
"Ini rumah siapa?" tanya Farah bingung saat Joni mengajaknya masuk kedalam rumah mewah yang berada di kawasan elit.
"Aku ingin bertanya dengan mu, sebenarnya kau ingin tinggal di Singapore atau Indonesia?" Joni malah bertanya balik.
Sejenak Farah terdiam, menatap wajah pria di depannya ini.
"Jujur saja, aku lebih senang tinggal di Indonesia. Seburuk apa pun masa lalu ku, tapi tidak ku pungkiri jika aku lebih senang tinggal di sini," tutur Farah dengan nada pelan.
"Rumah ini milik ku, rumah pribadi ku yang baru saja selesai satu bulan lalu. Sekarang, aku memberi mu kebebasan untuk memilih. Terserah kau ingin menetap di mana yang menurut mu nyaman."
"Semewah ini rumah mu?" tanya Farah tidak percaya.
"Bukan, rumah tetangga ku!" seru Joni.
"Aku serius!"
"Iya, ini rumah ku. Lihat ini,....!" ujar Joni lalu menyodorkan satu berkas pada istrinya.
Farah mengambil berkas tersebut lalu membacanya. Sungguh, Farah syok dan hampir pingsan melihat namanya tertera sebagai pemilik rumah ini.
"Suami ku, apa ini serius?"
Farah tidak percaya.
"Aku tidak bisa berlaku romantis, hanya ini yang bisa aku lakukan untuk kebahagiaan mu. Aku tahu jika kau sebenarnya tidak nyaman tinggal di negara asing. Jadi, aku membangunkan rumah untuk mu."
"Menurut ku ini terlalu berlebihan, kau pasti salah."
"Tidak, aku tidak pernah salah. Kau istri ku, aku hanya ingin merawat dan membesarkan anak-anak kita di rumah ini. Farah, aku serius mencintaimu," ucap Joni dengan menatap mata Farah begitu dalam.
Mata Farah berkaca-kaca, ia sama sekali tidak menyangka jika Joni bisa melakukan hal sejauh ini untuk kebahagiaannya.
"Aku tahu jika kau dulu sangat terobsesi pada Wira. Memiliki suami yang baik dan kaya raya. Tapi, aku hanya ingin menjadi versi ku sendiri. Belajar lebih baik lagi agar bisa membuat mu bahagia. Percayalah Farah, aku juga bisa menjadi suami dan ayah yang baik, mari sama-sama belajar memperbaiki diri."
"Oh Joni ku,...!" lirih Farah dengan suara bergetar lalu memeluk erat suaminya.
__ADS_1
Farah menangis dalam pelukan Joni, hatinya begitu tersentuh dengan perjuangan suaminya yang benar-benar ingin mengubah hidup mereka. Rumah baru dengan sejuta impian, Joni sangat berharap ia membentuk keluarga yang bahagia meskipun mereka bukan terlahir dari keluarga yang bahagia.
Joni mengusap air mata istrinya.
"Sudah jangan menangis lagi, mari kita lihat rumah ini," ujar Joni lalu menggandeng tangan istrinya untuk berkeliling.
Dengan penuh semangat Joni menjelaskan setiap sudut dan lekuk rumah ini. Begitu bahagianya Farah, laki-laki yang biasa ia panggil bajingan ini ternyata memiliki hati yang lembut juga.
Lain pula dengan cerita rumah tangga Mawar dan Wira yang setiap hari seperti tidak ada habisnya jika di ceritakan.
Baru saja beberapa hari menyandang gelar bapak anak dua, sikap Wira semakin menyebalkan di pandang mata.
Asti kesal hari ini, baru saja pulang dari berkunjung ke rumah adiknya dengan mengajak Al sebagai temannya.
Kebun seledri, cabe dan tomat Asti yang selama ini menjadi tempat mengisi waktunya sudah berganti dengan kebun bunga Mawar dengan berbagai macam warna.
Ingin sekali Asti menangis berguling-guling dengan kelakuan anaknya. Tapi, apa mau di kata semua sudah terjadi.
