
Mawar mulai curiga pada suaminya karena sejak kemarin Wira terlalu fokus pada ponselnya. Mawar ingin bertanya tapi takut melihat wajah suaminya yang terlihat dingin tersebut.
"Mah, mas Wira ini sebenarnya kenapa sih?" Mawar mencoba bertanya pada mamah mertuanya.
"Mana mamah tahu, kamu kan istrinya kenapa gak tanya aja?"
"Ngeri mah, dari kemarin marah-marah tidak jelas!"
"Biarkan saja, nanti juga bagus sendiri otaknya!"
Mau bagaimana lagi, Mawar hanya bisa nyengir kebingungan. Asti tidak peduli, yang penting ia bisa bermain dengan sang cucu.
Mawar kembali ke kamar, rasa penasaran di hatinya semakin besar untuk bertanya. Baru juga masuk, Mawar sudah mendengar suaminya mengumpat.
"Mas, kamu menyumpahi siapa sih? perasaan sejak kemarin kamu marah-marah terus!"
"Eh sayang, gak ada kok. Cuma masalah pekerjaan aja yang sedang ruwet!" bohong Wira yang tidak ingin istrinya tahu jika dirinya sedang mengerjai Valdi.
"Ku pikir kenapa gitu, mas bikin aku pikiran aja!"
"Lah, ngapain kepikiran? mas tidak pernah memberi mu perintah untuk memikirkan hal apa pun."
"Kalau masalah pekerjaan, aku tidak bisa ikut campur. Ya udah, aku mau main dulu sama Al."
Mawar kembali turun ke lantai bawah. Kehamilan yang kedua ini nampak biasa saja. Tidak ada yang perlu di khawatirkan seperti kehamilan anak pertama.
Kembali pada Wira, daun telinga pria ini mendadak terbakar mendidih panas ketika Wira membaca chat dari Valdi yang ingin mengajak istrinya bertemu.
"Wah, mau kena ini bocah!" ucap Wira geram.
Wira langsung membalas pesan Valdi, mengatakan iya dan mereka langsung menentukan tempat untuk bertemu siang ini.
"Siap-siap saja kau bodoh. Akan ku buat malu kau siang ini...!"
Wira cekikikan.
"Mandi dulu ah,....!"
__ADS_1
Sambil bersenandung kecil Wira masuk ke kamar mandi. Memilih pakaian yang keren dan nampak gagah, tidak lupa terlihat sangar.
"Loh mas, mau kemana?" tanya Mawar heran.
"Mas ingin ketemu klien sebentar sayang. Kamu titip apa?"
"Em,.....!" untuk hari sejenak Mawar berpikir, "titip bakpao rasa coklat saja mas."
"Cuma itu?"
"Titip suami baru satu mas!" canda Mawar langsung mendapatkan tatapan tajam dari suaminya.
"Berani macam-macam mas patahkan tulang mu!" ancam Wira.
"Hih, bercanda mas. Lagian mana ada lelaki yang bisa menggantikan kamu di hati ku...!"
"Kalau mas cariin kamu madu mau gak? biar kamu ada temannya di rumah!"
"Coba saja kalau berani, aku akan memelintir burung mu ku cincang pakai silet lalu ku berikan pada tikus got!"
Wira langsung memegang burungnya yang tiba-tiba saja berdenyut nyeri.
Wira mengecup kening istrinya, pria ini sudah tidak sabar untuk bertemu Valdi dan melihat wajah malunya nanti.
Sepanjang perjalanan, hati Wira sudah sangat geram. Rasa tidak sabar untuk mempermalukan Valdi.
Turun dari mobil dengan kacamata hitam yang bertengger dengan gagahnya di atas hidung mancung Wira. Dengan langkah lebar Wira memasuki cafe yang cukup luas tersebut.
Matanya liar mencari di mana Valdi berada karena katanya Valdi sudah menunggu sejak tadi. Sementara itu, Valdi yang sudah tidak sabar untuk bertemu Mawar merasa sangat berdebar.
"Ku pikir sama seperti perempuan lain yang sok jual mahal. Ternyata gampang juga mengajak dia bertemu!" ucap Valdi seakan meremehkan.
