Nafsu Sang Duda

Nafsu Sang Duda
Chapter 40


__ADS_3

"Maaf sayang, di kantor ada masalah. Aku harus pergi sekarang," ucap Wira lalu mencium kening istrinya kemudian pergi.


Terlihat dengan jelas jika raut wajah Wira mengadakan jika ada sesuatu yang sangat penting yang sedang terjadi sekarang.


Mawar tidak ingin banyak tanya, dirinya langsung masuk kedalam rumah. Atas perintah sang suami, Mawar juga mengunci pintu rumah.


Setibanya di kantor, semua karyawan tak berani menyapa kedatangan Wira.


"Bagaimana ini bisa terjadi?" tanya Wira yang tidak mau marah-marah sebelum mengetahui letak kesalahan karyawannya.


"Maaf Pak, kami juga tidak tahu. Tiba-tiba saja perusahaan pak Bambang mengajukan gugatan atas brand dan mode yang sedang kita kembangkan sekarang." Dimas mencoba menjelaskan.


Wira langsung membuang nafas kasar, pria ini langsung mengerti apa yang sebenarnya sudah terjadi.


"Dimas, kumpulkan semua berkas dari awal pembuatan brand dan mode kita yang ini. Kita akan menyerang balik!"


"Baik pak!"


Perusahaan Wira bergerak di bidang fashion dan konveksi. Sejak sang papah meninggal, Wira lah satu-satunya penerus yang akan mengembangkan usaha keluarganya ini.


"Farah,.....!!"


Wira tersenyum sinis, tidak begitu sulit bagi Wira untuk menebak siapa yang sudah membocorkan rahasia perusahaannya.


Wira kemudian pergi, tidak pergi kemana-mana, melainkan untuk bertemu dengan Farah secara sengaja. Dengan senyum sombong dan angkuhnya, Farah menatap sinis ke arah Wira.


"Kau pasti sudah tahu apa yang baru saja aku lakukan. Bagaimana Wira, apa kau tertarik berdamai dengan ku?"


"Berdamai...?" Wira mengulangi kata-kata Farah, "sebelum ini, apa kita sedang melakukan perang?"


"Kau menolak ku. Itu sama saja menghina harga diri ku."


"Kalau orang tidak suka, jangan di paksa. Apa untungnya kau membongkar rahasia perusahaan ku hah? oh, apa sekarang kau sudah menjadi simpanan dari pak Bambang?"


Farah kesal mendengar ucapan Wira.


"Aku memegang semua rahasia perusahaan mu. Wira, jika kau mau menceraikan istri mu lalu menikah dengan ku, akan aku pastikan semua rahasia perusahaan mu aman di tangan ku. Brand dan mode, itu hanya sebagian kecil saja untuk menggertak mu."


Farah mengancam Wira. Bukannya marah Wira malah tertawa mencibir.


"Menurut mu, hanya kau yang memegang semua rahasia perusahaan ku. Jika aku mau membalas mu secara jahat, mungkin sekarang sudah tidak memiliki wajah lagi untuk menampakkan diri di hadapan publik!"


Wira beranjak dari duduknya, menatap Farah dengan sorot mata tajam dan wajah dinginnya.

__ADS_1


"Lakukan sesuka mu, jika suatu saat aku membalas. Jangan salahkan aku!" ucap Wira kemudian berlalu pergi.


Wira kembali ke kantor, masih ada pekerjaan yang harus dia selesaikan. Hanya dia yang tahu jika semua ini perbuatan Farah. Baru juga mau mendaratkan pant*tnya di kursi, Wira sudah kedatangan tamu.


"Apa lagi ini....?" batin Wira.


"Maaf pak, ibu Silla memaksa masuk!" ujar Dimas yang merasa takut pada Wira.


"Wira, berita tentang perusahaan mu yang mencuri brand dan mode sudah tersebar. Apa semua itu benar?" tanya Silla yang seolah khawatir.


"Menurut mu?" tanya Wira dengan santainya.


"Aku percaya pada mu. Jadi aku mendukung mu. Wira, jika kau butuh bantuan, aku siap membantu mu. Kau jangan panik menghadapi masalah ini,semuanya cuma hal kecil!"


Mendengar celotehan Silla, ingin sekali Wira tertawa.


"Aku biasa saja, kenapa kau yang sibuk? lagian, semua ini tidak ada hubungannya dengan mu!"


