Nafsu Sang Duda

Nafsu Sang Duda
Bonchap 116


__ADS_3

"Sayang, mas pulang nih," teriak Wira menggema di dalam rumah.


"Mulut kamu itu bisa di rem gak sih?" Asti marah, "anak-anak kamu sedang tidur. Dasar toa busuk!"


Wira langsung menutup mulutnya, menoleh ke arah ruang keluarga tempat di mana kedua anak-anaknya sedang tidur siang.


"Ya maaf, gak sengaja!" ujar Wira, "Mawar ku di mana mah?" tanya Wira yang tidak mendapati istrinya.


"Mandi, apa kau lupa jika sore ini Bayu dan Tia sedang mengadakan acara pesta?"


"Loh, Mawar sedang mandi toh?"


Tidak memperdulikan mamahnya lagi, Wira langsung naik ke lantai dua. Membuka kamar, melepas semua pakaian.


"Mas, kamu mau ngapain?" tanya Mawar mengejutkan Wira.


Wira menatap istrinya dari atas kebawah, ternyata Mawar sudah berganti pakaian.


"Eh, anu sayang. Mas mau mandi, kita pasti akan telat pergi undangannya," bohong Wira yang sebenarnya ada maksud lain.


"Ya udah, cepetan!" seru Mawar.


Mawar turun ke bawah untuk melihat kedua anaknya.


"Untung saja ada alasan, kalau gak malu aku sama Mawar!" ucap Wira lalu tertawa sendiri.


Wira, serumit apa pun masalah yang ia hadapi di luar tidak akan mungkin ia bawa pulang. Bahkan, Mawar sendiri tidak tahu jika sampai sekarang Wira masih mencoba mengajukan tuntutan untuk Widya.


Bergegas mandi lalu berganti pakaian. Sore ini Wira dan Mawar akan menghadiri acara peresmian cafe baru milik Tia dan Bayu.


Asti tidak mengizinkan Mawar dan Wira mengajak kedua anak mereka. Asti tidak ingin kedua cucunya masuk angin karena sekarang sedang musim hujan.


"Langsung pulang loh kalau acaranya sudah selesai...!" pesan Asti sebelum kedua anaknya pergi.


Wira hanya mengiyakan, kemudian langsung pergi.


"Hujannya kok makin deras ya mas!"


"Iya nih, hawanya pas untuk bercocok tanam!"


"Ah, kamu ini selalu saja ke arah sana."


"Sayangnya mas, selain minum teh hangat, bobo bareng jauh lebih hangat!" ujar Wira semakin menggoda istrinya, "nah kan, tegang. Coba pegang!"


"Mas, haiisss....kamu ini. Ada-ada aja. Ayo turun,...!"


Wira hanya tertawa, pria ini mengambil payung lalu turun terlebih dahulu. Mereka masuk kedalam, ternyata sudah ramai orang. Mereka datang sebelum hujan.

__ADS_1


Acara di mulai, hanya peresmian kecil-kecilan. Para suami sibuk membahas pekerjaan sedangkan para istri sibuk membahas masalah anak-anak. Beberapa orang sangat iri melihat keberuntungan Mawar yang sangat di manja suami dan mertuanya.


"Mawar, kita duduk di sana yuk!" ajak Tia.


"Iya mbak,...!" Mawar menurut saja.


Tia juga sama, tidak di izinkan pergi membawa anaknya karena sebelum pergi ke cafe Tia dan Bayu sudah mengantar anak mereka ke rumah mamahnya.


"Mawar, akhir-akhir ini hubungan ranjang ku dan Bayu kurang begitu menggairahkan. Aku tidak bisa merasakan seperti dulu sebelum punya anak. Kenapa ya?" Tia mulai curhat, membuat Mawar bingung ingin menjawab apa.


"Mungkin mbak Tia kelelahan atau kejaran sama anak ya takut bangun gitu?"


"Ah, sepertinya iya. Aku harus apa ya, menurut ku tidak adil jika kita sebagai seorang istri tidak bisa merasakan seperti itu."


Mawar menggaruk kepalanya tak gatal, bingung ingin memberi saran seperti apa. Urusan ranjang selalu Wira yang menjadi peran utama. Suaminya itu sangat pandai membuat Mawar terangsang.


Malu, Mawar tidak bisa memberikan saran apa pun karena malu. Menurut Mawar, masalah seperti ini tidak pantas untuk di ceritakan meskipun mereka sesama perempuan.


