Nafsu Sang Duda

Nafsu Sang Duda
Bonchap 113


__ADS_3

"Ya ampun, tampan sekali. Anaknya juga tampan. Uh, beruntung sekali yang jadi istrinya ya," bisik salah seorang pengunjung restoran.


"Lihatlah, dia menyuapi istrinya. Mana istrinya cantik juga!"


"Cantikan aku, andai aku yang jadi istrinya. Betapa bahagia hidupku!" ucap perempuan tersebut dengan penuh khayalan.


Mawar dan Wira bisa mendengarkan jelas jika mereka di bicarakan sejak tadi karena meja mereka berjarak sangat dekat.


"Mas, besok kalau ngajak aku dan anak-anak makan di luar, kamu pake kain sarung dan baju kaos aja ya!"


"Ah, kamu ini pasti mendengarkan kedua cecurut di belakang kita itu kan?"


"Mereka itu, sesama perempuan kok gak bisa menghargai perasaan perempuan lain."


"Udah ah, gak usah di bahas. Kamu yang kesal sendiri kan!"


Mau menegur juga malu, tapi Mawar sudah gerah mendengar pujian dari dua wanita itu untuk suaminya. Bahkan, sampai di dalam mobil saja Mawar masih setia dengan cemberutnya.


"Senyum dong, masa gitu aja cemberut. Malu ah sama anak-anak."


"Dongkol aja!" seru Mawar.


Demi mengembalikan senyum sang istri, Wira mengajak istri dan kedua anaknya mampir ke toko mainan.


Meskipun Mawar bilang tidak usah membeli nyatanya dia lah yang paling bersemangat memilih mainan untuk kedua anaknya.


Setelah puas berbelanja, Mawar dan Wira langsung pulang karena sejak tadi Asti sudah sibuk menelpon Wira agar cepat pulang.


Setibanya di rumah, Asti langsung mengambil kedua cucunya. Menidurkan kedua cucunya di kamar pribadi milik Asti.


"Perasaan kita ini seperti orang pacaran. Kalaupun ngajak anak-anak keluar aja harus di buru waktu sama mamah."


"Namanya juga orangtua mas, apa lagi mamah seorang diri. Sudah pasti cuma cucu-cucunya yang menghibur mamah setiap hari."


Wira memeluk Mawar dari belakang, meremas dua bukit kenyal milik istrinya.


"Mas,....!"


Mawar mendorong suaminya.


"Sakit tahu ah....!"


"Mas gemes, kapan bisa mimik di situ?"


"Ah, kamu ini...!"


"Sayang, sebenarnya kalau kamu **** dikit aja udah bikin mas senang kok. Ayo lah....!" bujuk Wira.


"Mas pikir permen di ****?"


"Dikit aja, ujungnya. Malam ini ya...!" Wira mengedipkan sebelah mata.


"Mas, masih kurang tiga minggu loh!"

__ADS_1


Wira langsung berguling-guling di atas tempat tidur. Ingin sekali menangis tapi air matanya tak bisa keluar.


"Mas udah gak tahan, tegang nih...!"


"Mas itu kan pernah jadi duda selama empat tahun. Nahan segitu lamanya kok bisa tapi nahan empat bulan kok gak bisa?"


"Ya beda lah!" seru Wira, "mas gak mau tahu, malam ini mas kasih kamu permen hambar!"


Tidak memperdulikan rengekan suaminya. Mawar memilih pergi mandi karena hari sudah sore. Selesai mandi, Mawar di bantu Asti memandikan kedua anaknya.


Sebagai seorang ibu, tugas Mawar cukup ringan karena mamah mertuanya selalu berada di garis paling depan jika berhubungan dengan cucunya.


Al, di bandingkan tidur dengan orangtuanya, bocah kecil ini lebih senang tidur di kamar omanya. Selesai makan malam, Mawar di temani suaminya langsung meninabobokan baby Ar.


"Mas, aku mau ke kamar mandi sebentar," ujar Mawar.


"Jangan lama-lama, mumpung Ar udah tidur nih...!"


Mawar menghela nafas, ternyata suaminya ini serius dengan ucapannya tadi sore. Lima menit berada di kamar mandi, akhirnya Mawar keluar juga.


Air liur Wira hampir saja menetes saat melihat istrinya keluar dari kamar mandi dengan mengenakan gaun dinas malam berwarna merah maroon.


Sungguh menggoda Wira, urat yang semula lemas kini tegang berdiri. Wira memegang pedangnya, ada yang bergetar di bawah sana.


"Kamu ngapain pakai gaun seperti itu hah? sengaja ya...?"


Dari pintu kamar mandi, Mawar melangkah dengan gaya yang aduhai hingga membuat Wira semakin kaku. Sekian bulan tak pernah melihat istrinya mengenakan lingerie, untuk pertama kalinya Mawar kembali mengenakannya.


