Nafsu Sang Duda

Nafsu Sang Duda
Bhoncap 109


__ADS_3

Sehari dua hari Wiwi belum sadar juga, membuat Jonas mulai frustasi memikirkannya. Rasa lelah dan sesak di dada sudah bercampur terasa. Jonas harus bolak balik bergantian untuk melihat keadaan anak dan istrinya.


Wajah Wiwi sangat pucat, seperti tidak ada keinginan untuk hidup. Apa yang harus di lakukan Jonas sekarang, dia tidak tahu lagi.


"Kenapa kau memasukan semua omongan orang ke dalam hati hah? biasanya kau tidak seperti ini, aku tidak pernah mempermasalahkan segala yang ada pada mu." Jonas mencoba mengajak istrinya bicara.


"Bangun sayang, kasihan anak kita. Dia dan aku butuh kamu, aku kesepian. Ayo bangun dan mengoceh lah!"


Stres, Jonas stres merasakan ini semua. Wiwi tidak juga bergerak atau sekedar membuka mata sejenak. Hembusan nafasnya begitu pelan, membuat Jonas semakin tak karuan.


Krekk.....


Pak Thomas masuk kedalam ruangan, memberitahu Jonas bahwa rumah sakit ini telah di jaga termasuk ruangan anak dan istrinya.


Jonas pamit pergi pada istrinya untuk menyelesaikan masalah yang terjadi sekarang.


Dengan wajah dingin nampak arogan, Jonas duduk diam di dalam mobilnya yang sudah memasuki area pergudangan tua yang terbengkalai.


Dengan langkah lebar, Jonas menyusuri setiap lorong ruangannya yang gelap minim cahaya meskipun di siang hari.


Krekkk,....


Pintu besi berkarat, terbuka lebar atas perintah Jonas. Wajah pria ini semakin arogan memerah kala melihat seorang wanita tak berdaya yang sudah menyebabkan anak dan istrinya menderita.


Aaaaa......."Lepaskan aku,...!" mohon Sania saat Jonas dengan tega menjambak rambutnya.


"Kau penyebab semua ini, kau sudah membuat istri dan anak ku menderita. Jadi, untuk apa aku melepaskan mu hah?"


Suara Jonas menggelegar di ruangan kedap suara tersebut.


"Ampun,....!" ucap Sania memohon, "aku mohon ampun. Tapi, bukankah semua yang kh katakan itu kebenaran?" ujar Sania seolah menantang Jonas.


Plak,....


Jonas yang mendengarnya naik darah, tanpa memiliki rasa iba lagi pria ini menampar wajah Sania berulang kali.


Plak,...plak,....plak,....


Darah segar mengalir di sudut bibir dan hidung Sania. Wanita mengatur nafas yang hampir putus.

__ADS_1


"Masa lalu istri ku memang seperti itu adanya. Tapi, kau tidak berhak menghakimi dirinya. Siapa kau hah? apa istri ku memiliki salah pada mu?"


Sania tidak kuat untuk menjawab, rasa sakit dan perih di wajahnya mampu membungkam mulut wanita ini.


"Sudah berapa hari istri ku koma dan anak ku harus di lahir akan secara paksa. Kau harus bertanggung jawab!" ucap Jonas kembali mengajar Sania. Lelaki ini telah kehilangan akal. Tidak ada satu pun anak buah yang berani menghalanginya termasuk pak Thomas yang hanya bisa tertunduk diam.


Melihat Sania yang sudah tidak sadarkan diri, Jonas langsung bergegas pergi kembali ke rumah sakit.


"Pak Thomas, apa kau sudah menarik semua berita tentang istri ku?" tanya Jonas, "tuntut semua media yang menyebarkan aib keluarga ku kalau perlu buat mereka bangkrut!" titah Jonas yang sudah sakit hati.


"Baik tuan....!!"


"Dan satu lagi, ada delapan orang klien yang menarik saham mereka. Jika mereka minta kembali bergabung, buat perusahaan mereka hancur!"


"Baik,...!"


Pak Thomas pergi untuk melakukan semua perintah dari Jonas. Rasanya belum puas jika belum melihat orang-orang yang sudah menyebabkan istrinya menjadi seperti ini hancur.


Masih tetap sama, Wiwi belum sadar juga. Jonas hanya bisa menarik nafas panjang, duduk di samping brankar istrinya.


