
"Mas beli apa sih?" sekali lagi Mawar bertanya karena penasaran.
Wira menyeruput minumannya istrinya.
"Sudah mas bilang rahasia. Kamu ini, kepo aja deh!"
"Awas aja kamu mas!" seru Mawar bertambah kesal.
"Udah, ayo jalan lagi...!"
Mereka pergi dari Cafe, baru saja berjalan-jalan berapa langkah mata Mawar tertuju ke toko yang menjual pakaian dan mainan anak.
"Mas, sayang sama aku gak?" tanya Mawar pada suaminya.
"Iya dong, namanya istri harus di sayang lah!"
"Kita masuk kesitu yuk mas. Lihat, ada baju yang lucu buat Al...!"
Tanpa menunggu jawaban dari Wira, Mawar langsung menarik tangan suaminya masuk kedalam. Toko pakaian dan mainan, adalah surganya belanja untuk ibu-ibu.
Mawar langsung memilih pakaian yang lucu untuk anaknya. Tidak, bukan hanya Mawar, Wira juga ikut memilih mainan untuk anaknya. Baru juga sehari, mereka sudah sibuk berbelanja.
tiga paper bag dan satu mobil mainan yang cukup besar di beli mereka. Mawar dan Wira mulai bingung bagaimana membawa mobilan ini ke hotel.
"Sayang, kenapa kita membeli mainan ini?" tanya Wira bingung.
"Ya karena kita suka!" jawab Mawar dengan polosnya.
"Hehe,...iya juga ya!"
"Jadi gak sabar buat ketemu sama Al...!" ucap Mawar.
Mereka kembali ke hotel menggunakan taksi. Melihat istrinya senang, Wira jadi tahu obat apa yang harus dia berikan jika sang istri sedang sedih ingat dengan anak mereka.
Kembali turun untuk makan malam, suasana yang ramai namun romantis. Mawar bisa melihat dengan jelas jika orang-orang yang menginap di tempat ini adalah orang kaya semua.
Selesai makan malam, mereka kembali ke kamar. Mawar sibuk melihat-lihat kembali pakaian yang baru saja dia beli untuk anaknya tadi.
"Untuk mu,...!" ujar Wira memberikan barang yang dia beli sendiri tadi sore.
"Yang mas beli tadi sore?" tanya Mawar.
"Iya,...!"
Wira sedikit menjauh dari istrinya, pria ini sudah hafal betul apa yang akan terjadi selanjutnya.
"Mas,.....!"
Mata Mawar melotot.
"Kok bisa kamu gak malu beli pakaian seperti ini?" tanya Mawar tidak habis pikir.
"Buat istri, kenapa harus malu?" tanya Wira semakin membuat Mawar kesal.
__ADS_1
"Mas, astaga. Gak gitu juga kali konsepnya. Kamu beli lingerie, mana tipis banget lagi. Ya ampun mas,...!"
"Cepat ganti pakaian mu. Mas udah gak sabar mau unboxing kamu!"
"Mas,...!"
"Cepat atau gak mas....!"
Belum juga selesai Wira mengeluarkan ancamannya, Mawar sudah berlari pergi ke kamar mandi.
"Jangan kenakan pakaian dalam mu sayang!" teriak Wira dari luar.
Benar-benar tipis, Mawar jijik melihat dirinya sendiri. Suaminya ini ada-ada saja.
Mawar memegang dadanya lalu menarik ulur nafasnya, "heh, kenapa aku berdebar seperti ini?" tanya Mawar pada dirinya sendiri, "sudah berapa lama aku tidak melakukannya dengan mas Wira. Kenapa aku jadi takut sendiri?"
"Sayang, kenapa lama sekali?" tanya Wira sembari mengetuk pintu.
Tak berapa lama, Mawar keluar dengan wajah malu-malu. Mati Wira mulai liar memandang tubuh istri, liurnya hampir saja menetes membanjiri lantai melihat bukit kenyal yang di tutupi kain tipis itu.
Waras langkah perlahan, membuat sang istri berjalan mundur kebelakang hingga akhir tersandar di dinding.
Wira mengangkat dagu Mawar, menatap mata indah itu lalu meraup bibir manis istrinya. Terus memagut, bibir mereka saling bertautan mengeluarkan suara penuh cinta.
