Nafsu Sang Duda

Nafsu Sang Duda
Chapter 73


__ADS_3

Lebar sekali senyum Widya ketika melihat Wira datang memasuki cafe. Wanita ini buru-buru merapikan rambutnya yang sedikit berantakan.


Hatinya berbunga-bunga pada saat Wira menghubungi dan mengajaknya untuk bertemu. Beda lagi dengan Wira, nampak sekali pria ini menunjukkan wajah dinginnya.


"Ehem, mas mau pesan apa?" tanya Widya sedikit berbasa basi.


"Tidak perlu!" tolak Wira, "langsung pada intinya saja!" ucapnya membuat Widya bingung.


"Maksudnya bagaimana mas?" tanya wanita itu tidak mengerti.


"Maksud ku adalah, berhenti datang ke rumah ku dan mengusik keluarga ku. Kita sudah tidak memiliki hubungan apa-apa. Awalnya kita memang ada hubungan antara ipar, tapi Dania sudah meninggal. Aku tidak berniat memiliki ipar seperti mu!" tutur Wira dengan nada dingin.


****,....


Widya tidak percaya jika Wira bisa mengatakan hal seperti ini pada dirinya.


"Sampai kapan pun aku akan tetap menganggap mas Wira sebagai kakak ipar ku!" ucapnya dengan tegas.


"Menggelikan!" gumam Wira, "dari awal aku menikah dengan almarhum Dania, aku memang tidak pernah menyukai mu," ucap Wira berterus terang, "jika bukan karena Dania, mana mungkin aku mengizinkan kau tinggal di rumah ku dulu!"


"Itu semau karena aku menyukai mas Wira!" sahut Widya yang sudah tidak tahan memendam perasaannya.


Wira tertawa, sungguh geli sekali mendengar pernyataan dari mantan adik iparnya ini.


"Aku sudah tahu itu!" seru Wira, "kau selalu menjadikan kesalahan almarhum istri ku sebagai kemarahan ku."


"Jika mas Wira tahu aku menyukai mas Wira, kenapa mas tidak pernah membuka sedikit saja hati untuk ku hah?"


"Lah, kenapa kau memaksakan hari seseorang?"


"Itu karena aku sangat menyukai mas Wira....!"


"Dan, apa jangan-jangan kau ada hubungannya dengan pendarahan yang di alami kakak mu?" tanya Wira tiba-tiba, wajah Widya mendadak panik.


"M-mas, mas Wira jangan memfitnah ku!" ucapnya mulai gugup.


Wira mendelik, dari ekspresi seperti ini Wira sudah mendapatkan jawabnya.


"Tidak harus mengikuti rencana Mawar. Hari ini aku akan membuka semuanya!" batin Wira, "tidak, aku tidak memfitnah mu. Aku hanya salah kata saja!" ujar Wira membuat Widya bernafas lega.

__ADS_1


"Mas Wira tahu sendiri kalau aku sudah beberapa hari pergi. Jadi, mana mungkin a-aku, ada di rumah."


Wira tersenyum miring, jika di dengar dari ucapan Widya, wanita ini mudah keceplosan. Jadi, sebisa mungkin Wira harus bisa membuatnya mengaku hari ini juga.


"Mas, apa kau tidak lihat jika wajah ku sangat mirip dengan kak Dania. Kenapa mas Wira tidak,...ehem,...menikah saja dengan ku!" ucap Widya dengan percaya diri.


"Dari segi mananya kau mirip dengan almarhum istri ku hah?" tanya Wira merasa lucu dengan pernyataan Widya.


"Mas, aku adik kak Dania. Seharusnya kau menikah dengan ku bukan dengan perempuan lain...!"


"Kau sudah tidak waras!" ucap Wira bergeleng kepala.


Braak,.....


Tiba-tiba saja Widya yang hilang kendali menggebrak meja membuat semua orang di cafe merasa terkejut.


"Itu semua karena aku sangat mencintai mas Wira. Si Dania itu tidak pantas menjadi istri mas Wira apa lagi perempuan lain. Sudah bagus Dania itu ku buat mati. Tapi, kenapa mas Wira malah menikah dengan perempuan lain hah?"


Suara Widya melengking, membuat semua pengunjung terkejut termasuk Wira.


