"
Mawar hanya mendengus kesal, wanita ini masuk begitu ke kamar mandi tanpa menghiraukan gelak tawa suaminya.
Keluar kamar mandi, Mawar sudah mendapati segelas susu hangat. Seperti biasa, Wira lah yang membuangnya setiap malam.
"Jangan lupa minum susunya sebelum tidur sayang," ujar Wira kembali mengingatkan.
"Terimakasih suami ku!" ucap Mawar dengan senyum lebarnya.
"Heran,...!" seru Wira.
"Apa yang membuat heran?" tanya Mawar lebih heran lagi.
"Cewek punya susu sendiri kok malah minum susu sapi. Aneh...!"
"Mas,...Haiis....suka sekali seperti itu. Gak ada yang lain apa bahasannya?" .
"Lah, mas ngomong kenyataan kok!"
"Itu, susu mu minum sendiri. Bisa apa gak?"
"Harusnya kamu yang nyuruh mas minum susu mu. Aneh aja kalau minum susu sendiri...!"
Mawar tidak peduli lagi, meladeni suaminya pasti tidak akan habis. Wanita ini naik ke atas tempat tidur dan langsung menarik selimut.
"Mau di peluk gak nih?" Wira kembali menggoda Mawar.
"Mas, biarkan aku tidur."
__ADS_1
Wira menggeser tubuhnya lalu memeluk sang istri. Seperti biasa juga sebelum tidur Wira suka mengelus-elus perut Mawar.
Malam telah berganti pagi, entah kenapa pagi ini Mawar kembali tidak berselera ketika melihat nasi. Hanya Wira yang sarapan, Mawar cuma menemani di meja makan.
"Kau ini, kalau lihat nasi tidak berselera. Tapi, kalau lihat cairan kental berwarna putih langsung bersemangat!" kata Wira langsung mendapatkan tatapan tajam dari istrinya. Bagaimana tidak, tak jauh dari meja makan ada salah satu pembantu yang sedang mengepel lantai.
"Mas, kamu kalau ngomong bisa gak sih di takar dulu?" kesal Mawar.
"Lah, kenapa memangnya?" tanya Wira yang tidak tahu jika ada pembantu di belakangnya.
Mawar mengisyaratkan agar suaminya menoleh kearah belakang. Dengan refleks Wira menoleh dan sama sekali tidak terkejut.
"Oh, biasa saja. Lagian mbak Nami sudah menikah. Suhunya di dia. Mainnya di atas kita pasti itu," ucap Wira dengan santainya.
"Mas Wira, tahu aja!" sahut mbak Nami.
Mawar hanya bisa menghela nafas pelan, di rumah ini cuma mamah mertuanya yang masih normal.
"Mamah kapan pulang sih?"
"Mamah satu bulan di sana. Lagian, sudah biasa mamah pergi. Kakaknya mamah yang pertama sakit, jadi mamah harus merawatnya untuk sementara waktu. Memangnya kenapa sayang?"
"Di rumah ini, cuma mamah yang kalau di ajak ngobrol enak. Beda sama mas Wira, mesum!"
Untung saja segelas air putih bisa menormalkan kembali keadaan Wira.
"Mas, aku pusing. Kamu makan sendiri saja!" ujar Mawar sembari beranjak dari meja makan.
"Lah, kok marah. Jadi beli bubur ayam gak? apa mau bubur kental penuh nutrisi punya mas?"
Keras sekali suara Wira, Mawar yang malu dengan sikap suaminya hanya bisa menutup telinganya.
"Aku yakin mbak Dania pasti pusing juga memiliki suami seperti mas Wira. Menyebalkan!" batin Mawar.
Mawar menunggu suaminya di teras depan. Selesai sarapan Wira langsung menghampiri Mawar kemudian mereka langsung pergi untuk mencari bubur ayam.
Sekelumit drama rumah tangga Wira yang sangat bahagia. Di balik kebahagiaan mereka ada deretan hati yang panas mereka.
