Nafsu Sang Duda

Nafsu Sang Duda
Chapter 55


__ADS_3

Buk,.....


Aaaaa.......


"Mas,......!!" lirih Mawar dengan menahan rasa sakit di perutnya.


"Hahaha,....mampus kau!" ucap Bambang dengan sengaja menabrak Mawar dengan sepeda motornya yang baru saja keluar dari dalam mobil hendak menyusul suaminya ke dalam minimarket.


Bambang sangat mengenali mobil Wira, ketika di lampu merah pria tua ini tidak sengaja melihatnya lalu mengikuti mobil Wira menggunakan sepeda motor miliknya.


Darah segar mengalir dari sela kaki Mawar, wajahnya langsung pucat dan keringat mulai mengalir.


Wira yang melihat istrinya tergeletak dengan di pangku seorang ibu-ibu langsung membuang barang belanjaan begitu saja.


"Mawar, kau kenapa hah?"


Paniklah Wira.


Melihat darah merah, Wira bergegas memasukan sang istri kembali ke dalam mobil dan pergi menuju rumah sakit.


"Mas, cepat mas. Aku sudah tidak tahan lagi....!" lirih Mawar terus meremas perutnya yang sakit.


"Sabar sayang, sebentar lagi. Sabar,...bertahanlah demi anak kita!"


Tak berapa lama Wira tiba di rumah sakit, lelaki ini terus berteriak hingga membuat gaduh rumah sakit.


"Cepat tolong istri ku!" teriak Wira.


Mawar langsung di pindahkan ke brankar lalu menuju ruang UGD.


"Maaf pak, tunggu di luar ya!" perawat menahan Wira.


"Tolong selamatkan istri dan anak ku!" ucap Wira dengan suara bergetar. Air matanya mengalir begitu saja, Wira takut jika masa lalu terulang kembali.


Modar mandir di depan ruangan seorang diri. Tak berapa lama Asti datang bersama pak Norman. Wira langsung memeluk mamahnya, menangis di sana.


"Mah, aku gak mau kehilangan Mawar dan anak ku. Cukuplah aku kehilangan Dania dan anak ku. Kenapa sekarang harus Mawar lagi?"


"Sabar Wira, berdoa yang terbaik untuk anak istri mu. Sebenarnya Mawar kenapa?" tanya Asti penasaran.


"Aku juga tidak tahu kejadian pastinya mah. Saat aku keluar dari minimarket Mawar sudah tergeletak dan mengeluarkan darah," jelas Wira.


"Kok bisa, kamu ini teledor atau bagaimana?"

__ADS_1


"Pak Norman, tolong kembali ke minimarket xxx, cek semua rekaman cctv. Cari tahu siapa yang sudah menyebabkan istri ku celaka!" titah Wira pada pak Norman.


"Baik mas!"


Satu jam, dua jam berlalu Dokter belum juga keluar memberi kabar. Wira yang sejak tadi gelisah dan khawatir terus wira wiri di depan ruangan.


"Duduk nak, berdoa. Jangan seperti itu," tegur Asti.


"Mawar mah. Kenapa Dokter lama sekali?"


"Sabar Wira. Mungkin saja Dokter masih menangani Mawar."


Buk,....


Tiba-tiba saja Wira menonjok dinding ruang tersebut. Buku tangannya berdarah, membuat Asti panik.


"Wira, kenapa kau ini hah? jangan seperti ini." Asti menarik anaknya lalu memeluk Wira.


"Aku tidak ingin kehilangan istri dan anak ku untuk kedua kalinya mah. Aku suami dan ayah yang gagal."


Lelaki itu kembali menangis dalam pelukan sang mamah. Asti mengusap air matanya, dalam hatinya selalu berdoa yang terbaik untuk Mawar. Asti tidak ingin melihat Wira terpuruk untuk yang kedua kalinya lagi.


Rasa sakit dan perih di tangan Wira sudah tidak dia rasakan lagi. Wira hanya terbayang wajah kesakitan Mawar tadi.


Plak,....


Wira menampar wajahnya sendiri.


"Wira,....hentikan nak. Jangan seperti ini,"


Asti tidak bisa menenangkan Wira seorang diri. Dirinya langsung menghubungi Bayu yang di kenal Asti sebagai sahabat dekat Wira. Untung saja Jarak rumah sakit dengan kantor Bayu tidak terlalu jauh. Hanya butuh waktu lima menit. Bayu juga menghubungi Tia, menyuruh sang istri untuk menyusul ke rumah sakit.


