Nafsu Sang Duda

Nafsu Sang Duda
Bonchap 107


__ADS_3

"Siapa yang berani memberi mu perintah untuk memasak pagi ini?"


Suara berat Jonas mengejutkan Wiwi, membuat spatula yang di pegang wanita itu langsung jatuh.


Jonas menoleh ke arah spatula yang jatuh lalu menatap wajah istrinya.


"T-tidak ada,...!" jawab Wiwi dengan wajah gugup, "aku hanya ingin memasakkan mu nasi goreng saja."


"Kau sedang hamil besar, aku tidak ingin kau kelelahan. Tinggalkan dapur ini," titah Jonas yang sangat tidak suka melihat istrinya berada di dapur.


"Tapi belum selesai...!" protes Wiwi.


"Biarkan mereka melanjutkannya. Cepat atau ku.....!"


Belum selesai Jona bicara, Wiwi langsung keluar dari dapur. Dengan tangan berada di belakang, Jonas mengikuti istrinya dari belakang.


"Mau kemana lagi?" tanya Jonas, "tidak bisakah kau duduk diam dengan manis agar tidak kelelahan?"


"Aku hanya ingin duduk di taman, apa itu salah?"


"Ya tidak salah, tapi ada baiknya kau menunggu ku bekerja di ruang kerja ku!"


"Di gaji gak?" gurau Wiwi.


"Tentu, aku akan menggaji mu nanti malam!"


Huft,...


Wiwi mendengus kesal.


"Itu sih aku yang menggaji mu!"


"Ehem, sini dekat ku...!" ujar Jonas langsung merangkul istrinya berjalan menuju ruang kerja.


"Hih, ada apa sih?" tanya Wiwi penasaran.


"Sayang, kenapa dompet mu semakin lebar?" tanya Jonas, "emmm, bisa rapat lagi gak nanti?"


Plak,....


Wiwi geli mendengar pertanyaan suaminya.


"Kau ini, masih pagi sudah bahas seperti ini."

__ADS_1


"Jawab saja cepat?"


"Gak, kalau ada yang dengar bagaimana?"


Klek,....


"Sekarang tidak ada yang dengar!" ujar Jonas yang baru saja menutup pintu ruang kerjanya, "dompet mu terlalu lebar, kurang greget!"


"Ciiiih,....bukan dompet ku yang lebar, tapi tongkol mu yang kurang besar!"


Mata Jonas langsung melebar, baru sekarang sang istri mengatakan jika dia punya pedang tidak besar.


"Heh, kau ini. Jika tidak besar kenapa kau bisa tekdung seperti ini hah?"


"Karena kau menggenjot ku setiap malam," jawab Wiwi dengan santainya, "tenang saja, setelah melahirkan nanti aku akan melakukan perawatan biar sempit. Sediakan saja dananya ya...!"


"Soal dana gampang, yang penting bisa keset dan menjempit...!" celetuk Jonas membuat Wiwi bergeleng kepala.


"Sayang, aku mau bertanya sesuatu. Tapi kau jangan tersinggung ya...!" ujar Jonas jika di dengar dari nada bicaranya seperti serius.


"Hem, apa?" tanya Wiwi penasaran.


"Tapi ini sedikit mengorek ke masa lalu mu!"


"Saat kau melakukan hubungan dengan banyak lelaki. Apa kau pernah hamil sebelum ini?" tanya Jonas yang sudah penasaran sejak kemarin.


Wiwi tersenyum, tidak marah dengan pertanyaan dari suaminya. Lagian ini sangat penting, Jonas berhak tahu.


"Tidak, mami Ger selalu memaksa kami menggunakan. Kami tidak boleh hamil, itu akan sangat menyusahkan dia. Jika ada yang ketahuan hamil, pasti akan di kucilkan dan setelah anaknya lahir juga akan di jual. Aku di jual oleh ayah dan ibu tiri ku untuk membiayai pendidikan adik tiri ku. Sebisa mungkin aku berusaha agar tidak hamil." Wiwi menjelaskan dengan jelas membuat Jonas langsung paham.


"Orangtua yang kejam!" seru Jonas geram.


"Kau ini tampan dan kaya, seharusnya kau bisa menikah dengan perempuan baik-baik dengan masa lalu yang baik juga keluarga yang baik. Tidak seperti diri ku ini, sampah!"


