Nafsu Sang Duda

Nafsu Sang Duda
SELESAI 120


__ADS_3

"Mawar ku,...!" Wira memeluk istrinya dari belakang, menenggelamkan wajahnya di ceruk leher istrinya.


"Ada apa mas, tumben kamu manja seperti ini?"


"Kehidupan ku sangat sempurna sekarang, aku punya istri dan dua anak yang lucu-lucu. Lihat mamah, dia sangat bahagia bermain bersama cucu-cucunya."


Sejak tadi Mawar terus memperhatikan mamah mertuanya dari atas balkon kamar. Asti sedang bermain dengan kedua anaknya di taman samping rumah.


"Kau yang membuat hidup ku menjadi sempurna. Si batang kara ini telah mendapatkan keluarga bahagia berkat diri mu."


"Aku mencintai mu Mawar ku!'' bisik Wira lembut di telinga istrinya.


"Aku juga mencintaimu dan anak-anak kita mas. Terimakasih telah menerima aku apa adanya, menjadikan ku ratu dalam hatimu."


"Yang penting goyangan lancar!" bisik Wira menggoda sang istri.


"Apa sih mas, lagi serius kamu malah bercanda...!"


Wira malah menjahili istrinya, Mawar membalasnya tingkah suaminya. Asti yang melihat kedua anaknya dari bawah hanya bisa mendongak dan berkacak pinggang.


"Kalian itu sebenarnya sudah mandi apa belum hah?" tanya Asti langsung menghentikan gurauan Mawar dan Wira.


"Mas Wira ini loh mah, nakal!"


"Cepat mandi Mawar, sudah sore. Jangan hiraukan manusia gila itu...!" teriak Asti dari bawah.


Mawar hanya mengiyakan, wanita ini bergegas pergi ke kamar mandi dari pada di teriaki lagi dengan mamahnya.


Wira yang jahil, Mawar pikir suaminya sudah berhenti menjahili dirinya. Nyatanya, Wira malah menyusul Mawar masuk ke dalam kamar mandi.


"Heh mas, mau ngapain?" tanya Mawar heran karena suaminya ini sudah mandi.


"Main air...!" jawab Wira, "tapi mainnya sama kamu....!" ucap Wira langsung memeluk istrinya.


Wira melepas paksa semua pakaian Mawar, dengan liar mencumbu bermain di tubuh polos istrinya.


"Mas geli...!" ucap Mawar.


"Geli tapi bikin nagih...!" celetuk Wira tanpa aba-aba lagi langsung memasukan burungnya kedalam sangkar.


Di bawah guyuran air shower, Wira menggoyang istrinya dari belakang.


Cepak...jeder....cepak...jeder....


Gesekan kulit mereka beradu dengan gemercik air. Wira merintih kenikmatan, suara beratnya memenuhi kamar mandi.


"Mas aku....!"


Belum selesai Mawar berucap, Wira sudah lebih dahulu menutup mulut istrinya dengan ciuman panas dingin. Menjilat, meremas dan menghisap di titik yang ia suka, Wira terus bermain di titik sensitif yang membuat Mawar melayang ke udara.


Aaaah,....iiiiiih,....uuuuh.....

__ADS_1


Suara Mawar terdengar manja, Wira suka mendengarnya. Wira mulai merasakan gejolak yang hendak keluar, pria ini langsung mempercepat gerakannya.


Plok,...plak....plok...plak,...


Aaaaaaaah......... rintih Mawar menahan perih bapak rudal milik suaminya yang terus keluar masuk dalam gua milik Mawar dengan kecepatan tinggi.


Aaaaaauuuh.......


Tubuh Wira menegang, meremas kencang dua bukit kenyal milik istrinya. Wira telah menumpahkan lahar hangat dalam sangkarnya. Setelah kembali lemas, Wira langsung mencabut bapak rudalnya.


Mereka mandi bersama, sungguh Wira memperlambat waktu saja. Mawar keluar dari kamar mandi dengan langkah sedikit tertatih.


"Sayang, malam lagi ya...!" ucap Wira sebelum keluar dari kamar.


"Terserah kau saja mas. Mau menolak mau iya pun tetap kau gas juga!" sahut Mawar yang sudah hafal dengan tingkah suaminya.


"Aku mencintaimu Mawar ku," ucap Wira dengan gaya ciumnya tapi malah di balas ciuman asli oleh sang istri.


"Aku juga mencintaimu mas!" balas Mawar bahagia.


Pasangan suami istri yang baru saja melepas dahaga ini langsung turun ke bawah setelah berpakaian rapi. Enak sekali hidup Mawar dan Wira ini, kedua anak-anaknya lebih memilih bersama oma mereka.


Lain pula dengan cerita Joni dan Farah malam ini. Selesai makan malam pasangan suami istri ini langsung menidurkan anak perempuan mereka.


Jam masih menunjukan pukul delapan malam, tapi mereka bingung ingin melakukan apa. Joni gelisah, sejak tadi gelisah.


"Kau ini kenapa, kalau ada masalah cerita?" Farah bertanya pada suaminya.


"Anu apa, jangan membuat ku naik darah!" ujar Farah.


"Anu,... urat kepala ku tegang!" sahut Joni semakin membuat Farah bingung.


