
"Sudah jam sebelas siang, apa mereka belum juga menarik tuduhannya?" tanya Wira pada Dimas.
"Belum pak,...!" jawab Dimas yang sebenarnya tidak tahu apa yang akan di lakukan Wira.
klik,.....
Wira memencet satu tombol pada laptopnya.
"Lanjutkan pekerjaan mu, kalau ada gosip tolong beritahu aku!"
Wira melipat kedua yang santai sambil melihat ke arah jarum jam.
"Aku merasa memang tidak etis menyebarkan urusan pribadi orang lain. Tapi, kalian semua harus di beri pelajaran!" ucap Wira kesal.
Tebakan Wira benar, belum ada setengah jam gosip yang dia sebarkan langsung menyebar ke publik terutama para pemain bisnis.
Bambang mulai ketar ketir ketika melihat gambar dirinya yang berselawiran di media sosial bersama Farah. Bukti nyata perselingkuhan Bambang dan Farah membuat geram anak-anak Bambang.
Di balik gosip ini, Wira juga langsung menyebarkan bukti jika tuduhan yang di layangkan pada perusahaannya itu tidak benar. Farah mulai kalang kabut, apa lagi sekarang beberapa polisi sedang mencarinya.
"Persetan dengan berita selingkuh. Sekarang aku harus memikirkan cara untuk bersembunyi," ucap Farah yang terus mondar mandir di kamar apartemennya.
Kebodohan Farah hanya satu, demi uang wanita ini membodohkan diri.
Buk,....
"Farah,.....!!"
Bambang membuka pintu kamar dengan sangat kasar dan penuh emosi.
"Dasar perempuan bodoh. Kenapa semua tentang kita bisa terungkap?"
"Om, aku kan sudah bilang sama om untuk mencabut semua tuntutan. Kenapa sekarang menyalahkan ku?"
"Bocah gaplek itu benar-benar licik. Dia menyangkut pautkan masalah ini dengan masalah pribadi. Kau harus bertanggung jawab Farah!"
"Kenapa jadi menyalahkan ku om? om sendiri yang kekeh untuk menjatuhkan Wira. Lihatlah, gara-gara om sekarang aku di cari polisi. Bagaimana ini om?"
"Aku tidak peduli....!" seru Bambang.
"Jika aku di tangkap polisi, tidak akan ada lagi yang bisa memuaskan om!"
Bambang mendecih, mencibir perkataan Farah.
__ADS_1
"Kau pikir aku tidak bisa membeli perempuan lain hah?"
"Tapi, cuma aku yang bisa memuaskan om. Jadi, ku mohon om harus bisa menyembunyikan ku!" Farah memohon pada lelaki tua itu.
Farah masih mencoba memohon pada Bambang, sedangkan Yunita tak kalah paniknya karena sejak pagi polisi terus bolak balik ke rumahnya.
Yang lebih membuat Yunita kalang kabut ketika seorang penagih utang mengusir Yunita dari rumahnya karena tidak kuat membayar sertifikat yang di jaminkan. Dengan membawa koper, Yunita mau tidak mau keluar dari rumahnya. Lebih parahnya lagi, Farah tidak tahu jika rumah mereka telah di sita sekarang.
"Sekarang aku harus kemana? Farah juga di mana sekarang? kenapa anak itu bodoh sekali?"
Yunita mengeluh di sepanjang jalan.
"Semua masalah ini gara-gara Wira. Harus bertanggung jawab!" ucap Yunita yang malah sibuk menyalahkan orang lain.
Dengan menyeret kopernya, Yunita bermaksud ingin pergi krn rumah Wira. Namun, secara tidak sengaja dirinya di tabrak sebuah mobil.
"Aduh bu, kita nabrak orang!" ujar Desi panik.
"Cepat keluar....!!"
Silla ikutan panik.
"Dasar buta, kemana mata kalian hah? apa tidak lihat manusia sebesar ini sedang jalan kaki?" Yunita marah-marah, di tambah lagi kakinya sedang terkilir sekarang.
"Aduh, maaf tante. Kami benar-benar tidak sengaja," ucap Silla, "sebaiknya kita pergi ke rumah sakit sekarang."
