Nafsu Sang Duda

Nafsu Sang Duda
Chapter 76


__ADS_3

Banyak mata nakal yang kagum dengan ketampanan Wira saat menggendong anaknya memutari mall. Dengan wajah gagah di tambah lagi kacamata hitam yang bertengger di atas hidung mancungnya ini menambah sempurna pemandangan.


Mawar merasa risih melihat beberapa perempuan yang menatap kagum pada suaminya itu.


"Heran, pada gak bisa jaga mata!" celetuk Mawar geram sendiri.


"Suami orang memang menggoda sayang. Biarkan saja,lagian aku tidak akan tertarik dengan perempuan mana pun selain dirimu!"


"Bangga sekali kau berkata seperti itu mas!"


"Lah iya, perjaka memang menawan, duda lebih memikat tapi suami orang lebih menggoda."


"Jika suami orang lebih menggoda, kenapa aku lebih terpikat dengan duda nafsuan seperti kamu hah?"


Wira terkekeh lucu mendengar ucapan istrinya.


"Malam ini ya,...!" bisik Wira, "nanti Al mas titipin di kamar mamah."


"Mas,....!" Mawar mencubit lengan suaminya.


Wira memang suka bercanda tidak mengenal tempat. Suka sekali membuat Mawar mati ucap.


Terus memutari mall, berbelanja benda-benda tidak penting itu adalah kesukaan Wira. Dari pada membawa barang belanjaan, Wira lebih senang menggendong anaknya.


Sepulangnya dari mall, Al langsung berpindah tangan ke Asti. Hanya Al teman bermain Asti setiap hari menemani masa tuanya sekarang apa lagi sekarang Asti mulai sakit-sakitan.


"Mah, Al itu sangat aktif. Nanti mamah kecapekan loh," ujar Wora Wira mengingatkan.


"Mamah senang kok. Malam ini Al tidur sama mamah ya?"


Hati Wira langsung mekar, sesuai apa yang di harapkannya.


"Ehem, tapi Mawar?"


Wira sok menolak.


"Mawar pasti mengizinkan, lagian biasanya Al tidur sama mamah juga."


"Ya udah, terserah mamah sih!" ujar Wira yang dalam hatinya bersorak ria.


Benar saja, selesai makan malam Asti langsung mengajak cucunya kesayangan ke kamar. Menyiapkan susu dan perlengkapan Al sebelum tidur.


Al anak yang baik, tidak pernah rewel jika sedang bersama omanya. Mawar juga tidak masalah, yang penting anaknya merasa nyaman.


"Sayang,...." panggil Wira dengan suara menggoda.


"Hmm,...ada apa mas?"


"Udah lama gak pakai baju dinas. Di pakai dong!"


"Sudah ku museumkan mas."


"Sayang, lihat mas dong...!" ujar Wira yang saat ini sedang berbaring di atas tempat tidur tanpa mengenakan sehelai benang pun.


Mawar yang masih sibuk mengemasi pakaian anaknya langsung menoleh ke arah suaminya.

__ADS_1


"Astaga mas....!" seru Mawar yang syok melihat pedang tumpul suaminya sudah berdiri tegak.


"Ke sini atau mas goyang di tempat?"


"Mas,...!"


"Satu,....!"


"Mas,ini jam berapa hah?"


"Dua....!"


Bingung, mau tidak mau Mawar menghampiri suaminya di atas tempat tidur. Masih selangkah, Wira langsung menarik istrinya ke dalam pelukan.


Wira sendiri yang melepas semua pakaian Mawar. Seakan tidak pernah bosan menikmati tubuh elok milik istrinya.


Aaaaw.......


Mawar sedikit menjerit ketika Wira tiba-tiba saja mengisap put*ng susunya sangat dalam.


"Mas,.....!"


"Enak, kenyal seperti jeli tapi milik mu jauh lebih enak. Susu mama memang enak ya...!" ucap Wira membuat Mawar tertawa.


Cap...cup....cap...cup....


Wira terus membuat tanda merah di atas dada istrinya. Tidak, Mawar tidak ingin lehernya merah karena itu bisa membuat dirinya malu.


Wira mengintip ke bawah, bibir pria ini tersenyum.


Haaap,....


Sudah masuk, tiba-tiba saja Wira membalikan tubuhnya yang sekarang Mawar lah berada di atasnya.


"Kenapa?" tanya Wira, "goyang sekarang!"


