Nafsu Sang Duda

Nafsu Sang Duda
Chapter 91


__ADS_3

"Dimas, apa dia benar orang yang mau bertemu dengan ku?" tanya Wira berbisik.


"Iya pak!"


Wajah Wira mendadak masam ketika tahu siapa orang yang ingin bertemu dengannya. Valdi, pria yang pernah membuatnya cemburu beberapa hari yang lalu.


"Kita pernah bertemu dua kali tapi tidak saling berkenalan. Aku tidak menyangka jika anda seorang pengusaha sukses," kata Valdi sekedar berbasa basi.


"Langsung saja pada intinya, aku tidak suka bertele-tele!" sahut Wira semakin tidak suka dengan Valdi.


"Sebenarnya kedatangan ku kemari untuk memulai kembali kerjasama dari perusahaan xxxx yang pernah terputus," ucap Valdi membuat Wira dan Dimas terkejut.


"Kau karyawan baru di sana?" tanya Wira penasaran.


"Tidak, aku adalah keponakan dari pemilik perusahaan tersebut. Aku di tugaskan di kota ini."


Huft,....


Wira menghembuskan nafas kasar.


"Jadi, kau dan Silla adalah saudara sepupu?"


"Tentu saja, kami adalah saudara sepupu."


"Kalau begitu maaf, aku tidak bisa bekerjasama dengan mu," ucap Wira dengan tegasnya.


"Apa semua ini karena Silla?" tanya Valdi yang sebenarnya sudah di ceritakan oleh papahnya Silla.


"Jangan memaksa ku, aku berhak mengatur kerjasama dengan siapa pun."


Wira beranjak dari duduknya, begitu juga dengan Dimas.


"Istri mu sangat cantik...!" Seru Valdi membuat emosi Wira langsung naik.


Lelaki ini langsung berbalik badan lalu,....


Buk,...buk,....


Dua kali Wira membogem wajah Valdi yang sudah lancang memuji istrinya.


"Jangan coba-coba menguji kesabaran ku jika kau dan keluarga mu masih ingin makan dengan daging!" ucap Wira penuh penekanan.


Untung saja mereka memesan ruangan pribadi di restoran ini jadi tidak ada orang yang tahu apa yang sedang terjadi sekarang.


"Kau adalah laki-laki pengecut, membawa urusan pribadi kedalam pekerjaan. Ciiih,...lemah!"


Valdi semakin mengejek Wira.


"Aku lebih baik kehilangan klien bodoh seperti kalian dari pada kehilangan kebahagiaan. Berani mengusik keluarga ku, akan ku patahkan tulang mu!"

__ADS_1


Sekali lagi Wira mengancam Valdi. Bukan untuk menguji kesabaran Wira, tapi Valdi memang tertarik dengan Mawar yang sangat cantik dan terlihat pendiam itu.


Valdi mengusap sudut bibirnya yang sedikit mengeluarkan darah. Pria ini memang baru mengenal Wira tapi sudah merasa tertantang untuk mengusik rumah tangganya. Pada dasarnya, Valdi memang laki-laki nakal.


Wira tidak kembali ke kantor, dirinya langsung pulang dengan wajah kesal. Mawar dan Asti kembali merasa heran dengan sikap Wira sekarang.


"Mas, ada masalah apa sih?" tanya Mawar penasaran karena sejak pulang Wira terus mengomel.


"Kamu kalau ada masalah pekerjaan gak usah di bawa pulang. Bikin susah semua orang!''


"Sayang, laki-laki yang menabrak kamu di mall dan mengganggu mu di pesta itu ternyata dia sepupu dari Silla," ujar Wira memberitahu.


"Silla siapa sih mas?" tanya Mawar yang lupa.


"Silla yang pernah mengejar mas dulu. Apa kau ingat?"


"Lalu, apa hubungannya dengan ku?" tanya Mawar bingung.


"Mereka sama saja, suka sekali mengusik rumah tangga orang!"


"Memangnya kamu ketemu di mana?" tanya Asti.


"Dia mengajukan kerjasama lagi dengan perusahan kita. Pasti pasti itu suruhan dari Silla kalau gak papahnya."


"Udah, gak usah di tanggapin. Biarkan saja, bikin pusing aja!" ujar Asti.


"Mas, aku jadi takut!"


"Kamu gak usah keluar rumah kalau gak sama mas. Buktinya dia ada di mana-mana!"