Sementara itu, Wira sekarang bisa bernafas dengan lega dan melenggang pulang dengan santai karena kasus pencemaran nama baiknya telah selesai. Sisanya akan di lakukan oleh Dimas yang akan menuntut balik.
Berita perselingkuhan Bambang juga membawa efek negatif oada dirinya. Sang istri yang mengalami stroke hampir dua tahun hanya bisa duduk dan terbaring tiba-tiba saja terkena serangan jantung dan meninggal dunia.
Kedua anak Bambang yang geram dan tidak terima dengan perlakuan sang papah langsung mengusir lelaki tua ini dari rumah dan mengambil alih semua pekerjaan.
Sekarang ini, Bambang hanya bisa duduk satu atap bersama Farah. Farah yang mendengar kabar jika Bambang sudah tidak memiliki apa-apa lagi, mulai sibuk mencari alasan untuk mengusir lelaki tua ini.
"Layani aku...!" titah Bambang yang sama sekali tidak peduli dengan masalahnya. Otak tua yang sudah berkarat ini, Bambang sungguh haus akan nafsu.
"Maaf om, aku sedang datang bulan!" tolak Farah secara halus.
"Jangan bohong kau!" sentak Bambang, "baru tadi malam kita melakukannya. Kenapa kau menolak ku sekarang hah?"
"Aku kan perempuan, wajar jika aku kedatangan tamu bulanan seperti ini."
Farah membalas ucapan Bambang.
__ADS_1
"Aku tidak peduli, semakin berdarah semakin nikmat!" ucapnya langsung merahap tubuh Farah. Farah mencoba berontak, namun tenaga tua Bambang cukup kuat. Seharusnya Bambang menghadiri acara pemakaman istrinya, namun hawa nafsunya lebih besar di banding kematian sang istri.
Wira kembali ke rumah, mamahnya sudah kembali ke kuar kota sejak tadi pagi. Hanya ada Mawar dan kedua pembantunya yang sedang asyik bikin rujak.
"Sayang, makan rujak bumbunya apa?" tanya Wira seolah tidak tahu.
"Ya bumbu kacang lah mas!" jawab Mawar.
"Mas Wira udah pulang. Kalau begitu, kami berdua kebelakang dulu ya mbak!" Pamit bi Jum langsung di iyakan Mawar.
"Sayang, kamu tahu gak bumbu rujak yang paling enak itu apa?"
"Emang ada selain bumbu kacang?" tanya Mawar dengan polosnya.
"Ya ada dong. Nih,....!" ujar Wira sambil menunjuk arah pedangnya.
"Apaan sih mas, gak lucu deh!"
Sebenarnya Mawar ingin bertanya tentang berita yang sedang beredar sekarang. Tapi, lidah Mawar kelu tidak berani untuk bertanya pada suaminya. Toh, itu juga bukan urusan Mawar.
Melihat suaminya yang berbaring di pangkuannya sambil mengusap perutnya membuat Mawar merasa geli.
"Kalau anak kita lahirnya perempuan, kita beri saja dia nama Melati," ujar Wira.
"Aku sih terserah mas Wira aja."
"Biar aku bisa nyanyi, Mawar Melati, semuanya indah.....!"
"Mas, ada-ada aja deh!"
"Biar gak susah kalau manggil kalian berdua!"
"Mas, eh geli...!" Tangan nakal Wira menyentuh dua put*ng milik istrinya.
"Ini kan punya mas, sekarang udah gak bisa di remas-remas gemas!"
"Aku penasaran dengan isi kepala mu ini. Kok bisa otak mesum seperti kamu ini bisa memimpin banyak karyawan?"
"Itu salah satu kelebihan mas. Kau harus bangga memiliki suami seperti ku ini."
"Aku harus menemui pak Agus," ujar Mawar langsung membuat suaminya naik emosi.
"Kenapa kau mau menemui dia hah?"
__ADS_1
"Hanya ingin sungkeman, karena sumpahan pak Agus menjadi kenyataan. Selain menikah dengan duda tampan dan kaya raya, aku juga memiliki suami yang hobby menggoyang!"
"Aku akan mengiriminya hadiah!" seru Wira.