
"Apa,....?" Wiwi syok nyaris tidak sadarkan diri ketika Farah dan Joni memberitahunya jika mereka sudah menikah.
"Kau pikir kami bercanda?" tanya Joni tanpa malu mencium pipi Farah. Dengan cepat Farah mengusap bekas bibir Joni.
"Hah?" Wiwi menggaruk kepalanya tak gatal, "kok bisa?" tanyanya masih tidak percaya.
"Ya bisa, bajingan ini dua hari yang lalu mengajak ku menikah secara paksa. Menyebalkan!"
"Terus, apa kalian udah kikuk-kikuk?" Wiwi bertanya karena penasaran.
"Hih, siapa juga yang mau di goyang sama dia?"
"Ingat, aku suami mu. Besok kita akan pergi bulan madu!" ujar Joni.
"Gak, aku gak mau!" Farah menolak.
Belum habis rasa penasaran Wiwi, mereka bertiga di kejutkan dengan pintu yang di ketuk dengan keras. Dengan santainya Wiwi pergi membuka pintu.
"Dasar tidak sopan!" celetuk Wiwi ketika melihat siapa tamu yang datang.
"Kau,....!" Jonas menunjuk wajah Wiwi, "kenapa kau tidak masuk bekerja dua hari ini hah?"
Wiwi melipat kedua tanganya santai, menatap Jonas dari atas hingga kebawah.
"Apa kau lupa jika kau sudah memecat ku?"
Jleb,....
Jonas terdiam sejenak.
"K-kapan aku memecat mu hah? fitnah saja!"
Hahaha.....
Wiwi tertawa keras, membuat Farah dan Joni penasaran dan langsung keluar.
"Oh, kakak. Ada apa kak?" tanya Joni dengan wajah santai.
"Bajingan satu ini, dari mana saja kau?" bentak Jonas yang sudah naik darah.
"Aku heran dengan kakak mu yang perjaka tua ini, suka sekali marah-marah. Apa tekanan darahnya normal?" Wiwi bertanya sambil meledek.
"Diam kau!" bentak Jonas, "dan kau,...!" Jonas menunjuk Farah, "kemana kau membawa adik ku ini hah?"
"Jaga nada bicara mu, jangan keras-keras pada adik ipar mu ini," ujar Joni membuat Jonas semakin naik pitam.
"Kalian ini sudah tua, berhenti bercanda!"
__ADS_1
"Aku tidak bercanda, aku dan Farah sudah menikah," kata Joni lalu mengeluarkan bukti pernikahannya bersama Farah.
Jonas syok, kakinya lemas nyaris terjatuh. Kegilaan apa lagi yang di buat adik satu-satunya ini.
"Hallo kakak ipar...!" Farah malah menyapa Jonas dengan senyum yang di paksa.
"Kalian bertiga memang gila. Kenapa aku di takdirkan bertemu dengan orang gila seperti kalian hah?"
"Pergilah sebelum kau darah tinggi...!" usir Joni.
"Bajingan, kau menikah tanpa memberitahu ku!"
"Dia ini memang bicara. Harus di bungkam memang!" ujar Wiwi langsung mengalungkan kedua tangannya di leher Jonas lalu mencium bibir pria itu.
Joni dan Farah sangat terkejut dengan keberanian Wiwi. Lebih terkejut lagi jika Jonas hanya diam saja tidak menolak ciuman dari Wiwi.
Joni menarik tangan Farah, mengajak wanita ini masuk.
"Jangan mengganggu rumah tangga orang!" ucap Joni pada Farah.
Tinggallah Wiwi yang masih asyik memagut bibir Jonas yang hanya diam saja tanpa melakukan pergerakan apa-apa.
"Bagaimana?" tanya Wiwi menderlingkan matanya.
"Kenapa kau suka sekali mencium ku hah?"
"Mulut mu itu banyak bicara, jadi harus di beri pelajaran!" jawab Wiwi dengan beraninya.
"Kalau mau lebih, call aku!" ucap Wiwi sebelum masuk kedalam.
Jonas mengumpat, sumpah serapahnya terus tertuju pada Wiwi. Wiwi tidak mendapati Joni dan Farah di ruang tamu, mungkin saja mereka sedang istirahat di kamar.
