
Bayu dan Tia saling pandang, tersenyum sendiri karena malu untuk mengatakannya.
"Jika kalian tidak bicara juga, aku akan mengusir kalian berdua...!!" ujar Wira yang sudah geram dengan sikap Bayu dan Tia.
"Eh,...anu. Anu,....aku kok jadi malu ya...!" Bayu bingung sendiri.
"Anu apa?" tanya Wira, "kau ini waras apa tidak?"
"Anu itu Wir, ramuan yang kau berikan kemarin sangat manjur. Aku dan istri ku benar-benar puas...!!"
Jleb,...
Wira dan Mawar kembali saling pandang.
Tiba-tiba saja Tia mengajak Mawar bicara empat mata begitu juga dengan Bayu dan Wira.
"Mawar, kau mungkin lebih muda dari aku. Tapi, sepertinya kalau masalah ranjang aku harus berguru pada mu!"
Mawar tercengang, wanita ini masih mencoba mencerna kata-kata Tia.
"Untuk pertama kalinya aku bisa keluar. Sumpah, itu membuat ku candu. Tiga tahun menikah dengan Bayu, baru tadi malam aku bisa merasakan bersenggama. Apa kau di buat seperti ini juga jika sedang di goyang Wira?"
Mawar menggaruk kepalanya tak gatal.
"Aduh mbak, gimana ya ngomongnya? aku kok malu!"
"Udah, gak usah malu. Di sini gak ada siapa-siapa termasuk mertua mu."
"Tapi, tetap saja aku malu!"
"Udah ah, kita sama-sama perempuan. Bagi resep dong!"
"Resep apa sih mbak?" tanya Mawar kembali bingung.
"Anu, jika kamu dan Wira sedang kikuk-kikuk, apa yang kamu lakukan?"
"Ya gitu, goyang terus."
"Goyangnya bagaimana?" Tia terus mendesak Mawar.
"Kadang aku di atas kadang aku di bawah. Keluar apa gak itu semua tergantung permainan pak suami."
Plak,....
Tia menghantupkan kepalan tangan kanannya ke tangan kiri.
"Berarti, selama ini suami ku saja yang tidak bisa bermain. Awas saja dia, mau enaknya saja!" ucap Tia dengan wajah geram dan kesal.
__ADS_1
Sedangkan Bayu dan Wira, sama juga membahas masalah ranjang.
"Kenapa aku tidak berguru dari mu sejak lama ya?"
"Kau saja yang bodoh!" ledek Wira, "semakin kau membuat istri mu puas, akan semakin menurut dia pada mu."
"Cepat, beri aku arahan!" Bayu memohon pada Wira.
Dengan wajah sombong Wira melipat kedua tanganya ke dada.
"Apa kau pernah bermain di kamar mandi?" tanya Wira.
"Pernah, tapi Tia tidak mau. Katanya tidak enak!"
"Kau saja yang bodoh, tidak tahu bermain. Harusnya Tia menceraikan mu dan mencari suami yang pandai menggoyang seperti aku!"
"Brengsek!" umpat Bayu kesal, "terus saja mengejek ku!"
"Aku benar, nyatanya memang seperti itu."
"Cepat beri tahu aku,!"
"Lakukan di gaya menempel di dinding. Di bawah shower dan di dalam bathtub. Remas terus, isap terus susu istri mu. Gerayangi tubuhnya aku yakin dia akan meleleh pada mu."
"Ah, benar apa tidak omongan mu ini?" Bayu malah tidak percaya.
Terus mengobrol, pada akhirnya Bayu dan Tia pamit pulang juga. Mawar bisa bernafas lega, kepulangan Bayu dan Tia langsung membuat otaknya kembali normal.
"Mereka sudah gila. Hal tabu seperti ini bisa-bisanya tanya pada kita."
"Wajar saja, mereka baru merasakan nikmatnya bercinta. Sayang, kau harus bangga pada suami mu ini yang bisa membuat mu melayang terus."
"Mas, sudah ya. Otak ku sudah kotor karena kalian. Biarkan aku istirahat!"
Bukannya menurut omongan sang istri, Wira malah menggodanya. Memeluk Mawar dari belakang dan iseng menyentuh put*ng istrinya hingga membuat Mawar melenguh.