Untuk menghilangkan groginya, Valdi menyeruput minumannya.
"Aaah,...itu dia si bajingan busuk!" ujar Wira yang sudah menemukan di mana Valdi duduk.
pring,....
__ADS_1
Wira melemparkan kunci mobilnya di atas meja lalu menarik kursi dan duduk dengan santai di hadapan Valdi.
Valdi yang melihat Wira mendadak panik dan mati gerak. Sedangkan Wira hanya menatapnya dengan senyum sinis.
"Ini toh lelaki yang sejak kemarin memuji istri ku. Hemmm,...ku pikir tampan. Ternyata sama saja seperti nampan!" celetuk Wira dengan nada sedikit tinggi agar orang di sekitarnya mendengar.
"Kenapa kau yang datang?" tanya Valdi dengan bodohnya.
"Karena aku suaminya, kenapa kau mengganggu istri ku hah? apa kau tidak tahu jika istri ku sedang hamil sekarang?"
"Aku tidak ada perlu dengan mu," ujar Valdi berusaha untuk pergi tapi dengan cepat Wira menarik Valdi lalu menghadiahi wajah pria tersebut dengan cap merah.
Valdi terhuyung, jatuh menghantam meja pengunjung.
"Dasar lelaki rendahan!" cibir Wira, "kau pikir aku bodoh, kau pikir istri ku mau dengan lelaki jenis ikan lele seperti mu ini? Lihatlah,....!" Wira semakin meninggikan suaranya, "pria ini sedang berusaha menggoda istri ku, mengirim pesan manis yang sangat menjijikan. Memuji istri orang tanpa memiliki muka."
Wajah Valdi merah menahan malu, tidak masalah jika Wira menghajarnya, tapi jika di permalukan seperti ini sangat menginjak wajahnya.
"Modus menabrak istri ku di mall, mendekati di pesta dan berusaha menghancurkan rumah tangga ku. Apa kau sudah tidak laku sampai harus menyikat istri orang lain. Di banding dengan dirimu, aku jauh lebih segalanya, istri ku tidak akan tergoda dengan lelaki model ikan buntal seperti kau!"
Wira terus mengoceh, membuat para pengunjung mulai berbisik. Ada juga yang sengaja mengambil video mereka untuk di sebarkan. Valdi yang terduduk di lantai hanya bisa menunduk menahan malu. Sebenarnya Valdi sadar jika Wira bukan tandingannya. Pria ini hanya ingin membuktikan cerita dari Siila tentang Wira. Tapi apa yang dia dapat, hanya rasa malu saja.
Ketika Wira hendak memukul Valdi lagi, pria tersebut langsung kabur ketakutan. Bukan takut di hajar, tapi wajahnya sudah setebal semen yang mengering.
Melihat Valdi yang kabur, Wira hanya bisa tertawa.
"Ketemu mati kutu, giliran di chat aja banyak omong!"
Wira mengganti kerugian pada pihak cafe. Untung saja pemilik cafe baik hati tidak menuntut banyak atas keributan yang terjadi.
Dari cafe Wira langsung pergi mencari pesanan istrinya. Bukan suami baru, tapi bakpao isi coklat. Sebenarnya Wira belum puas karena belum mengumpat Valdi, tapi cukup dengan membuat Valdi malu rasanya sudah bisa membuatnya lega.
Hari itu juga, Valdi memutuskan untuk kembali ke kotanya. Video tentang dirinya dan Wira sudah tersebar, Valdi yakin dia akan di marahi oleh om nya.
Di pikir gadis kampung seperti Mawar mudah tergoda. Apa lagi Silla benar-benar menceritakan yang jelek pada dirinya.
"Silla bodoh, kenapa juga aku mau di kerjain sama dia...!" ucap Valdi marah pada sepupunya itu.
__ADS_1
Beda lagi dengan Wira, lelaki ini melihat video yang beredar. Wira merasa dirinya kurang sangar, kurang gagah saat menghajar Valdi tadi.
"Seharusnya di ulang, aku merasa kata-kata ku kurang pedas. Wira,...kau ini bodoh sekali...!!" ujar Wira yang geram pada dirinya sendiri.