Nafsu Sang Duda

Nafsu Sang Duda
Chapter 63


__ADS_3

"Mas paham jika kamu bosan di rumah. Sabar ya sayang," ucap Wira sambil memeluk istrinya dari belakang.


"Aku sih gak mikir kesitu mas. Yang penting anak kita sehat sekarang. Al lahir belum cukup bulan, tapi dia anak yang kuat."


"Iya, lihat badannya sekarang. Gemuk, coba lihat tititnya juga. Uuh,...kurang panjang!"


Buk,....


Mawar mengikut perut suaminya hingga membuat Wira berguling kesakitan.


"Kamu loh mas, kalau di ajak ngobrol bisa gak sih gak nyambung arah ke sana?"


"Ya gak bisa, gak seru!"


"Udah ah, aku mau istirahat!"


"Sayang, sakit ni....!"


Wira menyusul istrinya yang naik ke atas tempat tidur. Baby Al yang baru saja tidur adalah kesempatan Mawar untuk beristirahat juga.


Malam semakin larut, Mawar yang kelelahan langsung terlelap begitu saja namun tidak dengan Wira yang kembali turun dari atas tempat tidur karena masih ada pekerjaan yang harus dia selesaikan sedikit.


Tidak mau jauh dari anaknya, Wira bekerja di dalam kamar lebih tepatnya di samping sang anak.


"Lihatlah Al, demi warisan untuk mu nanti. Papah rela begadang agar kelak kau bisa membeli mobil sport!" ucap Wira yang gemas lalu mentoel pipi anaknya.


Terus berkutat dengan laptopnya, tanpa terasa jarum jam sudah menunjukkan pukul dua belas malam.


Ngek,...ngek....


Al merengek, dengan cepat Wira menutup laptopnya lalu menghampiri sang anak. Mendengar suara rengekan Al, Mawar juga terbangun.


"Mas, kamu belum tidur?" tanya Mawar yang melihat tumpukan berkas.


"Mas harus menyelesaikan pekerjaan sedikit. Tapi udah selesai kok!"


"Biar aku yang urus Al, mas istirahat aja. Mas pasti lelah!"


"Udah, gak usah. Kamu yang harus banyak istirahat. Biar mas yang urus Al kalau malam."


"Mas,...!"


"Hmm,...ada apa sayang mas?" Wira bertanya dengan lembut.


"Terimakasih untuk semua ini," ucap Mawar.


"Sudah seharusnya. Udah, kembali tidur sana. Nanti mas nyusul deh!"


"Gak ah, nungguin mas Wira aja!" ujar Mawar.


Wira menggendong anaknya, sedangkan Mawar hanya duduk saja. Melihat keuletan Wira dalam mengurus anak, Mawar sangat bersyukur mendapatkan suami dengan paket komplit seperti Wira.

__ADS_1


Kurang lebih setengah jam Al bangun, pada akhirnya bocah lelaki itu kembali tidur.


"Al sudah tidur. Sekarang ayo kita tidur!" ujar Wira lalu menarik Mawar kedalam pelukannya.


Tidak butuh waktu lama, sepasang suami istri ini sudah terlelap tidur.


Pagi hari yang sangat cerah, Wira dan Mawar kembali di sibukkan dengan anak semata wayang mereka. Dua hari tanpa Asti, sangat di nikmati Wira dan Mawar. Jika ingin makan mereka juga saling bergantian.


"Mas gak pergi ke kantor hari ini?" tanya Mawar sambil sarapan setelah suaminya.


"Gak, kasihan kamu kalau di tinggal sendirian."


"Ada bi Jum dan bi Nami...!"


"Ya beda lah sayang, lagian ada Dimas. Kalau ada yang penting juga dia pasti akan ke rumah. Udah ah, kamu gak usah khawatir dengan pekerjaan mas."


"Iya deh, terserah mas aja!"


Di banding pergi ke kantor, Wira lebih senang mengurus anak dan istrinya. Jika tidak sangat penting, Wira tidak akan pergi ke kantor.


Farah, Wanita itu sudah nekat pergi ke luar negeri tanpa berpamitan dengan Yunita. Farah mengerti jika ini salah, namun wanita ini lebih memilih mengikuti kata hatinya di banding dengan ucapan Joni.


Dengan menggunakan taksi, Farah, Wiwi dan Joni pergi ke bandara pagi ini. Sepanjang perjalanan Farah hanya diam termenung, wanita ini sangat menyesal dengan sikapnya selama ini yang sangat merugikan dirinya sendiri.


