
Di kamar, Wira yang sudah termakan api cemburu langsung melahap istrinya. Tidak tanggung-tanggung, demi mengembalikan suasana hatinya malam ini Wira minum obat kuat.
Mawar pasrah, yang penting suaminya tidak marah. Lagian, sampai kapan pun cintanya hanya untuk Wira seorang.
Dengan berbagai macam gaya, Wira terus melampiaskan rasa panas di dadanya. Pintanya tadi Mawar yang harus memuaskan dirinya, namun nyatanya Wira lah yang terus memuaskan istrinya.
Sudah empat kali Mawar melakukan *******. Sungguh suaminya ini pandai dalam memuaskan istrinya. Wira ingin membuktikan jika dirinya jauh lebih segalanya padahal Mawar sendiri tahu jika suaminya ini paket lengkap.
"Mas, kenapa kamu belum keluar juga?" tanya Mawar yang sebenarnya sudah lelah tapi harus tetap kuat demi suaminya.
"Mas ingin membuktikan jika mas ini gagah. Mas bisa bikin kamu puas!"
"Selama ini kan kamu memang perkasa mas. Aku tidak pernah meragukan kamu!"
"Diam saja, cepat berbalik badan!" titah Wira mengatur gaya lain.
Terus bermain, untung saja Al tidur bersama omanya jadinya Wira bebas melakukan apa saja dengan istrinya.
Cepak,....cepak....cepak.....
Bunyi perpaduan kulit neraka menyatu dengan indah. Seakan tidak ada lelahnya Wira terus menggasak istrinya.
Mawar heran sendiri, apa kepala adik suaminya ini tidak lecet?
"Mas,.....!"
Mawar kembali merasakan berada di puncak.
"Terus sayang, keluarkan semuanya!" bisik Wira semakin mempercepat gerakannya.
Plok,...plok,....cepak....
Semakin nyaring bunyi semakin terdengar indah dan memuaskan di telinga Wira.
Aaaaah,......
Untuk yang kelima kalinya Mawar kembali merasakan *******. Wira puas, benar-benar puas telah menghajar istri di atas ranjang malam ini.
"Yang keenam kita keluarkan bersama-sama!" bisik Wira hanya di tanggapi dengan anggukan.
Kres,....kresek.....
Hutan-hutan mereka saling menggesek, menyatu dengan suara,
Plok,....plok....plok....
__ADS_1
Untung saja malam ini Mawar tidak melakukan pergerakan yang menguras tenaga, hanya suaminya yang sibuk bekerja.
"Mas akan keluar sayang, cepatlah!" bisik Wira kembali membuat titik kenikmatan untuk istrinya.
"Mas,.....!"
Mawar yang sudah tidak tahan kembali mencengkram punggung suaminya. Dengan liar Wira mengisap put*ng istrinya secara bergantian. Tanda merah, jangan di tanya karena di setiap bagian sensitif Mawar di beri tanda semua oleh Wira.
Aaaaaaaaah,..........
Tubuh mereka saling menegang, untuk beberapa saat Wira memeluk istrinya lalu mencium bibir Mawar. Lelaki ini ambruk di samping Mawar, nafas keduanya sudah tidak karuan lagi.
"Sayang, tolong besok gunduli hutan mu ya," ucap Wira masih sempatnya menggoda Mawar.
"Mas, kamu ini tidak ada puasnya!"
"Biar saja, biar kamu tahu kalau suami mu ini perkasa dan kuat. Pria mana pun tidak akan ada yang bisa menggantikan posisi ku!"
Mawar hanya bergeleng kepala, wanita ini meminta suaminya untuk menggendong ke kamar mandi. Beberapa saat mereka membersihkan diri kemudian langsung pergi tidur karena jam sudah menunjukkan pukul dua malam.
Tidur jam dua, bangun jam enam pagi sungguh membuat Mawar lemas apa lagi suaminya sudah menghajarnya tadi malam.
"Loh, mamah sama Al mau kemana?" tanya Mawar penasaran karena mertua dan anaknya sudah bersiap untuk pergi.
"Duh, kamu lupa ya kalau hari mamah dan Al ada acara di rumah teman mamah."
"Pagi apanya, ini sudah jam delapan pagi...!"
Mawar melirik jam yang menempel di dinding.
"Perasaan aku bangun jam enam deh!"
