Nafsu Sang Duda

Nafsu Sang Duda
Chapter 57


__ADS_3

"Mas, kau sudah janji mengajak ku untuk melihat anak kita. Ayo mas,...!"


Mawar terus merengek memohon pada suaminya.


"Kamu yang sabar ya, sebaiknya kamu istirahat. Biar cepat sehat." Wira mencari alasan karena pria ini bisa melihat jika tubuh istrinya masih lemah.


Mawar yang sudah kehabisan kesabaran langsung melepas infusnya lalu mendorong Wira dan turun dati atas brankar.


"Sayang,....!"


Buk,....


Dengan kondisi yang masih lemah, Mawar terjatuh di sana. Wanita ini memegang perutnya yang masih terasa nyeri.


Wira langsung memeluk istrinya, menguatkan wanita ini.


"Aku hanya ingin melihat anak ku mas. Ku mohon,...!"


"Mawar,....!"


Asti yang baru masuk terkejut ketika melihat menantunya berada di lantai.


"Mah, aku hanya ingin melihat anak ku." Mawar mengadu pada Asti.


Asti menarik nafas panjang, tidak tega melihat Mawar yang sudah seperti ini.


"Wira, pergilah nak. Minta izin pada Dokter. Kasihan istri mu," ujar Asti.


"Tapi mah, Mawar masih lemah."


"Mas,....!"


Sekali lagi Mawar memohon.


"Pergilah Wira,.." Asti juga ikut memohon pada anaknya.


"Baiklah,...!" ucap Wira mengalah.


Wira memindahkan istrinya ke atas brankar lalu memanggil perawat untuk memasang kembali infus tersebut sedangkan dirinya pergi menemui Dokter untuk meminta izin agar sang istri bisa bertemu dengan anaknya.


Tak berapa lama, Wira kembali ke ruangan rawat istrinya.


"Bagaimana Wira?" tanya Asti.


"Dokter mengizinkan," jawab Wira lalu mengambil kursi roda untuk istrinya.


Asti juga ikut menemani, sejak tadi malam dirinya juga ingin melihat sang cucu namun belum di izinkan.


"Maaf pak bu, hanya lima menit. Tidak boleh menyentuh dan menggendongnya," ucap perawat begitu menyesakan dada Mawar begitu juga dengan Wira.


Tanpa terasa, air mata Mawar dan Asti jatuh begitu saja ketika melihat bayi mungil seukuran botol air mineral berada di dalam inkubator, bahkan untuk bernafas saja harus di bantu alat medis.


Hanya bisa meraba di balik balik kaca, tangan Mawar bergetar ingin menyentuhnya namun tak bisa.

__ADS_1


Wira sebenarnya tidak kuat melihat pemandangan seperti ini. Ingin menangis? tidak. Air mata Wira tidak bisa keluar di depan istrinya.


Hening, hanya ada suara isak tangis tanpa bicara. Mawar memeluk lengan suaminya, mencengkram dengan sisa tenaga yang ada.


"Kenapa harus kamu nak?" suara Mawar bergetar, rasanya lelah juga jika harus kembali menerima kenyataan yang menyakitkan.


"Karena kamu kuat!" jawab Wira lalu mengajak istri dan mamahnya keluar.


Berat, Mawar seperti ingin menahan namun Wira bersikeras mengajak sang istri keluar.


Asti tidak ikut masuk ke dalam ruangan Mawar, wanita ini hanya duduk di luar ruangan dengan isak tangis memilukan. Dalam benaknya terus memohon agar sang menantu dan cucu baik-baik saja.


"Sayang, kamu makan ya...!" ujar Wira dengan sesendok bubur yang menggantung di udara.


"Aku tidak lapar mas," lirih Mawar.


"Jangan seperti ini, jika kamu tidak makan, kapan kamu sehatnya?"


"Bagaimana aku bisa makan sedangkan anakku berjuang sendiri di sana mas?"


"Semua akan baik-baik saja. Anak kita kuat, percaya pada mas!"


"Jangan paksa aku mas!" seru Mawar.


"Mas akan memaksa kamu. Jika tidak,...!"


"Jika tidak apa mas?" tanya Mawar dengan menatap wajah suaminya.


Buk,....


"Mas,....!"


Mawar menjerit, syok dengan sikap suaminya seperti ini. Wira yang di kenal lemah lembut ternyata bisa marah juga.


"Mas,...!" Mawar menarik tangan sang suami yang kembali berdarah. Dengan cepat wanita ini memeluk Wira.