Menjelang malam, Wira dan Mawar langsung pamit pulang. Bukan langsung pulang sesuai pesan mamahnya, Wira malah membelokkan mobilnya ke hotel. Mawar tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.


"Doa mas benar-benar di kabulkan, hujan semakin deras!"


"Terus kalau deras kenapa memangnya?" tanya Mawar pura-pura tidak tahu.


"Mas mau makan kamu....Aeeerrrrmm.....!" jawab Wira dengan menirukan suara singa.


"Sayang, mas belum siap nih...!"


"Belum siap tapi kok udah tegak berdiri...!"


Keduanya langsung melepas semua pakaian. Saling memagut mesra, Wira mencumbu di titik yang ia suka. Memberi tanda di kedua bukit kenyal jika tumpukan susu itu miliknya bukan milik anaknya.


Meremas, dengan hembusan nafas yang membuat bulu kuduk Mawar berdiri. Hujan semakin deras di tambah lenguhan manja dari keduanya.


Wira yang sudah hafal jalan pulang langsung memasukan pedangnya kedalam sarung. Menggejot di atas, gerakan naik turun dengan kecepatan pelan.


Untung saja hotel ini milik mereka, jadi bebas mau melakukan apa.


"Sayang, kamu di atas dong...!" bisik Wira lalu dengan gampangnya membalikan tubuhnya berubah posisi.


Mawar menurut lalu memulai gerakan favoritnya. Wira merintih merasakan kenikmatan yang membuatnya melayang. Kedua tangannya meremas, menggelitik di biji kacang milik istrinya.


"Terus sayang, lagi,...ya seperti itu... kau memang pandai memuaskan suami mu."


"Mas, aku lelah...!"


"Sebentar lagi,...!"

__ADS_1


Aaaah,......aaaaah,.....


Bukan main, Wira sangat menikmati permainan istrinya.


Mawar berhenti sejenak, nafasnya kencang tak beraturan. Wira paham, pria ini langsung menindih tubuh polos Mawar.


Kembali menggoyang, menjilati selai rasa hambar di atas puncak gunung. Mawar mulai merasakan sesuatu yang akan keluar, jari jemarinya mulai mencengkram, Wira yang sudah hafal langsung mempercepat gerakannya dan menghisap bukit istrinya.


Plok,....plok,...plok,.....


Suara semakin keras terdengar, sungguh cepat gerakan Wira ini.


Aaaaah.....aaaaahhh.......


Keduanya merintih, mengeluarkan suara indah penuh kenikmatan bermakna. Wira dan Mawar saling menyemprotkan lahar panas mereka. Tubuh keduanya menggelinjang untuk beberapa saat sebelum kembali lemas.


Wira terhempas di samping Mawar, nafas mereka naik turun tak beraturan. Wira menarik selimut, menutup tubuh polos mereka.


"Sayang,...!" nafas Wira ngos-ngosan.


"Hemm, iya mas. Ada apa?"


"Kamu mau awet muda gak?" tanya Wira.


"Ya mau, kenapa memangnya?" Mawar bertanya balik.


"Kalau mas mau menyemprotkan lahar panas itu seharusnya bukan di sarung mu."


"Lah, terus di mana?" tanya Mawar dengan polosnya.


"Di dalam mulut mu dan harus langsung kamu telan!"


Plak,....


Mawar menonjok perut suaminya.


"Gak usah aneh-aneh mas. Aku yang dulu polos nikah sama kamu ikutan tidak waras."


"Eh, mas serius loh. Itu kata orangtua zaman dulu...!"


"Gak usah mengatasnamakan orangtua zaman dulu. Itu mah akalan kamu aja!"


"Di bilangin ngeyel. Udah ah, bangunin lagi dong....!" ujar Wira langsung menarik tangan Mawar dan menuntunnya ke arah terong layunya.


"Lah, ku pikir cuma satu ronde....!" protes Mawar.


"Satu ronde itu untuk apa sih?" tanya Wira, "itu tadi cuma buang ujung aja...!"

__ADS_1


Sungguh gila Wira ini, ia menyodorkan terong layunya kedalam mulut sang istri. Meminta pada Mawar untuk menyedotnya sampai bangun. Namanya juga istri, Mawar menurut saja apa yang di minta suaminya meskipun terkadang tidak masuk di akal.


__ADS_2