"Tekanan darah mu naik?" tanya Farah dengan polosnya.


Joni menggaruk kepala tak gatal, pria ini bingung sendiri ingin berkata apa. Farah tidak peduli, wanita ini memilih berganti pakaian.


Mata Joni mendadak hijau saat melihat sang istri melepas pakaian, menelan salivanya kemudian tanpa aba-aba Joni berlari kecil menghampiri Farah lalu memeluknya.


"Kau ini kenapa sih?" tanya Farah berusaha mendorong tubuh suaminya.


Joni tidak menjawab, tiba-tiba saja pria ini langsung memagut liar bibir Farah. Mendorongnya ke arah lemari, menggesekan pedang berkaratnya ke batu asahan.


"Aku sudah tidak tahan lagi,...!" bisik Joni.


Joni semakin liar, hampir dua bulan menahan hasrat yang sudah tidak tertahankan. Nyatanya trauma akan kalah dengan kenikmatan, Joni dan Farah untuk pertama kali kembali melakukan hubungan suami istri setelah Farah melahirkan.


Untung saja anak mereka sudah tidur, jadi Farah dan Joni bisa bebas melakukan perang lahar panas mereka.


Joni seperti orang kelaparan, pria ini mengabsen di setiap titik yang selama ini tidak ia sentuh.


Aaawwwh.......

__ADS_1


Joni kaget pada saat memasukan burungnya kedalam sangkar, jalanan yang gelap dan sempit membuat pria ini tidak percaya jika rumah burung ini adalah milik istrinya.


"Legit,...aku suka kau malam ini...!" bisik Joni.


Memulai permainan, Joni bermain dengan sangat lembut hingga membuat Farah mengeluarkan lenguhan manja penuh kenikmatan.


Ah,...uh,...ah,...uh,....


Suara keduanya saling berirama, menggema nyata penuh cinta. Saling menyentuh membelai manja.


Joni tidak bisa mempercepat gerakannya, sungguh sempit lubang kenikmatan. Farah sangat pandai dalam merawat diri.


Aaaah....uuuuh....


Cepak,..plok....cepak,....


Hentakan demi hentakan membuat gesekan semakin nyaring berbunyi. Di tambah lagi saat ini mereka berdua sudah berada di puncak, tubuh Farah dan Joni menggelinjang sama-sama menyemprotkan lumpur hangat penuh kenikmatan.


Aaaaah.....aaaaah......


Lega rasanya, Joni telah menumpahkan lahar panasnya malam ini setelah sekian lama menabung dalam telurnya. Sungguh Gila, bukan hanya satu ronde saja, beberapa ronde meraka mainkan, membuat Farah lelah dan terbaring dengan nafas ngos-ngosan.


"Aku puas malam ini, aku sangat puas sayang. Terimakasih untuk malam pertama setelah melahirkan anak kita," bisik Joni hanya di tanggapi anggukan saja oleh istrinya.


"Jon, aku mencintaimu dan anak kita!" ucap Farah sambil mengatur nafasnya.


"Aku juga mencintaimu, sungguh sangat mencintai mu dan anak kita. Tidurlah, kau sangat lelah!" ucap Joni lalu mengecup kening istrinya.


Farah terlelap dalam pelukan suaminya, sungguh hangat terasa. Wanita ini bisa merasakan jika Joni benar mencintainya, Farah sangat bersyukur atas kehidupan yang sekarang. Memiliki keluarga kecil yang bahagia meskipun setiap hari harus berperang mulut.


Beda lagi dengan Wiwi dan Jonas, sebagai seorang suami Jonas merasa bangga pada dirinya sendiri yang sudah membalas orang-orang yang pernah menyakiti istrinya dulu.


Jonas tidak peduli siapa pun itu, mau keluarga ataupun saudara, jika sudah mengusik kebahagiaannya pasti akan di basmi oleh Jonas.


"Hei, apa yang sedang kau pikirkan hemm?" tanya Jonas.


Wiwi menggeser posisi berbaringnya, menjadikan dada bidang Jonas sebagai sandaran.


"Aku hanya berpikir jika setelah ini apa akan ada lagi yang jahat pada ku?"


"Tidak ada dan tidak akan ada lagi. Berani menyakiti mu, siapa pun itu akan berhadapan dengan aku!"


"Terimakasih sudah meninggikan harga diriku, aku bahagia menikah dengan mu!"


"Aku Juga sangat bahagia menikah dengan mu. Apa pun masa lalu mu, siapapun dirimu, kalau hati sudah terikat aku tidak dapat menolak. Aku benar-benar mencintaimu," ucap Jonas sungguh membuat hati Wiwi hangat.


"Aku juga mencintaimu, sangat mencintaimu. Terimakasih suamiku!" balas Wiwi tanpa malu langsung mencium bibir basah suaminya.


Sungguh malam yang indah, dari ciuman yang membuat bibit atas basah, Jonas malam ini juga membuat bibir bawah istri basah juga.


Sungguh indah kisah cinta mereka, menikah dengan laki-laki yang mau menerima apa adanya. Begitulah rumah tangga, setiap orang pasti memiliki ceritanya sendiri dan ujiannya sendiri.

__ADS_1


***SELESAI***


__ADS_2