Dengan sorot mata tajam, wajah merah penuh emosi Wira langsung mencengkram wajah Widya.


Mati lah Widya, wanita ini baru menyadari ucapannya barusan.


"M-mas,...mas,...jangan dengarkan semua ucapan ku. Aku hanya meracau, semua itu tidak benar!" ucap Widya dengan menahan sakit di wajahnya.


"Pantas saja kau memutuskan pindah ke luar negeri saat itu. Ternyata kau takut jika perbuatan keji mu ketahuan. Apa kau sadar jika kau sudah membunuh kakak dan keponakan mu hah?"


Buk....


Wira yang emosi langsung mendorong Widya dengan kasarnya. Semua orang tidak mau ikut campur, mereka hanya sibuk menonton dan ada yang merekam saja.


"Mas,...semua itu tidak benar. Mana mungkin aku yang menyebabkan kak Dania meninggal malam itu."


Pemilik cafe yang tahu jika ada keributan di cafe miliknya langsung melapor pada polisi.


"Hah, polisi....!"


Widya mulai panik.

__ADS_1


"Mas, kau melaporkan ku pada polisi kah?" tanya Widya yang tidak percaya jika Wira akan menjebloskannya ke penjara.


Wira yang melihat kedatangan tiga orang polisi sedikit terkejut karena dirinya belum melaporkan apa pun.


"Kami mendapatkan laporan jika ada keributan di cafe ini. Sebaiknya kita selesaikan di kantor polisi...!" ucap salah seorang polisi.


"Lebih baik begitu pak, bawa saja perempuan ini. Nanti akan saya jelaskan di kantor polisi," ujar Wira.


Widya ingin kabur, tapi tidak bisa. Mau tidak mau Widya ikut saja. Sepanjang perjalanan Widya mulai sibuk memikirkan alasannya.


"Brengsek!" umpat Widya, "aku keceplosan,bertahun-tahun aku menyembunyikan rahasia ini. Aku tidak mau di penjara!"


Wira nampak santai saja meskipun hatinya sangat sakit karena dalang dari malam duka itu sengaja di buat oleh adik iparnya sendiri.


Wira mengirim pesan pada Mawar untuk tidak menunggunya pulang. Pria ini juga memberitahu apa yang sudah terjadi sekarang. Apa pun itu, Wira tidak ingin menyembunyikan masalah ini dari Mawar agar tak ada kesalahpahaman.


"Mah, mas Wira di kantor polisi sekarang!" ujar Mawar memberitahu Asti.


"Ah, kamu serius Mawar?" tanya Asti tidak percaya.


"Ini masalah tentang almarhum mbak Dania. Mas Wira dan mbak Widya ada kantor polisi."


Asti menyerahkan baby Al ke Mawar, sungguh hatinya merasa tidak enak sekarang.


"Kamu dan Al istirahat saja. Mamah mau menyusul Wira," ujar Asti mendadak panik.


Asti bergegas pergi ke kantor polisi, dirinya ingin melihat dan mendengar sendiri apa yang sebenarnya sudah terjadi.


Di kantor polisi, Widya terus berkilah dan menganggap Wira sudah memfitnahnya. Tidak, polisi tidak menyerah meskipun jawaban Widya terus berbelit-belit.


Kejadian lima tahun yang lalu, kembali memanas sekarang. Jika bukan pemikiran Tia, mana mungkin Wira memiliki pemikiran seperti ini. Apa lagi dengan kemunculan Widya sekarang cukup membuat kecurigaan.


"Kau jangan berbohong lagi Widya. Semua orang di cafe sudah mendengar ucapan mu tadi. Kau sendiri yang bilang jika kau sudah membuat Dania mati."


"Mas,...!" Wira mencoba meraih tangan Wira namun dengan cepat Wira menepisnya, "mas, aku berbohong. Apa yang ku ucapkan di cafe semua itu tidak benar!"


"Widya, jadi kau yang sudah membunuh menantu dan cucu ku hah?"


Plak.....

__ADS_1


Asti menampar wajah Widya, sungguh geram hatinya ketika melihat wajah Widya. Dari awal, Asti memang tidak menyukai dirinya.


__ADS_2