Mawar mulai merasa khawatir, tidak mungkin pertemuannya dengan saudara sepupu Silla itu tidak sengaja.


"Sudah, jangan marah-marah lagi. Mumpung kamu di rumah, kamu jagain Al. Mamah sama Mawar mau pergi ke salon....!"


"Baru juga di larang pergi, malah mau pergi...!" gerutu Wira kesal.


"Mawar pergi sama mamah kok. Kamu ini, biasanya juga begitu...!"


Wira tidak berani membantah ucapan mamahnya. Mau tidak mau dirinya mengizinkan sang pergi bersama mamahnya.


Rumah sepi, Wira menjaga anaknya seorang diri. Al yang baru berusia enam bulan lebih sudah bisa duduk dan sedikit merangkak. Wira cukup kewalahan menjaga anaknya ini.


"Kaki tangan mu ini tidak bisa diam. Huh, anak siapa sih?"


Wira sudah tidak waras, anaknya sendiri bisa-bisanya dia kerjai.


"Al, kalau sudah besar harus banyak-banyak jual mahal sama perempuan. Biarkan mereka mengejar mu, nanti belajar dari papah ya....!"


Ngek....ngek....ngek....

__ADS_1


Begitu lah jawaban dari Al, bocah ini semakin besar rupa wajahnya semakin mirip dengan Wira.


Sudah pukul satu siang, Mawar dan Asti belum juga pulang. Wira yang menjaga anaknya mulai mengantuk, sejak tadi sudah habis satu botol susu tapi Al belum mau tidur juga.


Perlahan mata Wira terpejam, tapi anaknya masih mengoceh sambil mengisap dodotnya. Al menoleh ke arah papahnya yang sedang terlelap di sampingnya.


Buuk,.....


Entah apa yang ada dalam pikiran Al, bocah nakal ini tiba-tiba saja melempar botol susu yang berukuran besar dan masih penuh susu itu ke wajah papahnya.


Wira terkejut, hidung mancungnya kesakitan. Pria ini berguling-guling di atas karpet bulu tersebut.


"Al........!" rintih Wira dengan hidung merahnya. Sedangkan Al hanya tertawa sambil rebahan melihat papahmya.


"Al, kau sudah membuat hidung mancung papah rusak. Bajingan kecil ini, belajar dari mana kau hah?"


Wira geram, kesal ingin menjewer kuping anaknya namun langsung di teriaki oleh Asti dan Mawar yang baru pulang.


"Kamu menyiksa cucu mamah ya...?"


"Mas, kamu kok tega mau menjewer telinga Al?"


"Anak kamu ini, masa iya wajah ku di lempar dengan botol susu. Lihat hidung ku, sakit....!" adu Wira pada istrinya.


"Kamu aja yang usil, kalau gak mana mungkin Al seperti itu," ujar Asti kesal, "ayo Al, sama oma aja. Pasti kamu belum bobo siang. Papah mu yang gila ini mana bisa mengurus anak!"


Geram sekali Wira mendengar ucapan mamahnya. Untung saja Al anaknya, kalau tidak sudah di remas sejak tadi.


"Sayang, sakit...!" Wira mengadu lagi.


Mawar melihat hidung suaminya merah, wanita ini mencoba menyentuhnya.


"Sakit,....!" seru Wira.


"Ya udah, ayo ke kamar. Aku obati....!"


Wira tersenyum licik, Mawar yang bermaksud ingin mengobati hidung suaminya malah di bantai oleh suami di atas ranjang. Untung saja Mawar jenis istri yang penurut, apa pun kata Wira dia selalu mengikutinya.


"Kamu ini, gak bisa lihat tempe nganggur langsung aja di lahap. Heran deh!" ucap Mawar yang baru saja selesai mandi.


"Nanti mubazir, kalau mubazir pasti akan basi. Bagus mas lahap ya kan...?"


"Suka sekali seperti itu,...!"


"Dasar perempuan, sukanya ngoceh terus. Di kasih sama-sama enak masih aja protes. Kamu juga menikmatinya tadi, kalau gak ngapain kamu mendorong kepala mas buat mimik susu kamu hah?"


Jleb,....


Jika sudah berkata seperti ini Mawar pasti akan kalah. suaminya memang pandai dalam mencari celah. Diam adalah cara terbaik Mawar agar tidak malu melawan ucapan suaminya.

__ADS_1


__ADS_2