"Aku siap malam ini mas," bisik Mawar dengan suara manjanya.


Tidak membuang waktu lagi, Wira langsung menggendong istrinya naik ke atas tempat tidur.


"Sayang, ini seriuskah?" tanya Wira memastikan karena pria ini juga tidak ingin sang istri kenapa-kenapa.


"Aku sudah berkonsultasi dengan Dokter kemarin. Aku di nyatakan sehat dan siap di gempur. Saat mas pergi bekerja, aku pergi ke rumah sakit."


"Kenapa gak bilang dari malam kemarin sih?" kesal Wira.


"Em, anu mas. Aku belum siap, kita kan udah lama gak gituan!"


Gemas sekali Wira, pria ini langsung menindih istrinya dan memagut bibir basah Mawar. Rakus sekali Wira, tanpa permisi atau pun kata-kata cinta pria ini langsung melahap istrinya.


Pedangnya yang sudah lama tidak keluar dari sarungnya pada akhirnya malam ini bisa keluar di asah juga.


Dengan beringas Wira melepas semua pakaiannya dan pakaiannya sang istri. Bersiap mengambil gaya yang sudah lama tidak ia peragakan.


"Loh mas, kenapa?" tanya Mawar heran saat melihat suaminya yang terdiam sambil memegang burungnya.


"Anu sayang, gak bakal sakit kan?" tanya Wira yang tiba-tiba saja merasa khawatir dengan kondisi Mawar.


"Gak kok mas, aku serius!"


Antara maju dan mundur, Wira bingung sendiri. Mau maju ia masih was-was, mau mundur tapi sudah kepalang tanggung. Akhirnya Wira memilih maju.

__ADS_1


Wira langsung menyeruduk hutan lebat milik Mawar. Saking lebatnya pedang tumpul Wira tidak bisa masuk.


"Ah, ini sangat sempit. Mas suka seperti ini," ucap Wira semakin bersemangat.


Terus mencoba, akhirnya masuk juga. Sekian bulan tak berkunjung ke rumahnya, Wira merasa jika lapis legit milik istrinya sangat sempit.


"Aaah,...ini sangat menjepit," bisik Wira mulai memainkan gerakannya.


Sambil meremas, menghisap dan memberi cap. Wira terus memainkan gerakan maju mundur naik turun.


Plok,....plok,....plok,....


Nyaring sekali bunyinya, cicak saja tak berani untuk mengintip mereka berdua.


"Mas,....!" lirih Mawar yang belum apa-apa sudah merasakan sesuatu dalam dirinya.


"Sayang mas,...!" bisik Wira semakin mempercepat gerakannya.


Tangan nakal Mawar juga langsung mengarahkan mulut suaminya ke salah satu bukit kenyalnya.


Plok,....plok,....plok,...


Aaaaaah.....aaaaaah,.....


Aaaaaah,.....aaaaaaah.....


Belum ada lima menit mereka melakukan puncak bersama-sama. Tubuh keduanya menggelinjang, untuk pertama kalinya setelah melahirkan anak kedua Wira kembali menyemprotkan cairan hangat di gua istrinya.


Cukup lah beberapa waktu keduanya saling melenguh, merintih penuh kenikmatan. Kembali lemas, Wira langsung mencabut pedangnya.


"Sayang, tegang lagi...!" ujar Wira yang sebenarnya belum puas melepaskan hasratnya.


"Kalau tegang ya di lemasin lagi...!" ujar Mawar yang kali ini bergantian. Mawar berada di atas, menggoyang suaminya yang saat ini sedang sedang merasakan sesuatu yang tidak bisa di jelaskan.


Keduanya larut dalam kenikmatan, Wira terus meremas bukit istrinya sambil mengeluarkan rintihan kenikmatan.


"Merintihlah sayang....!" bisik Wira lalu menggigit daun telinga istrinya.


Untung saja baby Ar bisa di ajak kerjasama. Bocah kecil itu terlelap begitu nyenyaknya. Bahkan tidak terganggu dengan suara kedua orangtuanya.


Merasa lelah, Mawar kembali berada di bawah. Ah, kurang nikmat rasanya kalau ranjang belum bergoyang dan berbunyi.


Wira yang kelaparan kembali melancarkan aksinya. Menggoyang sang istri di pinggir ranjang.


Bulu kuduk Mawar terasa berdiri mana kala Wira memainkan put*ng kenyalnya.


Bosan dengan gaya yang seperti itu, Wira dan Mawar melakukan gaya katak.


Plok,....plok,...plok,....


Cepak,...cepak,....cepak....


Berbagai macam bunyi memenuhi ruangan kamar. Senang sekali rasanya hati Wira yang bisa menggempur istrinya malam ini meskipun belum ada empat bulan.

__ADS_1


__ADS_2