
"Mas, sebenarnya ada apa sih?" tanya Mawar pemasaran. Matanya masih tertutup dengan jalan di tuntun suaminya.
"Udah, diam aja. Sekarang kita sudah sampai," ujar Wira lalu bersiap untuk membuka penutup mata istrinya.
"Mas, ini kapan di bukanya....?"
"Sekarang, satu....dua....!''
Belum selesai Wira menghitung, Mawar yang penasaran langsung membuka penutup matanya. Mawar bingung ketika melihat di sekelilingnya yang sepi, hanya ada hamparan kebun bunga Mawar dengan berbagai macam warna.
"Tadaaaaa.....kejutan.....!'' ucap Wira dengan sumringah namun telat.
Mawar mengerutkan keningnya bingung, "tumben mas ngajak aku pergi ke kebun bunga!"
Huft,....
Wira mendengus kesal, tidak bisa kah istrinya ini berekspresi terkejut sedikit.
"Ini bukan sembarang kebun bunga. Kau lihat bangunan lima lantai itu?"
"Ya lihat, tapi apa hubungannya d dengan aku?"
"Mas bangunkan sebuah hotel atas nama kamu. Lihatlah, namanya. Hotel Mawar!"
Sejenak Mawar tertegun, masih tidak percaya dengan ucapan suaminya ini apa lagi Wira suka bercanda.
"Udah deh mas, jangan bercanda. Bilang aja mas mau goyang ranjang di hotel lagi kan?"
"Eh, mas serius sayang. Hotelnya milik kamu, ini adalah bukti kalau mas benar mencintai kamu!"
Mawar tetap tidak percaya, pada akhirnya Wira mengajak istri masuk ke dalam hotel. Hotel ini masih sepi, belum di resmikan lagi.
Wira mengajak ke salah satu ruangan yang cukup besar. Di sana terdapat kamar tidur dan ruang kerja.
"Baca aja kalau kamu gak percaya!" ujar Wira menyerahkan beberapa berkas kepemilikan pada Mawar.
Mawar syok, tidak percaya jika suaminya ini membangunkan satu hotel atas namanya.
"Mas, ini terlalu berlebihan. Kau tanamkan aku seribu bunga mawar saja aku sudah bahagia apa lagi sampai membangun hotel seperti ini."
"Untuk istri, tidak ada yang berlebihan. Semakin memanjakan istri, semakin mengalir rezeki suami."
"Aku tidak percaya ini,...!"
Mawar terduduk lemas, dia yang terlahir dari keluarga biasa saja sekarang bisa memiliki tempat sebagus ini.
"Ini tidak gratis....!" seru Wira membuat mata Mawar langsung mendelik.
__ADS_1
"Aku tahu, pasti saja!"
"Sayang,...kau tahu aja apa yang mas mau!"
Entah kenapa hari ini Mawar melihat suaminya sangat tampan apa lagi gaya rambut baru Wira menambah nilai ketampanannya. Hati yang kesal mendadak hilang, tiba-tiba saja Mawar bangkit dari duduknya dan langsung memeluk suaminya.
"Terimakasih mas. Terimakasih untuk cinta dan segala yang kau berikan pada ku. Aku mencintaimu!" ucap Mawar yang terharu dengan sikap suaminya.
Wira membalas erat pelukan sang istri, mencium dalam pucuk kepala Mawar.
"Mas juga mencintai mu," balas Wira lalu mengangkat dagu istrinya, perlahan keduanya saling memagut, lidah mereka saling bertaut dengan lembut.
Semakin lama ciuman tersebut semakin panas. Wira mendudukkan istrinya di atas meja. Seakan tidak ada bosannya, nafsu pria ini masih sama seperti semula.
Satu persatu kancing kemeja terlepas, jari jemari Mawar sudah hafal betul jalannya. Begitu juga dengan Wira yang saat ini sudah berhasil melepas pengait bra istrinya.
Jari kekar mulai sibuk meremas, menggelitik di biji kacang di atas bukit. Mawar melenguh, hatinya jatuh. Sekali isapan membuat wanita ini menjambak rambut suaminya. Untung saja hotel ini kosong, tentu saja itu sangat di sengaja oleh Wira.
Dari atas meja keduanya beralih keatas tempat tidur. Beberapa tanda merah sudah menempel di dada bagian atas. Wira bangga telah membuat seni di tubuh istrinya. Lidah pria ini terus menari-nari di bagian yang dia sukai.
Tanpa izin Wira langsung menancapkan timun segarnya.
Hap,......