"Jam enam apanya, kalian ini suami istri sama aja. Suami kamu kalau cemburu bahaya, sebaiknya kamu harus pandai merayu Wira...!" ujar Asti yang paham betul kenapa Mawar bisa bangun siang.
Meskipun Asti paham, namun dirinya tidak pernah bicara yang menyinggung Mawar. Justru dirinya merasa sangat senang karena dengan begitu Asti lebih banyak waktu bersama Al.
"Udah ah, mamah sama Al pergi dulu. Suami kamu kalau belum bangun sampai jam sembilan, seret aja ke kamar mandi...!"
Mawar hanya tertawa, jangan dia yang istrinya. Asti yang orangtua kandungnya saja geram sendiri dengan sikap anaknya. Mawar kembali ke kamar, karena dirinya belum mandi.
Huft,.....
Asti membuang nafas panjang ketika sudah memasuki mobil.
"Andai kamu masih hidup mas, akan pecah kepala ku menghadapi kamu dan Wira. Sama-sama tidak ada bedanya!" batin Asti.
__ADS_1
Lain pula dengan kehidupan rumah tangga Farah dan Joni, meskipun mereka tidak pernah saling menyatakan cinta tapi hari-hari mereka terlihat sangat bahagia.
Seperti biasa Farah dan Joni pergi bekerja. Beda lagi dengan Wiwi yang sudah tidak kelihatan batang hidungnya sejak di ajak Jonas pergi dari apartemen.
Hari ini, Wiwi bisa menghirup udara bebas ketika Farah dan Joni menjemputnya keluar.
"Katakan pada ku, apa kau di siksa kakak ku?" tanya Joni penuh selidiki.
"Tidak, yang ada aku menyiksa dia!"
"Hah, kok bisa?" tanya Farah terkejut.
"Farah, kau pasti tahu apa yang sudah aku lakukan." Wiwi mengedipkan sebelah matanya.
Farah bertepuk tangan, memuji sikap Wiwi.
"Tidak sia-sia kau belajar dari mami Ger. Ada gunanya juga kau jual diri meskipun itu akan menjadi masa lalu yang pahit untuk kita."
"Aku tidak pernah menjual diri ku. Tapi, mereka lah yang menjual ku!" ucap Wiwi dengan memaksa senyumnya. Jika mengingat keluarganya, Wiwi akan merasa sangat sakit hati.
"Dan kau jangan lupa, aku masuk ke sana di jual oleh bajingan ini...!" ujar Farah yang terkadang masih kesal dengan Joni.
"Ya aku minta maaf!" ucap Joni dengan entengnya meskipun dalam hatinya merasa menyesal.
"Menjual lalu menikahi ku secara paksa. Entah apa yang ada dalam otaknya. Aku sendiri tidak habis pikir!" kata Farah yang sampai sekarang belum menemukan jawaban apa pun dari Joni.
"Yang penting Joni sudah tanggung jawab. Aku yakin kalau dia mencintai mu!" kata Wiwi langsung membuat wajah Joni sendu.
Cinta, entah kapan pria ini merasa jatuh cinta.
Farah melirik ke arah Joni.
"Cinta, aku tidak tahu apa itu cinta. Kalau bercinta ya aku tahu, Joni selalu melakukannya setiap malam!"
"Kalian berdua ini pasangan yang aneh. Pergi liburan sana!" celetuk Wiwi.
"Rencananya memang begitu...!" sahut Joni.
"Kalau kalian benar pergi liburan lalu bagaimana dengan ku?" tanya Wiwi yang khawatir di tinggal lagi oleh Farah dan Joni.
"Tidak ada urusan dengan kami. Kau kan sudah menikah. Minta sana sama suami mu," ujar Joni.
"Benar, kenapa kau tidak meminta liburan pada Jonas?"
Wiwi menggaruk kepalanya tak gatal. Hubungannya saja masih canggung tapi hampir setiap malam Jonas memangsanya. Jonas kecanduan, apa lagi Wiwi sangat pandai membuat Jonas terhanyut dalam permainan.
__ADS_1
"Terserah kalian saja. Rumah tangga kita tidak ada yang waras. Sekarang antarkan aku pulang, kalau Jonas tahu aku keluar tanpa izinnya habislah aku."
"Halah, kakak ku itu tidak akan berani menyakiti mu. Goyang saya dia, pasti akan mati kutu. Yakin pada ku!" sahut Joni membuat Farah dan Wiwi tertawa geli.