Bayu dapat melihat dengan jelas mata sembab dan wajah merah Wira karena pria ini memukul dirinya sendiri.


"Jangan bodoh Wira, kau boleh khawatir dan panik. Tapi jangan menyakiti diri mu sendiri," ucap Bayu mengingatkan.


"Aku gagal menjaga istri ku lagi. Dulu Dania, sekarang Mawar!" keluh Wira.


Hampir tiga jam, tak satu pun Dokter maupun perawat yang keluar dari dalam sana.


"Mawar ku....!!" lirih Wira yang terduduk lemas di lantai rumah sakit.


Tia yang sudah datang juga menenangkan Asti.

__ADS_1


"Semoga Mawar dan anaknya baik-baik saja. Semoga kejadian di masa lalu tidak terulang kembali," mohon Asti.


"Amin, tante yang sabar!" Tia terus menggenggam tangan Asti.


Setelah sekian jam, Dokter akhirnya keluar. Wira hampir saja terpeleset menghampiri Dokter.


"Bagaimana keadaan istri dan anak ku Dok?" tanya Wira.


"Sebaiknya kita bicara di ruangan!"


Mereka kemudian pergi ke ruangan Dokter. Wira belum siap jika harus mendengar kabar yang akan membuatnya hancur yang kedua kali.


"Cepat jelaskan Dok!" pinta Wira mendesak.


"Kecelakaan yang di alami istri pak Wira membuat kami terpaksa melakukan operasi mendadak untuk menyelamatkan anak dan ibunya."


"Tapi, usia kandungan istri ku baru tujuh bulan Dok. Kenapa harus di keluarkan?"


"Pendarahan hebat yang di alami istri anda cukup fatal. Jadi, kami memutuskan untuk melahirkannya sekarang. Jika tidak, bisa saja keduanya tidak akan selamat."


"Lalu, bagaimana keadaan istri dan anak ku Dok?"


"Mereka selamat!" jawab Dokter langsung membuat Wira dan yang lainnya bisa bernafas lega.


"Apa aku boleh melihat anak dan istri ku?" tanya Wira tidak sabaran.


"Pak Wira bisa melihat istri anda. Tapi, untuk sekarang anak bapak belum bisa di lihat karena masih di lakukan penanganan secara khusus. Jadi, kami harap pak Wira dan keluarga bisa bersabar sampai anak bapak sehat."


Sedihlah hati Wira, anak yang di impikan dan di tunggu kelahirannya tidak bisa di gendong sekarang.


Atas izin Dokter, Wira bisa melihat anaknya yang di lahirkan secara paksa tersebut. Dari balik dinding kaca, Wira melihat bayi mungil tersebut di tempel beberapa alat medis. Air mata pria ini kembali basah, hati Wira hancur ketika melihat anaknya yang lemah tak berdaya.


"Ayo berjuang sayang. Ayo berjuang demi mamah dan papah. Kau anak kuat, papah yakin kau anak kuat," ucap Wira dengan suara bergetar, "maaf tidak bisa menggendong mu di hari pertama kelahiran mu. Papah janji akan selalu menggendong mu setelah kau sehat nanti. Berjuang sayang, papah dan mamah sayang kamu."


Tidak bisa berlama-lama, perawat bahkan mendorong Wira dengan paksa untuk keluar dari ruangan khusus tersebut.


Wira menghapus air matanya kasar, hatinya hancur namun langkahnya harus tetap kuat.


Klek,....


Wira membuka pintu dan terjeda sejenak di depan sana. Pria ini menarik nafas dalam, menguatkan hati untuk melihat sang istri.


Dengan langkah lemas, Wira masuk kedalam ruangan. Melihat sang istri dengan wajah pucat dan belum sadarkan diri. Hati Wira remuk redam, lelaki ini kembali ingat wajah pucat pasi almarhum Dania yang pergi meninggalkannya dulu.

__ADS_1


Wira meraih tangan istrinya, menggenggam lembut lalu menangis di sana. Bahkan air mata lelaki ini sudah membasahi punggung tangan Mawar.


__ADS_2