"Jangan seperti ini mas. Maafkan aku, aku akan makan dan aku akan sehat. Tolong jangan menyakiti dirimu sendiri mas," ucap Mawar kembali terisak.


Wira memejamkan mata sejenak lalu membalas pelukan istrinya.


"Mas tidak marah pada mu, mas hanya marah pada diri mas yang tidak bisa menjaga mu."


"Tapi jangan menyakiti diri mu mas. Aku takut,...!" ucap Mawar dalam isaknya.


"Maafkan mas sudah membuat mu takut. Bukan maksud mas seperti itu. Sekarang kamu makan ya...!" ujar Wira kembali mengambil semangkuk bubur yang sempat di taruhnya tadi.


Mawar makan dengan lahap ketika du suapi suaminya. Sebenarnya Mawar merasa mual, namun wanita ini tidak ingin membuat sang suami khawatir.


Wira tersenyum senang ketika melihat istrinya yang mau makan. Sesekali pria ini menyelipkan anak rambut yang menutupi wajah Mawar.


Habis, berkat satu tonjokan yang membuat Mawar takut, semangkuk bubur tersebut habis tak bersisa.


"Sekarang minum obat ya...!" ujar Wira lalu Mawar hanya menurut saja.

__ADS_1


Untuk beberapa waktu Wira menemani Mawar hingga terlelap tidur. Pria itu kemudian keluar dari ruangan.


"Bagaimana keadaan Mawar?" tanya Asti yang sejak tadi belum mau masuk kedalam ruangan.


"Tidur mah. Tolong jaga Mawar sebentar, aku ingin melihat keadaan anak ku."


"Pergilah nak!"


Asti menepuk pundak anaknya.


Dengan langkah gontai Wira memasuki ruangan sang anak.


Hatinya kembali di buat remuk.


"Bagaimana keadaan anak ku?" tanya Wira.


"Sejauh ini keadaannya sudah membaik. Sudah bisa bernafas tanpa alat bantu tapi kami masih tetap memantaunya."


Huft,....


Wira membuang nafas lega.


Wira sedikit menunduk, mata elangnya tajam melihat ke arah sang anak.


"Dia bangun?"


"Iya pak, tapi maaf karena sekarang anda belum di izinkan untuk menyentuhnya."


Wira tersenyum, ketika melihat perkembangan sang anak.


"Tidak apa-apa, demi kesehatannya aku harus menahan diri sekarang. Terimakasih sudah melakukan yang terbaik untuk anak ku!" ucap Wira dengan tulus.


"Sama-sama pak, mari berdoa untuk yang terbaik!" ujar perawat tersebut dengan ramah.


Wira terus memandangi anaknya, gerakan dari jemari mungilnya bagai semangat yang di siramkan ke wajah Wira.


"Cepat pulih sayang. Apa kau tidak ingin mimik di susu mamah mu?"


Untung saja perawat yang berada tak jauh dari Wira tidak mendengar ucapan pria itu karena sibuk dengan tugasnya.


Lucu sekali, Wira gemas melihat anaknya. Ingin rasanya Wira mendorong perawat tersebut keluar lalu menggendong dan mencium sang anak.


Berbeda lagi Farah dan Wiwi yang sudah janjian untuk melarikan diri malam ini juga. Ketika mereka pergi ke bar, kedua wanita ini hanya membawa barang berharga serta identitas pribadi tanpa membawa pakaian agar lebih mudah dalam melarikan diri.


Malam ini, di bar ada acara yang di selenggarakan salah seorang pengusaha kaya. Mereka sengaja menyewa seisi bar.


"Bagaimana kita bisa keluar sedangkan di luar ada penjaganya?" tanya Wiwi yang sudah berkeringat panas dingin.


"Hanya dua orang. Masa iya kita tidak bisa menaklukkan mereka?"


"Tapi, bagaimana caranya?"


Farah kemudian membisikan rencananya pada Wiwi. Pada awalnya Wiwi menolak karena takut namun Farah kembali menyakinkan temannya ini. Akhirnya, Wiwi setuju dan mereka berdua pun langsung melancarkan rencananya. Sedangkan tak jauh dari tempat tersebut, Joni sudah menunggu dengan mobilnya. Berhubung ponsel Farah di sita oleh mami Ger, tapi Farah masih bisa menggunakan ponsel Wiwi sebagai alat komunikasi dengan Joni.

__ADS_1


__ADS_2