Mawar hanya menurut saja, tidak mau banyak bicara Mawar langsung menggoyang suaminya. Gerakan naik turun dengan kecepatan sedang, membuat tubuh Wira menjerit kenikmatan.


Bum...bum....pak....pak....


Begitu lah bunyinya.


Cepak...cepak...jeder....


Semakin nyaring bunyinya karena Mawar mulai merasakan sebuah kenikmatan ketika suaminya meremas kedua bukit kenyalnya.


"Aku lelah mas...!" ujar Mawar lalu kembali ke setelan semula.


Wira menggenjot istrinya dengan gaya dan gerakan favoritnya.


Plok,..plok....plok...


Terus berbunyi, syahdu sekali kedengarannya.


"Mas,....aaaah......!"

__ADS_1


Tubuh Mawar menggelinjang, jari jemarinya mencengkram punggung sang suami di tambah lagi Wira suka mengisap jika tahu sang istri ingin keluar.


"Sekali lagi ya...!" bisik Wira yang kembali memulai gerakannya setelah tubuh Mawar kembali lemas.


Untuk kali ini gaya kodok, Wira tidak ingin cepat-cepat keluar. Malam ini dirinya ingin bermain bersama sang istri sampai puas.


Tidak puas dengan gaya kodok, mereka melakukan gaya pinggir ranjang.


krek....krek....krek....


Ranjang mahal dan mewah ini bisa-bisanya berbunyi di hantam dengan goyangan Wira dan Mawar. Untung saja kamar ini kedap suara, apa lagi di lantai dua ini hanya mereka penghuninya karena kamar Asti berada di lantai satu.


"Membungkuk sedikit lagi sayang!" bisik Wira kembali memasukan rudalnya.


Plok....plok....plok....


Nyaring sekali bunyinya, ******* suara manja penuh kenikmatan menggema di kamar tersebut.


"Mas, jangan terlalu meremas. Sakit!" tegur Mawar.


"Oh, khilaf!" seru Wira lalu menggendong istrinya naik ke atas tempat tidur, "mari keluarkan bersama-sama!" bisik Wira.


Maju mundur naik turun dengan kedua tangan yang sibuk meremas. Wira mulai mempercepat gerakannya membuat Mawar merasakan sesuatu.


"Mas...aku hampir.....!"


Belum selesai Mawar meneruskan ucapannya, pasangan suami istri ini telah melakukan puncaknya secara bersama-sama.


Suara kenikmatan seperti biasa keluar dari mulut keduanya. Sungguh Wira dan Mawar puas malam ini.


Wira terbaring di samping istrinya, nafas meraka terdengar ngos-ngosan. Lelah, sudah pasti lelah. Meskipun melelahkan tapi anehnya bikin kecanduan.


"Gendong aku dong mas!" rengek Mawar yang ingin pergi ke kamar mandi.


"Satu menit lagi,...!" sahut Wira yang masih lelah.


Baru juga ngomong, Wira sudah menggendong istrinya ke kamar mandi. Mereka bebersih berdua sebelum tidur.


"Istirahatlah sayang, sudah malam."


"Tentu saja, malam ini kau membuat lutut ku goyah!"


"Nanti pagi lagi ya...!" ucap Wira menggoda, "ayo tidur Mawarku. Selamat malam sayang, aku mencintaimu," ucap Wira lalu mengecup keningnya sebelum tidur.


Tidur berdua seperti ini sudah biasa, apa lagi Al tidak pernah rewel malam jika tidur bersama omanya. Tak jarang mereka berdua seperti orang yang bulan madu terus.


Beda lagi dengan Farah, wanita ini tiba-tiba saja mendapatkan kabar jika sang mamah meninggal dunia di dalam penjara.


Farah hanya bisa menangis, menyesal telah meninggalkan mamahnya selama ini. Joni memeluk Farah, begitu juga dengan Wiwi.


"Sudahlah, tenangkan dirimu. Besok pagi kita akan pulang," Joni mencoba menenangkan Farah, "Wi, tidak apa-apakan kau tinggal sendiri?"


"Tidak masalah, aku berani kok!"


Fatah tidak ingin menyalahkan siapa pun, semua ini sudah takdir dan hukuman yang harus di tanggung Yunita. Yunita tidak sempat menyelesaikan masa hukumannya, fisik tuanya membuat kepikiran lalu sakit kemudian meninggal dunia.

__ADS_1


__ADS_2