
"Bikin malu aja. Kamu udah dewasa Wira, anak kamu mau dua sekarang. Masalah seperti ini kamu umbar di tempat umum!"
Asti mengomel setelah melihat video anaknya yang tersebar di jagat maya.
"Aku hanya ingin memberinya pelajaran mah. Apa itu salah?"
"Tapi bikin malu,...!"
"Biarin aja, biar tahu rasa!" sahut Wira dengan santainya sedangkan Mawar hanya diam saja.
Mawar merasa bersalah karena keributan ini berasal dari dirinya.
"Kamu kenapa diam saja?" tanya Wira yang menoleh ke arah istrinya.
"Maafkan aku mas, semua salah ku!" ucap Mawar membuat Wira dan Asti mengerutkan kening mereka.
"Kenapa kamu yang minta maaf hah? mereka itu sengaja ingin merusak rumah tangga kita. Mas akan bicara pada papahnya Silla, bajingan itu harus mendapatkan pelajaran!"
"Terserah kamu lah Wira sableng. Mamah sudah pusing dengan tingkah kamu...!" ujar Asti lalu mengajak Al masuk ke kamarnya.
"Kalau aku Wira sableng, mamah nenek gendengnya ya kan?"
Wira sedikit berteriak.
"Anak ini, hih. Awas saja kamu!" Asti semakin kesal dengan anaknya.
"Mas, udah ah. Orangtua kamu bercandain terus kasihan!" tegur Mawar.
"Biar mamah panjang umur, aku belum mengizinkannya pergi menyusul papah!"
"Mas,....!"
Mawar menyentil perut suaminya yang suka sekali bicara ceplas ceplos ini.
"Sayang, toel-toel hidung mas dong!" rengek Wira yang saat rebahan di atas pangkuan istrinya.
"Gak mau ah, nanti kena upil...!"
"Giliran upil aja gak mau. Tapi, kalau cairan mas aja mau. Dasar betina...!"
"Mas, kamu ini kalau ngomong gak di takar lagi deh. Heran aku, apa pun judulnya nyambungnya pasti ke sana!"
"Biarin aja, dari pada ngomongin rumah tangga orang bagus kita bahas ranjang sendiri."
"Ah, kamu ini. Bisa-bisanya seperti itu...!"
"Kenapa, kamu mau di gejrot sekarang nih?"
Wira menggoda istrinya.
"Apa sih mas, udah ah. Aku mau nonton televisi...!"
Bukannya berhenti menggoda, Wira semakin menjadi-Jadi. Tangannya malah jahil masuk kedalam baju sang istri.
"Yah, lepas!" seru Wira yang secara sengaja melepas pengait bra istrinya.
"Mas, apaan sih. Udah deh...!"
__ADS_1
"Eh, gak sengaja....!" ujar Wira yang sudah meremas salah satu bukit kenyal istrinya.
Plak,....
Mawar yang jengkel memukul tangan nakal suaminya. Sambil mengomel Mawar membenarkan pengait bra.
Wira terus tertawa, suka sekali menjahili sang istri.
"Anak papah, kalau kamu perempuan harus seperti mamah kamu ya." Wira bicara dengan anaknya yang masih di dalam perut.
"Stres....!" seru Mawar.
"Mas lagi mau nih,...!" Wira kembali menggoda.
"Gak ada bosannya, heran!"
"Ya maklum, mas kan mantan duda empat tahun!"
"Itu terus andalannya!"
"Kamu mau mas gejrot atau mas gejrot istri orang nih....?"
Mawar melirik tajam,
Buk......
Dengan sengaja Mawar menepuk burung perkutut suaminya.
"Aaaaa....telur ku.......!"
Wira kesakitan lalu berguling-guling di atas karpet.
"Rasain tuh, telur kamu sesekali harus di beri pelajaran!" ucap Mawar sambil tertawa.
Mawar meninggalkan suaminya dan pergi ke kamar seorang diri. Wira menyusul istrinya, seakan tidak mau jauh-jauh dari bunga Mawarnya.
"Mas ngapain buka celana?" Mawar bertanya.
"Mau melihat telur ku, apa dia pecah atau hanya lecet!"
"Kamu ini tidak waras mas!"
"Biar saja, awas kamu. Malam ini kamu mas hukum!"