"Hotel bertema kan bunga Mawar masih cukup kurang kah Wira?" tanya Asti benar-benar lesu.
"Aku udah larang mas Wira mah, tapi mas Wira ini ngeyel!" ujar Mawar.
"Mamah tidak menyalahkan kamu Mawar, suami mu ini memang harus di periksa kejiwaannya!"
"Mamah ngatain Wira gila ya?" Wira tidak terima, "Wira masih waras mah, kalau Wira gila kenapa ada dua anak sekarang?"
"Terserah kau mau ngomong apa Wira. Mamah kesal sama kamu. Kamu dan papah mu sama saja!" ucap Asti begitu geramnya.
"Ya apa salahnya kalau Wira bikin taman bunga khusus untuk anak perempuan ku. Lagian, ngapain coba tanam cabe, pantesan mulut mamah kalau ngatain aku pedes banget!"
Lirikan Asti begitu tajam, Wira bukannya merasa bersalah dan minta maaf malah semakin menyalahkan dirinya.
"Terserah kamu Wira. Mamah capek ngomong sama kamu!" kesal Asti.
"Mending ngomong sama aku dari pada ngomong sendiri sama foto papah!" celetuk Wira semakin membuat Asti marah.
__ADS_1
"Mawar, coba kamu petik semua bunga di luar. Kamu rendam di air selama tujuh hari tujuh malam lalu mandikan ke suami mu ini," ujar Asti yang sudah kehabisan kata-kata lagi untuk menghadapi anaknya.
Asti memutuskan masuk kedalam kamar sambil menggendong Al. Sengaja Asti membawa Al agar bocah ini tidak meniru kelakuan papahnya.
"Mas, kamu udah bikin mamah marah loh!"
"Mamah ya seperti itu. Mana bisa dia marah sama mas, udah gak usah di pikirin."
"Kamu ini semakin hari suka sekali membuat mamah kesal. Kalau mamah ambil hati gimana?"
"Wah, di jual ya mahal!" seru Wira lalu tertawa terbahak-bahak membuat baby Ar kaget lalu menangis.
Asti yang mendengar cucu perempuannya menangis di luar langsung keluar dari dalam kamar lalu menghampiri Wira dan menggepak kepala anaknya.
"Mamah heran sama kamu, satu jam gak bikin keributan bisa kan?"
"Namanya juga bercanda mah. Apa sih main pukul aja!"
"Senang kamu ya, baru beberapa hari istri mu melahirkan kau sangat bahagia. Ingat Wira, ini baru tujuh hari, masih ada waktu seratus tiga belas hari lagi untuk kamu bisa menyentuh Mawar," ucap Asti membalas tawa Wira.
Mendengar hal tersebut, wajah Wira langsung muram. Melirik Mawar yang hanya diam saja dengan wajah cengar cengir tidak jelas.
"Hahahahaha.......!!"
Sekarang gantian Asti yang tertawa terbahak-bahak. Di ikuti juga dengan para pembantu yang merasa lucu dengan keluarga majikannya ini.
Bukan hanya muram, wajah Wira dingin masam dan seperti ingin makan orang. Asti masih tertawa sampai ia menutup kembali pintu kamarnya. Sekarang Asti tahu kelemahan Wira ada pada Mawar. Untuk beberapa bulan ke depan Asti bisa membalas perbuatan anaknya ini.
"Sayang,....!" lirih Wira dengan wajah melasnya.
"Ya aku gak tahu mas. Tapi, lebih baik kita mengikuti saran dari Dokter!" ujar Mawar langsung mengambil alih anaknya kemudian berlalu pergi masuk kedalam kamar.
Wira semakin lesu jika mengingat masalah pergoyangan. Bagaimana tidak, pria yang memiliki nafsu sangat besar ini sekali lagi harus rela pedang miliknya tumpul.
Wira menggaruk kepalanya tak gatal. Sebenarnya, baru tujuh hari istrinya melahirkan urat kepala Wira sudah senat senut menahan hasrat yang tak tersalurkan.
__ADS_1
"Ini benar-benar gila, seratus tiga belas hari lagi. Masa iya mamah menghitungnya?"