"Bu, bukankah itu pak Wira dan istrinya?"
__ADS_1
Desi menunjuk dari dalam mobil.
"Berhenti....!" titah Silla.
Masih pagi, namun nafas Silla sudah naik turun melihat kemesraan Wira yang sedang menyuapi Mawar makan bubur di tepi jalan.
"Aku mati-matian membujuk papah agar bisa pindah ke kota ini. Sekarang aku harus melihat pemandangan yang menjijikan seperti ini," ujar Silla yang geram.
"Ibu sih, telat!" seru Desi malah menyalahkan Silla.
"Diam kau!" sentak Silla, "kau pikir semua tidak butuh proses?"
"Aku sudah mencari informasi mengenai pak Wira. Kata Dimas, Sekretarisnya. Pak Wira jarang datang ke kantor. Kalau begini akan sulit bagi ibu untuk mendekatinya."
"Kalau begitu, cari cara lain. Kita bisa mengajukan kerjasama yang baru atau apa kek!"
Entahlah, Desi bingung sendiri mengikuti kemauan Silla yang terlalu memaksakan kehendaknya.
Beda hal lagi dengan Farah yang baru saja bangun sudah cekcok dengan Yunita. Apa lagi kalau bukan uang yang menjadi masalah utamanya.
Farah marah besar ketika mengetahui jika sang mamah adalah seorang penggila judi. Tidak ada yang memberitahu, karena pagi-pagi sekali ada dua orang preman yang datang ke rumah mereka dan mengamuk saat menagih utang.
Farah memijat keningnya yang sangat pusing. Setiap hari hanya uang, uang dan uang saja. Apa pun keadaan anaknya, Yunita selalu saja menuntut pada Farah.
"Aku benar-benar tidak percaya akan hal ini. Selama ini aku mati-matian bekerja dan mencari uang membayar semua utang papah agar papah tenang di akhirat sana. Tapi, ternyata mamah malah menjadikan ku sapi perah seperti ini."
Farah merasa sedih dengan keadaannya sendiri.
"Seharusnya kau menikah dengan Wira. Andai saja kau menikah dengan dia sejak dulu kita tidak akan seperti ini. Mamah tidak akan bermain judi seperti ini...!" Yunita yang egois malah menyalahkan anaknya.
"Mah, tidak ada hubungannya dengan Wira. Mamah dan papah saja yang keterlaluan. Kalian orangtua tidak tahu diri...!"
"Kau yang tidak tahu diri. Di banding uang yang kau berikan pada ku, semua itu tidak akan pernah cukup untuk membayar keringat, tenaga dan darah aku mengandung dan melahirkan mu!"
Farah tertawa masam, wanita ini bangkit dari duduknya.
"Apakah seorang anak meminta untuk di lahirkan?" tanya Farah membuat Yunita terdiam, "dan aku menyesal telah lahir dari keluarga ini. Bertahun-tahun aku bekerja hanya dia jadikan sapi perah untuk kalian. Ku pikir hanya papah yang penggila judi, ternyata mamah juga. Kalian benar-benar orangtua rusak!"
"Hai Farah, kau juga rusak. Apa pun alasannya, sudah kewajiban seorang anak untuk berbakti kepada orangtuanya!" teriak Yunita namun tidak di pedulikan oleh Farah lagi.
__ADS_1
Farah masuk ke kamarnya, membanting pintu dengan sekuat tenaganya. Kesal, marah dan kecewa bercampur aduk dalam benaknya.
Farah menarik nafas panjang, sekali lagi wanita ini mengalah. Mau tidak mau Farah membayar utang judi mamahnya yang cukup besar itu. Bambang, hanya dia tempat Farah mengadu sekarang. Wanita itu langsung menghubungi Bambang untuk meminta sejumlah uang, tidak lupa dengan imbalan yang akan di berikan Farah nanti jika mereka bertemu nanti malam.