
"Maaf tante, aku sangat penasaran dari mana tante dan Wira bisa saling kenal. Bisa cerita sedikit tante?"
Silla berharap jika Yunita kenal dengan Wira, agar dia bisa memanfaatkan Yunita.
Wajah Yunita mendadak panik hingga membuat Desi curiga. Namun, sebagai seorang pemain handal dalam urusan berbohong dengan cepat Yunita menetralkan dirinya.
"Iya, tante kenal sama Wira. Bahkan tante juga berteman baik dengan mamahnya Wira," jawab Yunita dengan seribu kebohongannya.
Hati Silla mendadak mekar mendengar jawaban dari Yunita.
"Tante, sebenarnya aku sudah lama menyukai Wira. Aku rela pindah ke kota ini dan membujuk papah untuk membuka cabang di sini agar aku bisa lebih dekat dengan Wira. Tapi sayang, Wira sudah menikah sekarang!"
Silla langsung menunjukan wajah sedihnya.
"Ah, yang pacaran bisa putus dan menikah bisa cerai. Kalau kamu menyukai Wira, maka kejar dia. Tante sangat mendukung kamu dari pada istri Wira yang sekarang. Udik, Kampungan dan tidak pantas bersanding dengan Wira."
"Nah iya, aku juga mikir begitu. Aku yakin jika Wira sudah di pelet sama perempuan itu."
Desi hanya diam saja, mendengarkan obrolan Yunita dan Silla yang menurutnya tidak pantas untuk di dengar.
"Tante akan membantu kamu. Sekarang tante mau kebelakang dulu, mau masak buat makan malam!"
Melihat Yunita sudah pergi ke dapur, Desi langsung berpindah tempat duduk di samping Silla.
"Silla, aku sepertinya tidak begitu yakin dengan tante Desi. Dia sangat mencurigakan."
"Ah, kamu ini apaan sih. Gak boleh seperti itu, tante Yunita baik."
"Kalau dia baik, kenapa dia mendukung kamu untuk merusak rumah tangga pak Wira?" tanya Desi membuat Silla bingung.
"Udah ah, aku mau ke kamar dulu!" ujar Silla yang tidak tahu ingin menjawab apa.
Desi hanya bisa bergeleng kepala dengan kekerasan hati Silla. Mau bagaimana lagi, Desi tidak berhak bicara banyak karena dia juga di gaji oleh Silla.
Farah, wanita ini sudah lama tidak mendengar kabar sang mamah. Pada akhirnya Farah menyempatkan waktu pulang untuk sekedar melihat mamahnya. Bagi Farah, baik buruknya Yunita, adalah ibu yang sudah melahirkannya.
Begitu terkejutnya Farah ketika mendapati rumah tempat di mana dia dilahirkan sudah berpindah tangan. Farah juga tidak memiliki nomor telpon Yunita karena saat dia pergi ke kemarin langsung mengganti nomor telponnya.
"Mamah, ku pikir dengan perginya aku bisa berubah. Sekarang, aku sudah tidak memiliki tempat lagi untuk berpulang."
Farah mendengus kesal, menjalani kehidupan yang cukup menguras emosi ini. Farah kemudian pergi, wanita mencoba mencari Joni yang sudah menjebaknya namun sialnya Farah malah bertemu dengan Bambang.
Farah yang panik langsung berusaha menghindar, namun terlambat karena Bambang sudah dulu melihatnya.
"Perempuan ******, jangan lari kau!"
Dengan tenaga tuanya, Bambang berusaha mengejar Farah. Farah yang sudah masuk kedalam taksi langsung membuang nafas lega.
__ADS_1
"Sialan!" umpat Farah, "ku pikir si terong tua itu sudah mati. Ternyata alot juga hidupnya!"
Farah terus menyumpahi Bambang. Begitu juga dengan Bambang yang terus menyumpahi Farah.
Farah yang sudah berhasil kabur langsung kembali ke tempat asalnya. Wanita ini tinggal di rumah seorang mami yang selama ini memberinya penghidupan.
Sedangkan Mawar, hari ini dirinya merasa senang karena untuk pertama kalinya dia kedatangan tamu. Genta, teman laki-laki Mawar yang satu ini sengaja datang untuk melihat Mawar.
