
Tarik ulur nafas, cengkraman Farah hampir saja mematahkan semua tulang Joni. Satu kali dua kali tarikan nafas tidak juga membuat bayi tersebut keluar dari lubangnya Farah.
Joni penasaran, pria ini mengintip di sela kaki kedua istrinya yang sekarang tengah berjuang untuk melahirkan anak mereka.
Hooooh,.....
Mata Joni terbelalak, mulutnya menganga syok nyaris pingsan di tempat saat mengintip ke arah lubang.
"Dok, kenapa bisa seperti itu?" tanya Joni kaku, "kenapa roti tawar milik istri ku bisa selebar itu?"
Telinga Farah terlalu panjang, wanita yang sedang berjuang di antara hidup dan mati ini merasa malu dengan pertanyaan suaminya langsung menarik tangan Joni.
Huh,...hah,...huh,....
Dengan nafas yang terengah-engah, ingin sekali Farah menendang bokong suaminya ini.
"Ayo bu, sekali lagi ya...!" seru Dokter lalu memberikan aba-aba.
Tarik nafas pelan lalu hembuskan.
Owek,...owek....
Lahirlah seorang bayi mungil berjenis kelamin perempuan. Kaki Joni yang sejak tadi terus bergetar langsung lumpuh longsor ke lantai.
Sambil merangkak, Joni yang penasaran kembali mengintip sela kaki istrinya.
"Heh, udah tertutup lagi. Kok bisa?"
Di dalam ruangan bersalin ini hanya Joni seorang laki-laki. Baik Dokter maupun perawat, semuanya perempuan. Melihat tingkah Joni, Dokter dan perawat merasa serba salah sedikit menahan malu.
Wajah Farah seolah tebal di lempar semen basah.
"Kau ini bikin malu saja!" ucap Farah dengan gigi yang rapat.
Keringat yang masih basah di wajahnya saja sudah tidak ia hiraukan.
"Aku kan penasaran, wajar dong jika aku tanya!" celetuk Joni.
"Pak, ini anaknya sudah kami bersihkan!" ujar seorang perawat lalu menyerahkan bayi mungil tersebut.
Tidak jadi menyerahkan, perawat tersebut mengerutkan kening lalu mundur kebelakang. Bukanya apa-apa, perawat tersebut takut bayi itu jatuh karena kaki Joni masih bergetar.
"Sus, aku mohon jangan berikan anak ku pada suami ku. Bahaya!" mohon Farah yang masih lemas.
"Tidak bu, suami ibu saja seperti ini...!"
__ADS_1
Seharusnya Farah dan Joni menangis terharu atas kelahiran anak pertama mereka. Tapi nyatanya Joni malah membuat suami orang tertawa akan tingkah lucunya.
Tak berapa lama, Farah di pindahkan ke ruang rawat. Joni masih tidak berani menggendong anaknya, pria ini hanya sibuk memandang bayi tersebut dengan banyak tanda tanya.
"Sayang, kok ngeri ya...!" ujar Joni membuat Farah bingung.
"Apanya yang ngeri?"
"Anu, itu tadi aku lihat lapis legit mu mekar dan melebar. Ini kok bisa ya kepala bocah lewat sana?"
Farah bingung ingin menjawab apa, makin hari ada saja yang pertanyaan yang menurut Farah tidak masuk di akalnya.
"Jangan kau pikir hanya batang lapuk mu itu saja yang bisa masuk. Heran, kau sekolah dulu belajar apa sih?"
"Kau tahu sendiri sekolah ku suka membolos. Jadi, mana aku tahu tentang beginian!"
"Terserah kau saja!" seru Farah.
"Lucu ya dia, rambutnya lebat seperti kamu, hidungnya mancung seperti aku. Yang jelas mirip dengan ku!"
"Heleh kau ini, ingin menang sendiri."
"Biar saja!" cibir Joni, "anak kita sangat cantik, lihat saja kalau dia besar nanti. Jika ada laki-laki yang mau jadi suaminya harus ku seleksi ketat!"
"Apa kata mu lah. Aku lelah, biarkan aku istirahat!" kata Farah yang sudah pusing sendiri dengan ocehan suaminya.
"Anu sayang,....aku tadi melihat dengan jelas sirip apem mu sangat lebar. Sepertinya asyik kalau di buat mainan sebelum tidur!"
Dasar kepala botak, tongkol bertulang batang rapuh pare busuk. Mulut mu itu terkadang suka nyeleneh memang!" ucap Farah yang sangat geram.