"Hotel ini sebagai hadiah ulangtahun mu sayang. Jadi, mari kita puaskan hasrat kita hari ini," bisik Wira kemudian memulai gerakannya.
Gerakan yang sangat lembut, penuh dengan irama yang berbeda namun bisa menyatu dengan indah terdengar telinga.
Kembali ke gerakan favorit mereka, Wira hanya ingin memuaskan istrinya.
Plak....plak...plak.....
Bunyi yang indah, kulit tubuh mereka saling bergesekan.
"Mas,.....!'' lirih Mawar dengan suara manjanya. Wanita ini mengacak rambut suaminya. Wira tahu jika sang istri hendak *******, pria ini semakin mempercepat gerakannya.
Plok....plok..plok.....
Semakin nyaring bunyinya, Wira mengisap di salah satu bukit kenyal istrinya.
Aaaaaaah.......
Tubuh Mawar menegang, suara ******* penuh kenikmatan keluar dari bibirnya. Timun lokal berukuran besar itu di jepit, Mawar bisa merasakan ada yang senut-senut di dalam sana.
Huft.....
Nafas Mawar naik turun, tubuhnya mulai melemah. Rasanya jika seperti ini Mawar ingin lagi dan lagi.
__ADS_1
"Mas, aku ingin lagi...!" bisiknya lalu menggigit daun telinga suaminya.
Geli menggelitik, tapi Wira sangat suka dengan keagresifan suaminya. Waktu setengah sore ini hanya mereka habiskan tanpa Al. Tidak masalah, Asti malah senang jika tidak ada Mawar dan Wira.
Beralih ke kisah Wiwi dan Jonas, seharian mereka bersama nampak canggung. Ada status yang mengikat mereka tanpa di ketahui Farah dan Joni. Bagaimana caranya Wiwi memberitahu mereka berdua.
"Emm,...aku pergi sebentar. Ada urusan!" ucap Jonas yang sangat canggung.
"Terserah kau!" seru Wiwi dengan ketusnya.
"Perempuan aneh!"
Jonas pergi, alasan ada urusan padahal pria ini hanya bingung saja ingin melakukan apa. Melihat Jonas sudah pergi, Wiwi memutuskan untuk kembali ke apartemen tempat di mana dia tinggal selama ini.
Tidak punya uang, Wiwi juga tidak hafal jalan meskipun sudah berbulan-bulan tinggal di negara orang.
Masih mengenakan kaos oblong milik Jonas, Wiwi mulai bingung karena dia tidak tahu arah jalan pulang.
"Matilah aku, sudah bahasa inggris ku tidak jelas. Bagaimana ini?"
Mulai panik, wanita ini hanya mengandalkan feeling di hatinya. Menyusuri setiap jalan yang sepertinya ingat-ingat lupa. Selain jalan ke kantor dan apartemen, Wiwi tidak tahu jalan lagi. Jika ingin keluar pun sudah pasti pergi dengan Farah. Meskipun Farah hanya lulusan sekolah menengah atas, tapi wanita itu cukup pintar dalam berbahasa.
"Nah, kemana lagi perempuan ini pergi....?"
Jonas bingung karena tidak mendapati istrinya setelah dia pulang.
Jonas mulai mencari, tetap saja Wiwi tidak di temukan. Hari sudah gelap, Jonas mulai panik dan khawatir. Pria ini langsung pergi ke apartemen Joni.
"Suruh Wiwi keluar!" titah Jonas pada Farah ketika wanita itu membuka pintu.
"Wiwi....?" Farah mengerutkan keningnya heran, "bukankah dia pergi bersama mu sejak kemarin?"
"Di pergi tadi sore...!"
"Wiwi tidak ada di sini, dia belum pulang!" ucap Farah mulai curiga.
"Jika dia tidak ada di sini, lalu di mana?" tanya Jonas dengan nada tinggi.
Farah kesal, wanita ini menendang kaki Jonas lalu menarik kerah baju pria tersebut.
Aawwwww.......
Jonas berteriak kesakitan, membuat Joni keluar.
"Kau apa kan teman ku hah, di mana di sekarang?"
"Aku tidak tahu, kalau aku tahu tidak mungkin aku mencarinya kesini."
__ADS_1
"Wah, Wiwi belum mengenal jalan di negara ini. Matilah kita kalau dia hilang...!" Joni ikut panik, "lepaskan dia, sebaiknya kita mencari Wiwi...!" ujar Joni langsung menarik tangan Farah kemudian pergi.
Sialnya malam ini turun hujan, Jonas semakin khawatir pada wanita yang di nikahinya secara mendadak itu.