"Wuah, kau sangat pengertian Genta. Terimakasih sudah membawakan ku banyak oleh-oleh," ucap Mawar yang senang namun tidak dengan Wira. Wajah Wira masam, pria ini tidak terima melihat keakraban Mawar dan Genta.
"Hais, gitu aja udah di puji....!" gerutu Wira pelan.
"Mawar, aku gak nyangka karena sebentar lagi aku akan punya keponakan. Jadi ingin punya anak!"
"Ya kalau mau punya anak bikin sana. Jangan bilang sama istri ku!" sahut Wira gemas.
"Mas,....Genta belum nikah!"
"Salah dia sendiri,kenapa gak nikah?"
"Anu mas, belum nemu yang cocok. Minimal seperti Mawar ini lah udah pekerja keras, baik, cantik pula!"
Mata Wira langsung melebar ketika mendengar Genta memuji istrinya cantik.
"Mawar istri ku loh!"
Mawar paham betul dengan sikap suaminya ini, Wira pasti sedang cemburu sekarang dengan kedatangan Genta.
"Mas, apaan sih?" Mawar mencubit lengan suaminya.
"Ingat ya, Mawar milik ku. Kalau kamu mau, cari sana melati kek Kenanga atau bunga bangkai sekalian!"
"Loh, mas Wira ini aneh. Mawar memang istri mas Wira, yang mau sama Mawar itu siapa?"
"Genta, gak udah dengar apa kata mas Wira. Dia memang suka bercanda!"
"Udah, santai aja. Ya udah, aku pamit pulang dulu. Kereta ku satu jam lagi...!" pamit Genta yang hanya mampir sebentar.
Melihat Genta keluar rumah, tangan Wira sibuk memburu keluar.
Hus...hus....
Mawar yang melihat sikap suaminya langsung mencubit tangan suaminya.
"Mas,....!!"
Genta kembali pulang kampung, Mawar yang sudah tidak tahan dengan sikap suaminya langsung menjewer kuping Wira.
__ADS_1
"Mas, kamu tuh ya. Genta kan teman ku, kamu kok bisa-bisanya cemburu sama dia?"
"Ya mana tahu kalau dia akan merebut kamu dari aku. Biar dia membuka matanya kalau kamu itu punya aku. Mawar ku!"
Mawar memutar bola matanya jengah.
"Mas,.......!!"
Mawar menghentakkan kakinya kesal kemudian kembali masuk kedalam rumah.
"Sayang,...tungguin....!"
Wira menyusul istrinya.
"Sayang,.....!"
Mendengar suara teriakan suaminya, Mawar sengaja menutup telinga.
"Bisa-bisanya kau pura-pura tuli. Mau aku genjot biar keluar tu suara?"
Wira berkacak pinggang memarahi istrinya.
"Genjat genjot, setiap hari bahasan mu itu saja. Apa gak bosan?"
"Apa kau mau kalau mas mu ini menggenjot istri orang?" Wira menggoda istrinya.
Kerlingan mata Mawar langsung menatap tajam. Wanita ini membuka laci dan mencari sesuatu.
"Sayang, cari apa?" tanya Wira penasaran.
"Cari gunting, seperti ini rudal mu itu harus di sunat dua kali...!" jawab Mawar.
"Lah, kalau di sunat dua kali. Habis dong!"
"Dari pada kau menggoyang istri orang, lebih baik kau tidak punya jagung seumur hidup mu!"
Jleb,....
Wira yang melihat wajah serius istrinya mencoba mencari ide untuk keluar dari kamar.
"Mas ke ruang kerja dulu. Sepertinya ada pekerjaan yang di kirimkan Dimas tadi," ujar Wira perlahan namun pasti pria ini keluar dari kamar.
Melihat suaminya kabur, Mawar menyimpan kembali gunting tersebut.
"Kalau begini kan aku bisa tidur siang dengan tenang!" ucap Mawar langsung naik ke atas tempat tidur.
Sejak hamil, Mawar sangat jarang mengalami gejala ngidam seperti kebanyakan ibu hamil lainnya. Hanya saja Mawar lebih suka tidur siang itu juga kalau tidak di ganggu Wira.
__ADS_1