
Lucu memang, sepulangnya ke rumah Asti benar-benar mengerjai Wira. Saat membuka pintu rumah, Wira sudah di sambut dengan empat karton mi goreng.
Lesu, Wira langsung lesu melihat tumpukan di depannya ini.
"Bisa di kurangi dua karton mah?" Wira mencoba membuat penawaran dengan mamahnya.
"Tidak boleh!" tegas Asti, "mulai sekarang kalian berdua tidak boleh mengunci pintu kamar kalau malam!"
"Mamah ini apa-apaan, ini kan privasi aku dan Mawar. Aneh deh...!" Wira kesal.
"Kalau aku sih ngikut apa kata mamah aja!" ucap Mawar yang lebih berpihak pada mamah mertuanya.
Huft,....
Wira menghembuskan nafas kasar, mengomel sendiri masuk kedalam rumah sambil membawa barang-barang.
Asti dan Mawar tertawa, sudah saatnya mereka bergantian membalas kelakuan Wira selama ini.
"Semoga saja anak perempuan ku tidak memiliki sifat yang sama dengan dua perempuan yang ada di rumah ini," ucap Wira dengan kerasnya sengaja menyinggung istri dan mamahnya.
"Dari pada menurun sifat kamu. Huh, mamah yakin semua laki-laki akan mundur nanti. Anaknya petakilan eh punya papah lebih dari petakilan. Mengerikan....!!"
Kalah, Wira kalah berdebat dengan mamahnya. Wira yang kesal langsung mengambil alih baby Ar dari gendongan sang istri yang sedang duduk di ruang keluarga.
"Al, ayo ikut papah ke kamar sayang,....!"
Wira juga mengajak anak lelakinya masuk ke dalam kamar. Asti dan Mawar hanya bisa tertawa. Terlihat jelas sekali jika Wira sangat kesal siang ini.
Arsyniar atau bisa di panggil Ar, nama panggilan anak perempuan Mawar dan Wira.Aldevaro atau bisa di panggil Al, anak laki-laki Mawar dan Wira yang semua wajahnya mirip ke Wira.
"Kamu mau ngapain?" tanya Wira yang melihat istrinya hendak membongkar isi koper.
"Mau beberes mas, biar rapi."
"Gak ada, istirahat sana. Mas gak mau kamu kelelahan!"
Mawar hanya menatap suaminya, hanya dengan sekali ucap di tambah dengan mata terbelalak Mawar langsung meletakkan kembali kopernya.
"Jangan gendong Al dulu, nanti perut kamu kena tendang lagi seperti tadi pagi," Wira mewanti-wanti istrinya.
"Al juga gak sengaja mas!"
"Iya, mas tahu. Tapi, anak seumuran Al ini sangat aktif. Kalau kamu kenapa-kenapa, mas sedih tahu!"
"Mas khawatir sama aku?"
__ADS_1
"Tentu, kamu istri mas jadi wajib di khawatirkan. Kalau sama istri tetangga ya harus cuek!"
"Hais,....kamu ini ada-ada aja mas!"
Al, di banding sama kedua orangtuanya bocah ini lebih senang bersama dengan omanya.
"Ma,...ema.....!" celoteh Al yang mencari oma Asti.
"Al cari oma ya sayang, papah anterin ya...!"
Wira menggendong anak tampannya ke kamar sang mamah.
"Heran sama kamu, suka sekali bergaul sama nenek-nenek!" celetuk Wira membuat sang mamah jengkel.
"Mulut kamu ini ya, heran mamah. Perasaan saat mamah hamil kamu gak ngidam yang aneh-aneh. Cuma mamah kesel aja kalau lihat wajah papah kamu!"
"Ya itu sih derita mamah. Lagian siapa nyuruh kesel sama papah. Jadi, kalau aku mirip sama papah bukan salah ku, tapi salah mamah!"
Ingin sekali Asti mencekik anaknya ini, sudah punya buntut dua tapi kelakuannya masih tetap sama. Tidak, bukan dari dulu sikap Wira seperti ini. Saat menikah dengan Mawar lah sikap Wira berubah menjadi humoris.