Tangan nakal Wira, jari jemarinya mulai sibuk mengabsen setiap titik yang ia rindukan selama ini.
Wira mengisap di atas dada, memberi tanda merah di sana.
uuahh.....
Woah,....Mata Mawar kembali melotot saat melihat suaminya melepaskan semua celananya.
"Kenapa sayang, apa yang kau lihat?" tanya Wira dengan senyumnya, "besarkan?"
Mawar hanya diam saja, mematung di atas tempat tidur. Wira langsung menindih istrinya, kembali mencium dengan panasnya.
Buk,....tanpa seizin istrinya, Wira berusaha menancapkan pedang tumpulnya namun tidak masuk.
"Ah, kenapa begitu sempit?"
"Pelan-pelan mas!" bisik Mawar.
"Ini sudah sangat pelan, bulu mu terlalu lebat!"
"Mas,...!" Mawar mencubit perut suaminya.
"Mas berkata jujur sayang. Jangan di babat ya, biar ada bunyi kres...kresnya...!" ujar Wira membuat Mawar malu.
Sekali lagi Wira mencoba, akhirnya masuk juga. Mawar menggeliat, mencoba beradaptasi dengan pedang tumpul suaminya yang sudah lama tidak dia rasakan.
Sudah lama tidak menggenjot, Wira masih hafal betul cara membuat istrinya merasakan kenikmatan.
Lenguhan demi lenguhan terdengar jelas dari bibir Mawar.
__ADS_1
"Mas,....!"
Mawar meremas punggung suaminya.
"Terus mas,...!"
Plok,....plok,....plok....
Semakin nyaring bunyi hentakan ini.
Suara manja seperti ini yang di rindukan Wira. Lelaki ini terus menggerakkan tubuhnya dengan tangan yang sibuk meremas. Sesekali mereka bermain lidah, mendesah bersama penuh kenikmatan.
"Oh suami ku,...!" lirih Mawar mengarahkan kepala suaminya ke salah satu bukitnya.
Wira paham betul, buru-buru lelaki ini mengisap lembut di sana.
Aaaaah,....aaaaah.....
Tubuh Mawar menegang, wanita ini baru saja mengeluarkan cairan hangat miliknya sendiri. Ketakutan yang dia rasakan tadi langsung sirna di gantikan dengan sebuah kenikmatan.
Wira memang pandai membuat istri melayang.
"Mari kita keluarkan bersama-sama," bisik Wira kembali melanjutkan aksinya.
Untuk memperlambat waktu, Wira menggunakan gaya lain. Gaya yang sangat di senanginya.
Sekarang Wira berada di bawah, Mawar yang berada di atas. Tubuh wanita ini menggeliat geli ketika Wira terus bermain di dua put*ng istrinya.
Gerakan naik turun, dengan suara kenikmatan. Mawar bisa melihat dengan jelas jika suaminya ini sangat menikmati permainannya sekarang.
"Terus sayang,...teruskan...!" ucap Wira penuh gairah.
Bak...buk...bak...buk...
Plok,...plok,...plok,.....
Bunyi indah perpaduan antara pedang tumpul dan sarung keset menimbulkan suara yang tidak bisa di jelaskan lagi.
Berganti gaya karena Mawar mulai ngos-ngosan. Untuk malam ini hanya atas dan bawah. Mawar kembali berada di bawah, mereka sudah janjian untuk keluar bersama-sama.
Tidak pernah bermain kasar, Wira selalu melakukannya dengan lembut karena itu salah satu kunci agar sang istri bisa merasakan orgasme.
"Mas,....!" lirih Mawar yang sudah hampir keluar.
"Tunggu aku sayang!" ucap Wira mulai mempercepat gerakannya.
Plok,...plok,...plok,....
Terus menggenjot menimbulkan suara yang semakin nyaring, Wira mengisap payudara istrinya hingga pada akhirnya mereka mengerang bersama-sama.
Aaaah,.....aaaah.....
Aaaah.....aaaaah....
__ADS_1
Suara mereka menggema, cairan kental hangat milik keduanya kembali menyatu penuh cinta di kamar ini, di tambah syahdunya bunyi ombak. Untuk yang pertama kali setelah melahirkan, Wira dan Mawar kembali. melakukan hubungan suami istri.