Jonas kembali ke kantor, sesekali pria ini mengusap dadanya yang masih berdebar. Sekali lagi, Jonas menyentuh bibirnya, pria ini masih bisa merasakan nikmat kenyalnya bibir Wiwi tadi.
"Aku gila, aku sudah gila. Aku benar-benar gila...!" Jonas mengacak rambutnya frustasi, "apa dengan ciuman keperjakaan ku akan hilang?"
Sungguh pertanyaan konyol, Jonas selama ini terkenal cuek dengan para wanita bahkan hari-harinya hanya di sibukkan dengan bekerja dan bekerja karena Joni sama sekali tidak mau membantunya.
"Mas gak kerja?" tanya Mawar heran karena suaminya ini tidak beranjak juga dari tempat tidur.
"Gak, mas takut jika kamu di hasut oleh mamah nanti," jawab pria itu membuat kening Mawar berkerut.
"Di hasut kenapa?"
"Pasti dia akan memaksa mu untuk memiliki anak lagi. Sayang, satu dulu aja ya," rengek Wira dengan sorot mata berbinar.
"Mas, umur Al baru masuk enam bulan. Belum puas kita memberi dia kasih sayang. Seharusnya memang di tunda dulu."
__ADS_1
"Kau memang istri ku yang paling pengertian. Muaaach!"
"Ku dengar dari kata-kata mu, sepertinya istri mu bukan hanya satu."
"Eh, gak gitu juga konsepnya sayang!"
"Berani macam-macam, akan ku sate jengkol mu!"
"Mengerikan, sejak kapan kau berani mengancam ku hah?"
Wira hendak menarik istrinya ke atas tempat tidur namun tak sempat karena Asti bersama Al sudah masuk kedalam kamar.
"Mawar, mamah ada arisan. Al mamah ajak loh. Maklum, hari ini ada ajang pamer cucu," ujar Asti memberitahu.
"I-iya mah, ajak aja!" sahut Mawar.
"Mamah ini ada-ada aja. Ajang pamer cucu, pamer itu harta bukan cucu!" celetuk Wira.
"Yang ngadain acara mamah kenapa kamu yang protes hah?"
"Udah mah, jangan dengerin mas Wira. Nanti mamah terlambat!"
Asti pun pergi mengajak cucunya, serasa kembali muda kembali. Senang sekali dirinya kemana-mana mengajak Al sedangkan Wira dan Mawar bagai orang pacaran di buatnya.
Tidak ada Al sebenarnya Mawar merasa sepi, tapi mau bagaimana lagi dirinya harus mengalah demi kebahagiaan sang mamah. Mawar merasa sangat bersyukur mendapatkan suami dan mertua yang sangat baik seperti ini.
"Sepertinya aku berubah pikiran mas," ucap Mawar membuat Wira curiga.
"Jangan bilang jika kau setuju ingin hamil lagi...!"
Mawar mengangguk, membuat Wira langsung berguling-guling di atas tempat tidur.
"Sayang, setidaknya kita tunda setahun atau dua tahun. Biarkan kita seperti ini dulu ya...!" bujuk Wira dengan wajah melas, "kalau gak, mas beli jajan aja deh!"
Mata Mawar langsung melotot tajam.
"Tidak masalah, kau boleh beli jajan. Maka aku akan mencari sugar daddy. Adil bukan...?"
Mawar tersenyum licik.
"Berani kau macam-macam di belakang ku, akan rontokan hutan mu!" ancam Wira kesal. Belum apa-apa pria ini sudah cemburu.
"Berani merontokkan hutan ku, akan ku buat batang mu layu!" balas Mawar lalu tertawa.
Mawar geli sendiri dengan ucapannya. Wanita ini keluar dari kamar meninggalkan suaminya yang sibuk mengomel.
Apa kabar Dimas dan Tia, sepasang suami istri ini sedang menangis haru saling berpelukan tidak percaya ketika Dokter menyatakan jika Tia saat ini sedang mengandung dua bulan.
__ADS_1
Penantian tiga tahun lebih kini berbuah manis. Sebentar lagi mereka akan menjadi orangtua. Baik Bayu maupun Tia, masing-masing dari mereka mulai sibuk memberi kabar bahagia ini kepada keluarga masing-masing.
"Wira memang guru terbaik masalah ranjang. Aku harus memberi dia hadiah," batin Bayu yang ternyata selama ini suka bertukar cerita dengan Wira masalah ranjang tanpa sepengetahuan istri mereka.