"Hih, bodoh amat!" seru Mawar lalu naik ke atas tempat tidur.
Benar-benar melepas celana dan mengecek telurnya, memastikan harta masa depannya ini baik-baik saja. Tanpa mengenakan celananya lagi Wira naik ke atas tempat tidur.
"Mau ngapain?" tanya Mawar dengan wajah panik.
"**** telur mas, kamu di hukum!"
"Mas,....!"
"Berani menolak akan mas kutuk kamu!" ancam Wira.
Mawar serba salah, menolak permintaan suaminya takut dosa pada akhirnya menurut saja.
__ADS_1
hupppp......
Mawar mengemut telur suaminya hingga membuat Wira gelinjangan tak tertahankan. Yang membuat Wira kembali berguling-guling adalah saat Mawar dengan sengaja menggigit ujung pedang suaminya dan mencabut beberapa lembar rumput kriting suaminya.
"Rasain tuh....!" ujar Mawar yang tertawa puas.
"Sayang, kau menyiksa suami mu malam ini,....!"
Wira terus berguling di atas tempat tidur. Sungguh untuk pertama kalinya Mawar membalas perbuatan suaminya.
Beda cerita lagi dengan Joni dan Farah yang malam ini hanya bisa memandang Jonas dan Wiwi yang terlihat sejak tadi suka senyum-senyum sendiri.
Entah setan mana yang merasuki Jonas dan Wiwi, suami istrinya makan malam saling bersuapan membuat Farah dan Joni merasa geli.
"Wajah kalian kenapa?" tanya Jonas.
"Tidak kenapa-kenapa!" jawab Joni dan Farah bersamaan.
"Gak suka lihat kami bahagia?" tanya Wiwi.
"Suka kok, malahan kami senang!" ujar Farah dengan wajah bingungnya.
"Lalu kenapa kalian seperti itu?"
Sekali lagi Joni bertanya.
"Ya heran aja, kemarin aja kalian bertengkar sekarang malah membuat ku ingin muntah saja!" ujar Joni.
"Wiwi, kau kasih pelet apa dia?" tanya Farah bergurau.
"Cukup dengan goyangan yang dan emutan sudah membuat dia klepek-klepek pada ku. Jonas ini haus akan bercinta!" kata Wiwi yang kalau bicara tidak di saring lagi.
"Astaga mulut mu ini, membuat ku malu saja!" Jonas geram.
"Heh, kalian berdua pasangan yang aneh!" celetuk Joni.
"Kalian juga aneh. Apa kau lupa jika kau menikahi Farah secara paksa?" Wiwi mengingatkan, membuat Joni langsung malu.
"Sama saja, kita berempat ini tidak waras!" ucap Farah membuat mereka semua tertawa.
Selesai makan malam, Joni dan Farah langsung pulang. Tidak pulang, mereka berjalan-jalan sebentar untuk mencari udara segar.
"Apa yang kau rasakan sekarang?" tanya Joni pada istrinya.
"Bahagia yang tidak pernah aku rasakan sebelumnya. Aku merasa lebih bebas sekarang, tidak ada orang mengatur ku harus ini dan itu ketika ingin melakukan sesuatu."
"Aku tidak melarang mu untuk melakukan sesuatu yang kau suka asal kau masih bisa berada dalam batasan mu. Ingat Farah, sekarang aku suami mu. Jelek begini kau harus menurut dengan ku!"
"Menang banyak dong!"
"Kita bukan orang baik, setidaknya kita belajar menjadi manusia yang baik dengan kehidupan yang baik. Ayo lah, kita sudah dewasa. Jangan bermain-main lagi."
"Aku tidak sengaja membuka akun instagram milik Wira. Ku lihat dia dan Mawar sangat bahagia dengan anaknya apa lagi Mawar sekarang sedang hamil anak kedua. Aku sadar, ternyata kebahagiaan itu kita yang ciptakan bukan dari orang lain. Jon, aku ingin seperti Mawar, memiliki anak dan hanya fokus pada keluarga."
Farah menatap dalam mata Joni.
"Kalau begitu, mari kita pulang lalu bermain. Mana tahu besok jadi anak!"
__ADS_1
"Heh, kau pikir bikin kue langsung jadi?"
Joni merangkul pundak Farah, mereka berjalan menuju mobil saling bercanda.