"Perusahaan kita saling bekerjasama, jadi wajar saja jika kita saling membantu."


"Tapi maaf, aku tidak butuh bantuan mu. Ibu Silla yang terhormat, bukankah sekarang kau masih banyak pekerjaan? jadi, silahkan pergi." Wira mengusir Silla secara langsung.


Sudahlah, Wira tidak ingin menanggapi akting pencarian wajah dari ular berbulu ini. Wira memutuskan untuk pulang, Silla yang merasa di acuhkan berusaha mengejar Wira.


"Kembali ke kantor mu. Aku akan pulang bertemu istri ku!" ucap Wira berhenti sejenak ketika Silla mengejarnya.


Tidak mau mendengar lagi, Wira langsung masuk kedalam mobilnya dan berlalu pergi begitu saja.


"Perempuan ini belum tahu aja kalau bos kita itu tipe lelaki setia," bisik salah seorang karyawan Wira.


"Aku berani bertaruh, sekeras apa pun dia berusaha mengejar pak bos. Pasti akan sama seperti Farah dulu!" sahut karyawan sampingnya.


Silla yang mendengar percakapan beberapa karyawan Wira hanya bisa tertunduk malu lalu pergi begitu saja.


Tidak pulang, Wira mampir sebentar untuk bertemu Bayu karena sudah lama mereka tidak saling bertemu. Mendengar cerita Wira, sebenarnya Bayu merasa sangat terkejut dengan langkah berani yang di ambil Farah.


"Dan yang lebih membuat ku gila, sekarang ada lagi satu orang perempuan yang mulai mengejar ku. Sungguh mengerikan!"


"Kau sangat tampan dan sempurna, tidak salah jika banyak perempuan yang mengejar mu. Jadi, nikmati saja!"


"Padahal dia rekan bisnis ku di luar kota. Entah kenapa dia malah membuka cabang perusahaan di sini?"


"Kau pikir saja sendiri. Jangan membawa ku untuk berpikir atas masalah mu itu."

__ADS_1


"Sialan!" umpat Wira, "jadi kau tidak ingin membantu ku?"


"Masalah perusahaan mu aku akan menolong mu. Tapi, kalau masalah perempuan aku tidak bisa. Maaf, istri ku tidak selembut istri mu!"


"Terserah kau!" seru Wira membuat Bayu kesal.


Wira



"Ah, sudahlah. Aku mau pulang, kasihan Mawar ku sendiri di rumah!"


"Lebay sekali. Kalau urusan dengan Mawar aja, nomor satu!"


"Diam kau!" sentak Wira, "Mawar segalanya bagi ku. Di harus mekar setiap hari, kalau dia layu bahaya. Itu akan sangat merepotkan ku," ucap Wira membuat Bayu bergeleng kepala.


Sebelum pulang Wira mampir sebentar ke toko buah karena Wira tahu istrinya sangat suka makan buah sejak hamil.


"Mbak, ini buah apa ya? kok bentuknya seperti ini?" tanya Wira sambil menenteng sebiji buah berwarna hijau.


"Oh, anu mas. Itu buah alpukat, bentukannya memang seperti itu. Gak rugi deh kalau beli buah ini."


"Tapi kan alpukat bentukannya gak seperti ini."


"Aduh, ada loh mas. Bentukannya yang bulat di bawah panjang ke atas. Yang bulat di bawah ini bijinya mas!"


Wira tersenyum, lelaki ini seperti mendapatkan ide untuk menjahili istrinya.


"Bungkus mbak, dua kilo!"


Tidak lupa Wira membeli buah-buahan yang lain. Lelaki ini geli sendiri ketika melihat bentukan Alpukat yang sangat asing di pandang.


Setibanya di rumah, Wira langsung menyerahkan beberapa bungkusan pada Mawar. Tentu saja Mawar senang ketika suaminya membelikan banyak buah-buahan.


"Eh, kok buah alpukatnya banyak banget mas?"


"Bentuknya untuk, makanya mas beli banyak. Lihatlah, seperti burung elang milik mas kan?"


"Mas,.....!" Mawar melempar suaminya dengan buah apel.


"Sayang, yang bulat ini bijinya. Yang panjang ke atas ini isinya daging semua." Wira menjelaskan.


"Udah ah mas, kalau ngomong sama mas pasti larinya ke sana!"

__ADS_1


Mawar



__ADS_2