"Rasa suka dan cinta itu tidak bisa di ukur dari apa pun dengan kata baik. Seburuknya sifat seseorang, pasti ia memiliki sifat lembut juga. Aku berhak jatuh cinta dengan siapa pun termasuk diri mu."


"Kau menikahi ku hanya mengukur dari rasa suka dan cinta. Jika kedua rasa itu pudar, kau pasti akan menendang ku keluar. Tapi, aku selalu menganggap mu pahlawan dalam hidup ku. Kau lelaki pertama yang memperlakukan ku layaknya perempuan terhormat. Jika suatu saat kau jatuh cinta dengan perempuan lain, aku sudah siap mundur secara teratur. Mungkin saja kau sekarang khilaf menikahi ku."


"Sudah,....?" tanya Jonas.


Wiwi mengerutkan keningnya, "apanya yang sudah?" tanya wanita itu.


"Sudah mengocehnya? aku benar-benar tidak suka mendengar semua yang kau ucapkan pada ku tadi. Seolah kau masih belum percaya jika aku benar mencintai mu dan tulus pada mu."

__ADS_1


"Bukan begitu maksud ku, aku hanya teringat dengan kata-kata seperti ini. Lelaki baik untuk perempuan baik dan perempuan baik untuk laki-laki baik."


Jonas malah tertawa dengan pribahasa seperti itu.


"Jika setiap pasangan di satukan dari kalangan baik-baik, lalu siapa yang akan menuntun mereka yang salah jalan?" tanya Jonas membuat Wiwi terdiam, "dunia akan kacau, yang salah jalan pasti akan terus berjalan di jalan yang sama begitu juga sebaliknya."


"Ya itu kan hak orang yang memiliki prinsip berbeda-beda!"


"Dan prinsip juga tidak sama dengan yang kau ucapkan tadi. Selama pasangan ku mau berubah ke arah yang lebih baik, sebisa mungkin aku menuntunnya. Jika yang kotor bisa masih bisa di bersihkan kenapa harus mencari yang bersih?"


Wiwi hanya diam, ada rasa lega di hatinya karena pemikiran suaminya sangat dewasa. Jonas sama seperti Wira, lelaki tegas pendirian tidak mudah terhasut karena dia selalu yakin dengan jalan yang ia ambil.


Sedangkan Farah, wanita ini telah memutuskan untuk tinggal kembali di Indonesia. Wiwi sudah tahu dan tidak bisa melarangnya, biar bagaimana pun Wiwi akan tetap ikut bersama suaminya di mana pun mereka berada.


Ya memang, di banding tinggal di luar negeri Joni lebih senang tinggal di Indonesia. Yang lebih membuat Farah tidak percaya, ternyata bajingan seperti Joni ini memiliki usaha sendiri. Bertahun-tahun kenal dengan Joni, baru sekarang Farah tahu jika Joni memiliki usaha restoran dan butik juga bisnis kecantikan.


"Sekarang apa lagi yang kau sembunyikan dari ku hah?" tanya Farah sangat kesal.


"Tidak ada, sudah habis ku beritahu semua pada mu!"


"Kau ini benar-benar menyebalkan. Selalu membuat ku kaget. Tapi, kenapa kau dulu menjual ku hah?"


Ingin sekali Farah berguling-guling marah dan menyesal.


"Ya sebenarnya saat itu aku sedang meniti karir ku. Lagian, kau dulu sangat nakal!"


Plak,...


Farah yang kesal menjitak kepala suaminya.


"Lalu bagaimana dengan mu yang suka tidur dengan banyak perempuan hah? dasar tongkol muara!"


"Ya udah, jangan saling menyalahkan. Kita sama-sama nakal. Semoga anak kita kelak tidak akan meniru kelakuan bejat kita berdua!"


"Semoga saja, itu yang aku takutkan," sahut Farah juga khawatir.


"Setelah melahirkan jangan lupa perawatan. Lakukan apa saja yang penting kembali rapet atau sempit kalau bisa kembali jadi perawan lagi," ujar Jonas benar-benar membuat Farah geram.


"Ya, besarkan saja anakan tongkol mu itu...!" balas Farah tidak mau kalah.


"Dih, dasar ikan lohan!"


"Kau itu ikan lele,...!"

__ADS_1


__ADS_2