"Jika kau masih berat meninggalkan tempat ini. Sebaiknya kita undur saja!" Ucap Joni membuyarkan lamunan Farah.


Huft,....


"Kenapa harus di undur?" tanya Farah lesu.


"Karena aku bisa melihat dari wajah mu yang sangat berat meninggalkan tempat ini. Iya kan....?"


"Iya Farah, jika kamu masih berat kita undur saja. Lagian, apa kamu gak kasihan sama mamah mu?" Wiwi menimpali.


"Udah ah, yang penting kita pergi sekarang sebelum anak buah mami Ger menemukan kita," ujar Farah yang sudah yakin dengan keputusannya.


Apa pun keputusan Farah, semoga ini menjadi jalan terbaik untuk kehidupannya kelak. Meskipun berat, Farah hanya ingin merubah nasibnya ke arah yang lebih baik.


"Ada surat dari anak mu!" salah satu sipir memberikan sepucuk surat yang di titipkan Farah untuk mamahnya.


"Cepat, berikan pada ku!"


Masih sama angkuhnya, sampai detik ini Yunita masih keras kepala dan tidak mau menyadari kesalahannya.


Yunita meremas surat tersebut lalu berteriak kesal penuh emosi ketika membaca isi pesan yang di tulis anaknya.


"Farah, dasar kau anak bajingan. Anak durhaka, anak terkutuk!"


Yunita menyumpahi anaknya sendiri.


"Sudah tua bukannya sadar malah menyumpahi anaknya. Tidak waras!" cibir salah seorang tahanan yang jauh lebih lama di banding Yunita.

__ADS_1


"Diam kau!" sentak Yunita tidak terima, "urus saja hidup mu itu...!"


"Anak di jadikan pelacur hanya demi kepuasan judi. Di mana letak hati nurani mu sebagai seorang ibu hah?"


"Dari pada kau, manusia biadab pembunuh!"


Haha....satu sel menertawakan Yunita.


"Aku bangga pada diri ku sendiri, meskipun aku harus masuk penjara sekarang. Setidaknya aku sudah menghakimi orang yang hampir merenggut kesucian anak ku," ucap tahanan tersebut.


Wajah Yunita langsung masam, di dalam sel ini ada lima orang tapi tak satu pun yang mau berteman dengan dirinya.


Sama halnya dengan Bambang, pria tua ini juga tidak di sukai oleh tahanan yang lain. Kesombongannya yang suka menyanjung dirinya sendiri membuat orang lain merasa jengah apa lagi Bambang selalu mengaku sebagai orang kaya.


"Jika kau benar kaya, kenapa kau masuk ke tempat ini. Biasanya orang kaya memiliki fasilitas yang berbeda di banding tahanan seperti ini?"


Jleb....


Bambang si terong tua langsung mati ucap saat salah seorang tahan memberi pertanyaan seperti itu.


Namanya juga orangtua, pada awalnya mereka hanya menanggapi biasa mengingat umur Bambang yang sudah kepala enam.


Namun, semakin hari mereka malah bosan mendengarkan celotehan Bambang.


"Pak Bambang, ada tamu...!" sipir memberitahu, bergegas Bambang keluar setelah pintu sel di buka.


"Siapa, anak ku kah?" tanyanya namun sipir tersebut tak mau menjawab.


Wajah Bambang langsung merah padam ketika melihat tamu yang datang menjenguknya.


Wira tersenyum lebar, melipat kedua tangannya seperti orang meledek.


"Istri ku meminta ku untuk membelikan beberapa kue. Jadi, ku sempatkan untuk mampir sebentar," kata Wira malah membuat Bambang marah.


"Bajingan!" umpat Bambang, "apa istri mu itu masih hidup? atau sudah mati bersama dengan anak yang di kandung?" .


Shitt,....


Hati Wira sebenarnya panas mendengar kata-kata seperti ini.


"Syukurnya, istri dan anak ku selamat dan sehat. Anak ku tampan seperti diri ku."


Bambang mengeraskan rahangnya, ingin sekali memukul wajah Wira namun tidak bisa.


"Bajingan, keluarkan aku dari tempat ini...!"


Wira berdiri, menatap wajah Bambang dengan emosi yang tertahan.


"Selamat membusuk di tempat ini sampai ajal menjemput mu. Bertobatlah sebelum malaikat mencabut urat leher mu ini," ucap Wira lalu membalikkan tubuhnya kemudian pergi.


Bambang hanya bisa mengepalkan kedua tangannya marah. ingin mengejar Wira dan menendang kepala pria itu namun sipir sudah kembali memasukannya ke dalam sel kembali.

__ADS_1


__ADS_2