Wira kembali ke kamar, pria ini sudah mendapati istrinya terlelap tidur di samping baby Ar.
"Sekarang aku punya tunas kembang Mawar. Ini kalau besar gak di jaga ketat, bahaya. Aku bisa gantung diri di pohon pepaya!" ucap Wira yang mulai sibuk memikirkan masalah kedepannya.
Tidak mau mengganggu istri dan anaknya, Wira memilih membereskan semua barang-barang mereka dari rumah sakit.
"Kelak, aku akan memasak setiap hari untuk mu dan anak-anak kita," ucap Joni benar-benar membuat hati Farah meleleh.
"Sepertinya akan lebih irit kalau kita masak sendiri. Makan di rumah bersama keluarga adalah kebahagiaan yang tidak bisa di beli dengan uang."
"Istri ku sayang, bunga hati belahan jiwa ku. Besok aku punya sesuatu untuk mu!" ujar Joni membuat Farah penasaran.
"Eh, apa kah itu?" tanya Farah penasaran.
"Besok kita akan pulang ke Indonesia. Bagaimana?"
"Apa hubungannya sesuatu itu dengan Indonesia?" tanya Farah semakin penasaran.
"Ah, sudahlah. Kau akan tahu besok, kau yang akan putuskan setelah kita tiba di sana."
Deg,...
Tiba-tiba saja dada Farah berdebar kencang.
"Jangan membuat ku takut Jon, katakan saja sekarang!" pinta Farah dengan wajah serius.
__ADS_1
"Tidak, tidak ada yang membuat mu takut. Ini hanya sebuah pilihan yang harus kau pilih nanti."
"Jon, selain dirimu sekarang aku tidak punya siapa-siapa lagi. Ku mohon jangan membuat ku takut!"
"Aku serius, tenangkan diri mu. Tidak akan ada yang berani menakuti mu. Sudahlah, sekarang cicipi masakan ku."
Joni meletakan satu piring udang goreng mentega dan sayur sup buatannya.
"Jangan menatap ku seperti itu, cepat icipi kalau tidak aku yang akan mencicipi mu siang ini."
Joni memaksa Farah untuk memakan masakannya padahal sekarang Farah sedang berpikir keras menebak apa yang akan di lakukan suaminya.
"Em, enak. Kenapa masakan mu jauh lebih enak dari ku hah?"
Farah protes.
"Percaya tidak percaya jika masakan seorang suami itu pasti jauh lebih enak di banding istrinya meskipun kaum kami jarang memasak!" ucap Joni dengan bangganya.
"Heleh, di sanjung sedikit melambungnya sudah sampai Hongkong. Dasar haus pujian!"
"Itu kenyataan sayang ku,...!" cibir Joni.
"Terserah kau, aku mau makan!" seru Farah kembali menikmati masakan suaminya.
Jika di rasa, bohong sekali Joni ini yang mengaku tidak bisa memasak. Tapi, Farah juga tidak percaya lelaki nakal seperti Joni ini memiliki keahlian lain seperti memasak.
"Selesai makan kita karokean ya, jangan lupa goyangannya!" ajak Joni.
"Dan jangan lupa sawerannya!" sahut Farah lalu mereka berdua tertawa.
Rumah tangga mereka sederhana, Farah senang dengan kehidupannya sekarang di banding dengan mimpi-mimpinya yang dulu yang mengharapkan suami tampan,kaya dan penyayang seperti Wira.
Sekarang Farah bisa mendapatkan suami seperti mimpinya meskipun bukan Wira.
"Heh, mau ngapain?" tanya Joni menghentikan langkah Farah.
"Mencuci piring, ada apa?"
"Duduk, biar aku saja!" ujar Joni langsung mengambil alih piring dari tangan istrinya.
"Tapi, kita harus saing membantu!" protes Farah.
"Tidak ada, biar aku saja. Aku tidak ingin kau kelelahan. Kasihan anak kita nanti."
"Oh my Joni ku, Love you!" ucap Farah dengan wajah menggemaskan.
__ADS_1
Joni tersenyum lebar lalu membalas ucapan manis Farah. Joni langsung pergi ke dapur, mencuci piring dan langsung membersihkan dapur yang sedikit kotor.