"Mas,...aku kan jadi ingin...!!"
Aneh, semakin besar usia kandungan Mawar semakin besar pula hasratnya.
Wira memang pandai merayu, siang ini tanpa rencana mereka bercinta. Hanya satu kali, yang terpenting Mawar puas.
"Kasian kalian, aku buang terus...!" ucap Wira pada cairan yang baru saja dia lap menggunakan tisu.
Mawar yang mendengar ucapan suaminya hanya bisa bergeleng kepala. Setelah membersihkan diri, Mawar beristirahat sejenak sedangkan suaminya melanjutkan pekerjaan yang sempat tertunda di ruang kerja.
Kembali pada Bayu dan Tia, sepulangnya dari rumah Wira sepasang suami istri ini langsung praktek.
__ADS_1
Namanya juga baru merasakan, jadi Bayu dan Tia yang ketagihan ingin lagi dan lagi bahkan mereka rela meninggalkan pekerjaan mereka.
Hari ke hari terus berganti, kehidupan rumah tangga Wira dan Mawar sangat bahagia apa lagi sekarang sudah tidak ada lagi yang mengganggu mereka.
Usia kandungan Mawar sudah memasuki bukan ke tujuh, sebentar lagi akan di adakan acara tujuh bulanan. Asti pulang, mempersiapkan segala keperluan anak-anaknya.
Meskipun tubuhnya lelah, namun wanita ini sangat bahagia menjalani kehidupannya. Harus merawat sang kakak yang sedang sakit adalah bentuk pengabdian Asti pada kakaknya.
"Kalian gak usah repot-repot beli perlengkapan bayi. Sepupu Wira semuanya udah pada beliin," ujar Asti memberitahu.
"Lain kali gak usah mah, kasihan mamah jika harus bawa barang banyak dan berat."
"Ah, gak apa-apa demi cucu. Setelah Mawar lahiran, mamah gak ke tempat tante lagi kok."
"Loh, kenapa mah? apa tante udah sembuh?" tanya Wira penasaran.
"Anak pertama tante mu udah memulai untuk berhenti dari pekerjaan dan fokus merawat tante mu. Lagian masih ada adik-adiknya yang bisa mengelola perusahan."
"Kenapa tidak mencari perawat saja mah?" tanya Mawar.
"Suaminya gak percaya, udah pernah satu kali malah tante kalian di gampar hanya karena gak mau minum obat."
"Ya ampun, jahat sekali...!" ucap Mawar yang tiba-tiba teringat dengan almarhum Andini, "Andini sakit sejak kecil dan tidak bisa ngapain-ngapain. Tapi, aku tidak pernah sekali pun memukulnya."
"Kamu mah beda sayang, makanya mas bisa jatuh cinta sama kamu!"
"Heleh,...kamu mah asal ngajak anak orang nikah aja. Untungnya Mawar mau sama kamu, kalau gak gimana coba?"
"Kalau gak Mawar bakal jadi istri keempat pak Agus. Menggelikan...!!" Sahut Wira membuat Mawar kesal.
"Mah, mas Wira suka mengejek ku.Menyebalkan!"
"Cabut saja bulu kakinya, pasti dia akan menangis...!!"
Asti tidak mau menanggapi anak dan menantunya ini, bisa gila sendiri jika meladeni Wira yang sekarang.
Wira yang dulu sangat pendiam sejak kepergian Dania. Sikapnya berubah menjadi dingin dan cuek pada setiap wanita. Entah jampe-jampe apa yang di berikan Mawar sehingga lelaki ini bisa luluh padanya.
"Mas, berhenti menggoda ku!" Mawar kesal.
"Tusuk-tusuk mas dengan duri kamu dong sayang. Kalau gak remas aja batang mas...!!" Wira semakin menggoda istrinya.
"Mas,...Ya Tuhan, jangan sampai ku seperti bapaknya!"
"Eh,...eh,....kalau gak seperti mas mau seperti siapa? pak Agus....?"
Aaaaa....
__ADS_1
Mawar yang kesal menarik bulu kaki suaminya lalu mempelintir kumis tipis yang belum sempat di cukur hingga membuat Wira berguling-guling di lantai. Tidak mau menolong, Mawar langsung masuk kedalam kamarnya.