"Kenapa belum bangun juga hem,...kenapa kau sangat betah dengan tidur mu, apa kau tidak kasihan melihat aku sudah seperti orang gila ini?"


"Anak kita sudah semakin sehat, apa kau tidak ingin bertemu dengannya?"


Tanpa terasa air mata Jonas mengalir hangat di pipinya. Pria yang tidak pernah menangis setelah kematian kedua orangtuanya ini sejak beberapa hari terakhir berubah menjadi cengeng.


Lain cerita Jonas lain pula cerita Wira. Tiga minggu pasca istrinya melahirkan membuat Wira sudah tidak tahan lagi. Pedang berkaratnya suka bangun di jam-jam tertentu, tapi Wira tidak bisa melakukan apa pun selain. bersabar.


"Mas, ngapain?" tanya Mawar mengejutkan Wira.


"Sayang,....!" suara Wira terdengar manja.


"Astaga mas....!" Mawar terkejut saat melihat terong tua tegak berdiri dengan urat yang menonjol.


"Sayang, mas udah gak tahan!" keluh Wira yang tak berani menyentuh sang istri. Jika Wira menyentuh sedikit saja, akan membuat dirinya hilang kendali.


"Mas malu sama anak!" seru Mawar seketika menoleh ke arah baby Ar yang sedang tertidur.


Buru-buru Wira memasukan kembali burungnya ke dalam sangkar.

__ADS_1


"Perasaan waktu sangat lama sekali, sungguh membosankan!" ucap Wira yang kesal.


"Dari pada kamu di rumah galau, mending kamu pergi ke kantor atau melihat pekerjaan mu yang lain sana," usir Mawar.


Huft,....


Wira dongkol, pria ini lebih memilih pergi ke cafe Bayu untuk sekedar minum kopi. Keberuntungan, Bayu siang itu ada di sana untuk mengecek kinerja karyawan istirahat.


"Tumben sekali kau ke sini, kenapa?" tanya Bayu yang penasaran dengan wajah kusut Wira.


"Bisa gila kalau aku di rumah terus. Sudahlah puasa empat bulan, masih tiga bulan lebih. Sakit urat kepala ku!"


Bayu yang mendengar cerita Wira langsung tertawa keras mengejeknya. Untung saja mereka berdua berada di ruangan kerja milik Tia jadi bebas ingin bicara apa.


"Itu namanya kualat!" seru Bayu mencibir, "apa kau lupa jika kau pernah menakuti dulu?"


"Brengsek!" umpat Wira, "kau mengejek ku kah?"


"Ya, aku mengejek mu. Ini namanya senjata makan tuan. Salah mu sendiri, istri baru saja melahirkan sudah di buat tekdung aja."


"Aku benar-benar tidak tahan. Di tambah lagi mamah selalu saja mengontrol kamar kami setiap malam!"


Tambah keraslah tawa Bayu, ternyata bukannya dirinya yang pernah di kontrol mertua, ternyata Wira juga di jaga ketat oleh mamahnya.


"Untuk masalah ini aku tidak bisa membantu mu. Aku hanya ingin bilang nikmati saja waktu mu sekarang. Lagian, kau ini sudah punya anak dua masih saja suka begituan."


"Wah, kau ini aneh. Anak ya anak, kebutuhan ya kebutuhan beda lagi. cerita dengan kau bukannya menghilangkan sakit kepala ku malah bertambah tegang."


Wira yang kesal memutuskan untuk pulang apa lagi Bayu sangat puas menertawakannya. Sepanjang perjalanan pulang, Wira hanya bisa mengomel. Mau bagaimana lagi, semua sudah nasibnya seperti ini.


"Udah pulang mas?" sapa Mawar.


Wira langsung merebahkan diri di atas tempat tidur, menatap istrinya yang sedang menyusui baby Ar.


"Gunung ku,....!!" ucap Wira merasa iri dengan sang anak.


"Kau ini mas, masih saja!"


"Dia merampas gunung ku. Awas saja, akan ku potong lima persen warisannya!"

__ADS_1


Mawar tertawa, ada-ada saja gurauan yang di lontarkan suaminya ini. Sudah watak Wira seperti itu, Mawar hanya bisa mengimbanginya saja.


__ADS_2