Joni tidak memperdulikan sumpah serapah istrinya. Pria ini memilih untuk melakukan panggilan video dengan Wiwi dan Jonas yang sudah penasaran dengan wajah anaknya.
Bahagia rasanya karena sekarang baik Joni maupun kakaknya sudah memiliki keluarga. Obrolan mereka sekarang tidak jauh seputar anak, Jonas sedikit banyak memberi penjelasan pada adiknya tentang merawat seorang bayi.
"Jonas pikir aku ini bodoh. Gitu aja harus di jelaskan panjang lebar!" gerutu Joni sesaat telpon terputus.
"Kau ini aneh, kakak mu kan niatnya bagus. Memberikan pengalamannya pada mu. Kok malah ruwet sendiri."
"Karena aku punya cara sendiri untuk merawat dan mengurus anak istri ku. Apa,mau protes lagi?"
"Tidak akan protes. Terserah kau, ingatlah suami ku sayang. Kau harus berpuasa selama empat puluh hari...!" Farah mengolok suaminya.
Syok lah Joni, dia pikir hanya bercanda jika ia harus berpuasa selama empat puluh hari. Mau tidak percaya sulit juga, karena Joni ingat jika Farah pernah membeli pembalut sangat banyak.
"Lalu nasib ku bagaimana?" tanya Joni seketika lemas.
__ADS_1
"Kocok sendiri, kau beli sana sabun batangan di warung!" ujar Farah lalu tertawa puas.
"Dari pada beli sabun, bagus aku beli orang!" gurau Joni langsung membuat wajah Farah merah.
"Coba saja, akan ku potong telor tongkol mu!" ancam Farah, "kau sudah janji pada ku. Ingat itu,...!"
"Hais,...aku hanya bercanda!"
"Candaan mu tidak lucu!" seru Farah marah.
"Hehe, jangan marah sayang. Istirahat yuk,...!" bujuk Joni.
Joni langsung diam, tidak banyak bicara selain dalam hatinya. Farah yang masih sangat lemas akhirnya terlelap juga.
Melihat wajah sang istri yang masih pucat dan Joni ingat perjuangan Farah tadi membuatnya langsung terpikir panjang.
"Benar, perempuan itu harus di jaga dan di bahagiakan. Perjuangannya saat melahirkan saja sudah sangat mengerikan seperti ini. Istri ku, aku berhutang banyak pada mu," gumam Joni yang tiba-tiba kedua kakinya kembali bergetar.
Joni masih bisa merasakan genggaman dan cengkraman Farah saat melahirkan anak mereka tadi.
Lain halnya dengan wira, pria ini terus merusing. Butuh waktu kurang lebih dua bulan untuk Wira bisa menggenjot istrinya.
Sampai sekarang, Asti juga masih suka mengontrol kamar anaknya. Asti tidak ingin Mawar terjerumus kedalam bujuk rayu anaknya sendiri. Setidaknya ini semua semua kebaikan Mawar di masa depan.
"Mas, kamu ini kenapa sih?" tanya Mawar heran, "perasaan sejak tadi gelisah mulu. Heran deh!"
"Siapa yang gak gelisah coba, dua bulan lebih kita gak main. Tegang nih, dari urat bawah sampai ke urat kepala semua tegang."
"Ya mau gimana lagi, memang seperti itu konsepnya!"
"Sayang, jepit mas dong!" rengek Wira yang sudah tidak tahan.
"Bukan aku menolak permintaan kamu mas. Tapi, kamu dengar sendiri apa kata Dokter!"
"Itu Dokter harus di basmi. Pasti dia sengaja mengerjai ku. Pasti dia kerja sama dengan mamah!"
"Hih, kamu fitnah loh mas!"
"Mas kesal nih. Udah gak tahan, besok kita ke Dokter lagi. Kamu harus cek kondisi luar dalam."
"Lah, buat apa?"
"Buat di gempur, mas yakin jika lahan kamu udah lebat dan padat. Cangkul mas mu ini sudah tumpul perlu di asah!"
Entahlah, Mawar harus jawab apa lagi. Terkadang Mawar sendiri mati kutu dengan ucapan suaminya ini. Setiap hari ada saja pribahasa yang di gunakan Wira tapi Mawar masih bisa memahaminya.
__ADS_1
***JANGAN LUPA MAMPIR DI KARYA BARU OTOR YA***